Mochtar Riady; Tiongkok Tetap Kuat, Indonesia di Jalur Tepat

Mochtar Riady; Tiongkok Tetap Kuat, Indonesia di Jalur Tepat

  Minggu, 31 January 2016 14:04

Lesatan ekonomi Tiongkok dalam dua dekade terakhir telah mengubah peta kekuatan ekonomi global. Indonesia pun bakal amat terpengaruh oleh tensi dari negara dengan kue ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.

MATA pelaku ekonomi pun tak henti memelototi gelagat negara berpenduduk 1,3 miliar jiwa  itu. Sebab, dampak ekonominya akan dirasakan seluruh dunia, termasuk Indonesia karena Tiongkok adalah mitra dagang utama. Pergerakan harga komoditas pertambangan maupun perkebunan yang memengaruhi kinerja ekspor dan ekonomi Indonesia berkorelasi dengan fluktuasi ekonomi pemilik mata uang yuan/renminbi tersebut.

Mochtar Riady sedikit mengernyitkan dahi saat ditanya perihal masa depan ekonomi Tiongkok yang kini terbelit perlambatan. ”Ekonomi Tiongkok masih kuat. Mereka baik-baik saja,” ujarnya di sela peluncuran otobiografinya di Jakarta baru-baru ini.

Taipan pendiri Lippo Group itu mengakui, banyak analisis yang menyebut ekonomi Tiongkok sudah terlalu panas (overheat) karena terlalu banyaknya investasi (overinvestment). Akibatnya, kini pemerintah Tiongkok sengaja mengerem laju pertumbuhan ekonomi untuk menghindari gejolak. ”Tapi, saya kira ini bentuk kehati-hatian mereka saja,” katanya.

Konglomerat kelahiran Batu, Jawa Timur, 12 Mei 1929 itu memang sosok tepat untuk bicara tentang ekonomi Tiongkok. Dia menyelami ekonomi negara tersebut sejak 1970-an dan menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh penting Tiongkok. Salah satunya Xi Jinping, presiden Tiongkok saat ini.

Bahkan, saat masih menjabat gubernur Provinsi Fujian, Xi, yang kagum dengan visi Mochtar pada pembangunan ekonomi berkelanjutan, mengangkatnya sebagai penasihat ekonomi internasional Provinsi Fujian.

Karena itu, ketika banyak orang mulai meragukan kemampuan Tiongkok untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonominya, Mochtar tak kehilangan sedikit pun optimisme terhadap negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia itu. ”Sebab, saya melihat dan merasakan sendiri geliat ekonominya,” ucap konglomerat yang dinobatkan oleh Forbes sebagai orang terkaya kesembilan di Indonesia dengan pundi-pundi USD 2,1 miliar atau sekitar Rp 29 triliun tersebut.

Mochtar tidak melihat adanya overkapasitas dari proyek-proyek infrastruktur yang dibangun Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir, mulai pelabuhan, bandara, tol, hingga jaringan kereta cepat. ”Semua dibangun begitu raksasa,” katanya, mengomentari maraknya megaproyek di Tiongkok.

Dia menceritakan, pelabuhan-pelabuhan di Tiongkok selalu penuh. Bandara juga dijubeli jutaan manusia, tol dipadati mobil, dan orang masih harus antre panjang untuk menggunakan moda transportasi kereta cepat. ”Jadi, tidak ada overkapasitas. Itu saya lihat dengan mata kepala sendiri,” ucapnya.

Sementara itu, terkait dengan analisis bahwa Tiongkok berpotensi masuk jebakan ekonomi kelas menengah (middle income trap), banker yang bersama Liem Sioe Liong membesarkan Bank Central Asia (BCA) itu menyatakan, kecil kemungkinan ancaman middle income trap, kondisi di mana sebuah negeri gagal lepas landas menjadi negara maju, pada Tiongkok menjadi kenyataan. ”Sebab, ekonomi Tiongkok tidak bergantung besarnya industri manufaktur saja, tapi juga sudah masuk industri teknologi informasi (TI). Jadi, kelasnya sudah lebih tinggi,” ujarnya.

Menurut Mochtar, industri berbasis TI paling kebal krisis. Dia mencontohkan, ketika ekonomi Amerika Serikat limbung dihajar krisis subprime mortgage pada 2008, hampir semua industri ikut sempoyongan, kecuali industri TI. Sebab, kebutuhan dunia terhadap TI terus naik. Karena itu, Microsoft, Intel, dan perusahaan lain tetap menangguk untung segunung. ”Setiap pagi, ketika kita membuka komputer atau HP, berarti kita bayar ke Intel atau Microsoft,” sebut dia.

