Model Pot jadi Daya Tarik

Model Pot jadi Daya Tarik

  Jumat, 20 May 2016 10:22
ES KRIM POT : Alvin Edison(25) bersama gerobak usaha “Kedai Jenggot”nya saat bertandang dalam sebuah bazzar di Rumah Radakng Pontianak. (istimewa)

Jualan es krim di cuaca panas Kota Khatulistiwa ini merupakan peluang usaha menjanjikan. Peluang bisnis ini semakin terbuka lebar jika pelaku usahanya mampu menyuguhkan keunikan tertentu selain rasa dingin yang menyegarkan. Apalagi warga kota yang selalu ingin mencicipi kuliner unik. Peluang inilah yang digarap Alvin Edison(25), dan adiknya Waren Cris(20) dengan tren uniknya menghadirkan segarnya es krim.

MIFTAHUL KHAIR, Pontianak

JIWA pengusaha yang melekat pada diri pemuda ini berawal dari pengalaman dan keberanian membuat keputusan penting. Dengan modal pengalaman yang ada Alvin Edison pun memberanikan diri berbisnis kuliner es krim. 

Ia melihat, peluang bisnis ini cukup menjanjikan. Apalagi warga kota sangat menggemari kuliner makanan penutup atau yang biasa disebut dessert ini. Ide brilian yang tak kunjung habis dari kepalanya pun sejalan memperlancar sektor usaha ini.

Dari pengalaman dan pemikiran kreatifnya, maka Alvin panggilan akrabnya, mencoba menghadirkan keunikan dari es krimnya. Ternyata, idenya itu mampu menghantarkan warga Pontianak, berbondong merasakan es krim buatannya. Dia menyajikan es krim dengan tampilan seperti pot, lengkap dengan tanamannya. 

Bersama adiknya Waren Cris(20), ia memulai usaha eskrim dengan tampilan uniknya sejak Mei 2015 lalu. “Dari awal kami selalu ingin melahirkan sesuatu yang unik dan tentunya baru,” ungkap Alvin, panggilan karibnya kepada Pontianak Post Rabu (18/5) malam.

Cerita perjalanan usaha es krimnya dimulai ketika ia masih duduk di bangku kuliah di sebuah universitas swasta di Jakarta. Ia mulai memasuki dunia usaha sejak masih semester tiga. “Waktu itu mulai berani usaha ya karena uang kiriman yang minim,” katanya.

Kala itu ia memulai usaha percetakan gelas mug. Dari usaha rintisannya itu, ia bahkan memroduksi hasilk cetakan mug cukup besar setelah berjalan beberapa tahun. Bahkan ada klien yang datang padanya, dari perusahaan besar. “Karena dari dulu, pikiran saya kuliah itu sebagai tonggak awal menjalankan usaha,” lanjutnya.

Namun, awal 2015 lalu, ia terpaksa pulang ke Pontianak lantaran mendiang ayahnya sakit. Setelah itu ia pun berpikir, ia tidak akan lagi bisa menjalankan bisnis percetakan mugnya. Ia pun lalu meninggalkan usaha percetakan mugnya kepada salah satu kakaknya.

Sambil mengisi waktu di kota kelahirannya ini, Alvin berdiskusi dengan adiknya untuk menjalankan bisnis baru. Dari perbincangan kedua bersaudara itulah muncul ide berjualan kuliner. Maka lahirlah “Kedai Jenggot”. Mereka lalu memutuskan untuk memilih es krim sebagai produk utama. “Tapi kami tidak mau es krim biasa, kita maunya sajikan sesuatu yang beda,” ungkap Alvin. 

Bahan dasarnya tetap es krim. Tetapi divariasikan dengan sesuatu yang beda. Sesuatu yang belum ada. “Kami hadirkanlah Pot Ice Cream, pertama di Pontianak,” jelasnya.

Setali tiga uang, tampilan penyajian yang unik dari es krimnya mendapat respon luar biasa dari masyarakat. Terutama anak muda. Keunikannya itu membuat anak muda kota penasaran untuk segera mencicipi es krim satu ini.

“Kok ada es krim yang begitu?” kata Alvin menceritakan pelanggannya yang penasaran. Awalnya banyak yang salah sangka dengan es krimnya. Masyarakat mengira itu bukanlah eskrim.“Lalu kami jelaskan perlahan tentang produk itu,” lanjutnya.

Berjalan hampir setahun, menurutnya usahanya sudah balik modal pada bulan kedelapan. Butuh waktu cukup lama karena usahanya itu dijalankan di sebuah ruko. Biaya sewa ruko yang dirasanya cukup besar menjadi salah satu penyebab. 

Bahkan untuk saat ini, ia sedang tidak memiliki tempat berjualan tetap lantaran biaya sewa ruko yang naik. “Sementara kita manfaatkan pameran dan bazar yang ada di Pontianak,” kata Alvin.

Modal awal untuk eskrim pun cukup tinggi. Selain biaya sewa ruko, mesin pembuat es krim memiliki harga tinggi. Sebuah mesin pembuat es krim yang dapat memproduksi satu gentong es krim berkisar di angka Rp.15juta hingga Rp.20juta.

Setelah itu, modal produksi lainnya ialah tempat atau wadah eskrim. Pot es krim yang digunakan Kedai Jenggot milik Alvin dan adiknya menggunakan wadah pot yang memang digunakan untuk makanan. Ia memasok wadah es krim tersebut dari salah satu kota di Indonesia. Ia pun diharuskan memesan hingga 5000 wadah pot sekali pesan.

Ia melanjutkan, hal itu disebabkan spesifikasi wadah yang cukup sulit didapat. Sang produsen wadah pun baru berani memproduksi bila ada pesanan dalam jumlah besar.

Setelah es krim pot yang mulai digemari warga kota, ia dan adiknya lalu memikirkan ide baru. “Apalagi yang bisa ditambah dan diadopsi ke Pontianak,” ucapnya. Lalu beberapa minggu awal setelah es krim pot, muncullah fish ice cream.

Ia mengatakan, salah satu yang menjadi kunci keberhasilan usahanya ialah inovasi ide. Ia mengakui, kini para pelanggan datang dari anak muda yang selalu haus inovasi agar mereka tidak bosan. “Begitu sebuah menu dirasa sudah lewat masanya, akan ada menu baru lagi. Begitu seterusnya,” tutur Alvin.

Kedepan ia berencana akan melimpahkan usaha es krim ini kepada adiknya. Ia merasa saat ini sang adik sudah cukup siap melanjutkan. Selain itu, ia pun masih harus melanjutkan usaha keluarga berupa toko buah-buahan di Jalan Gajahmada.(*)