Mochammad Arianto Pribadi, Si Jangkung dari Pejangkungan

Mochammad Arianto Pribadi, Si Jangkung dari Pejangkungan

  Sabtu, 8 Oktober 2016 21:46
FOTO Chandra Satwika/Jawa Pos

Berita Terkait

SANTAI  betul Mochammad Arianto Pribadi Jumat siang (7/10). Dia duduk santai di depan rumahnya di Desa Pejangkungan, Kecamatan Prambon, Sidoarjo. Kuncung, sapaannya, tak punya kesibukan. Dia juga tidak bekerja.

Melihat tim Jawa Pos Group datang, dia langsung berdiri. Alamak, semua harus mendongak. Tubuhnya menjulang, membuat tim koran ini bak kurcaci.

Perlahan, kakinya dilangkahkan menuju rumahnya yang berukuran 4,5 meter x 27 meter. Terasa sekali bahwa Arianto berjalan dengan hati-hati. Sebab, katanya, kaki itu pernah ”oleng” lantaran terkena diabetes.

”Mari semuanya masuk,” ujar lelaki 26 tahun itu. Suaranya biasa. Tidak berat dan dalam sebagaimana gambaran orang-orang besar dalam film-film.

Arianto harus masuk rumah sambil membungkuk. Betapa tidak, pintu rumah bersahaja itu hanya setinggi pundaknya. Kepala Arianto pun hampir menyundul atap rumah bagian depan.

Sebelum duduk di ruang tamu, Arianto menjabat tangan Jawa Pos. Amboi... Tangan itu hampir tidak bisa dijabat. Saking besarnya. Bayangkan, ukuran telapak tangan Arianto adalah 26 sentimeter, dari pergelangan hingga ujung jari tengah. Selembar uang Rp 50 ribu pun jadi seperti duit mainan di tangannya.

Memang, ukuran Arianto termasuk spesial. Tingginya mencapai 220 sentimeter dengan berat 130 kilogram. Bandingkan dengan orang tertinggi di Indonesia sepanjang sejarah yang tingginya 242 sentimeter. Tapi, Suparwono, orang tersebut, sudah meninggal pada 2012. Kini, yang disebut-sebut sebagai orang tertinggi di Indonesia adalah Abdul Rasyid alias Rasyid Monas dari Jakarta. Badannya menjulang hingga 219 sentimeter. Satu sentimeter di bawah Arianto.

Dengan ukuran istimewa itu, Arianto sejatinya menjalani hidup yang tidak mudah. Semuanya terlihat tidak biasa. Serbabesar, serbatinggi, serbapanjang. Untuk celana, misalnya, dia memiliki penjahit langganan di wilayah Kecamatan Prambon, Sidoarjo.

Untuk menjahitkan satu celana, Arianto harus menghabiskan kain sepanjang 3 meter. Sepatu dan sandal harus dipesan khusus di Cirebon. ”Kalau kaus, enggak ada di pasar. Adanya di swalayan besar. Itu pun ukurannya XXXXL. Masih ngapret lagi,” ceritanya sambil duduk di kursi spons ruang tamu. Begitu besarnya Arianto sampai ketika duduk pun masih terasa sangat besar.

Sembari Arianto bercerita, kami diajak berkeliling di dalam rumah. Ada empat kamar di rumah itu plus satu dapur. Ada juga ruang kosong di balik ruang tamu.

Nah, masing-masing itu hanya berukuran 2 meter x 2 meter. Kok? Kan enggak cukup untuk tinggi Arianto? Lalu, apakah dia tidur dalam posisi diagonal di lantai kamar?

”Saya memang enggak tidur di kamar. Tidurnya di karpet di belakang ruang tamu,” ujarnya. ((Firma Zuhdi/c6/dos)

Berita Terkait