Demikian pula industri digital semacam situs online Amazon, jejaring sosial Facebook, mesin pencari Google, dan masih banyak lagi yang bukannya surut, tapi justru terus melesat. ”Hebatnya Tiongkok, mereka mengembangkan teknologi serupa. Bahkan, banyak di antaranya yang kini lebih besar daripada perusahaan di Amerika,” katanya.

Di bidang teknologi cip komputer, dominasi Intel diproyeksikan akan digerogoti Huawei yang kian inovatif dan agresif. Untuk menyaingi Amazon, Tiongkok punya Alibaba yang kini lebih raksasa. Sistem bisnis Facebook dan Google pun disaingi Weibo dan Baidu. Dengan jumlah 1,3 miliar penduduk, menguasai pasar domestik saja sudah menjadikan perusahaan-perusahaan Tiongkok raksasa dalam skala global. ”Dalam beberapa waktu ke depan, industri TI akan jadi pilar penting ekonomi Tiongkok, seperti di Amerika,” ucap taipan dengan bisnis properti yang tersebar di seantero Indonesia, Singapura, Tiongkok, hingga AS tersebut.

Dengan berbagai fakta itu, Mochtar mengatakan bahwa perlambatan ekonomi Tiongkok hanya bersifat sementara dan akan kembali pulih. Karena itu, embusan angin haluan dari Tiongkok yang kini menghambat laju bahtera perekonomian Indonesia akan berganti menjadi angin buritan yang mendorong ekonomi Indonesia untuk melaju lebih kencang. ”Artinya, ini positif bagi Indonesia,” tegasnya.

Meski demikian, lanjut Mochtar, Indonesia masih punya banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan. Salah satu yang utama adalah ekonomi biaya tinggi. ”Di era kompetisi, ini menjadi titik lemah produk Indonesia,” ucapnya.

Sosok yang kini getol membangun rumah sakit dengan bendera Siloam Hospitals di berbagai wilayah Indonesia itu menyebut, high cost economy (ekonomi biaya tinggi) muncul karena dua faktor. Yakni, berbelitnya birokrasi atau regulasi dan minimnya infrastruktur.

Dia mencontohkan kasus di industri otomotif. Saat ini sebagian besar pabrik perakitan mobil dan sepeda motor berada di kawasan industri Cikarang atau Karawang. Sementara itu, sumber pasokan baja dari Krakatau Steel berada di Cilegon. ”Bukan hanya jauhnya yang 150 kilometer, tapi juga macetnya yang luar biasa,” ujarnya.

Tak berhenti di situ. Setelah diproduksi, mobil dan sepeda motor tersebut dikirim ke berbagai daerah atau diekspor melalui Pelabuhan Tanjung Priok. Selain jarak yang jauh, kemacetan sudah menyergap di sepanjang jalan, termasuk antrean panjang setelah masuk ke pelabuhan. ”Mestinya, dari dulu dibangun jalur kereta dari Cikarang yang masuk ke dalam Pelabuhan Tanjung Priok, tapi nyatanya sulit terealisasi karena ada saja yang menghambat,” katanya.

Kendala inefisiensi pemicu high cost economy tersebut juga terjadi di banyak industri lain. Karena itu, pengusaha yang berkawan dekat dengan mantan Presiden AS Bill Clinton tersebut gembira saat pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla serius melakukan berbagai deregulasi melalui paket-paket kebijakan ekonomi. Apalagi, pembangunan besar-besaran juga dilakukan di berbagai wilayah untuk mengejar ketertinggalan infrastruktur. ”Artinya, Indonesia sudah berada di jalur yang tepat,” tegasnya, lantas tersenyum lebar.

Mochtar menyebut, jika langkah deregulasi untuk memangkas berbelitnya perizinan investasi dan pembangunan infrastruktur konsisten dilakukan pemerintah dalam beberapa tahun ke depan, iklim investasi akan meningkat signifikan serta menjadi landasan bagi ekonomi untuk melesat lebih tinggi. ”Saya makin yakin, Indonesia akan jadi kekuatan ekonomi yang hebat, tak hanya di Asia, tapi juga dunia,” ucap dia. (owi/c11/sof)