Mobil Anggota DPRD Kalbar Dikempiskan

Mobil Anggota DPRD Kalbar Dikempiskan

  Jumat, 18 November 2016 09:29
DIKEMPESKAN: Petugas mengempeskan ban mobil milik anggota DPRD Kalbar yang menyalahi aturan perparkiran di Jalan Agus Salim, Pontianak. ISTIMEWA

Berita Terkait

Korban Aturan Parkir 

PONTIANAK — Tindak tegas petugas lapangan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kota Pontianak menegakan aturan memakan korban. Kali ini, dialami Ketua Komisi III DPRD Kalbar, Mulyadi Haji Yamin dengan Syarif Izhar Asyuri, mantan anggota DPRD Kalbar. Saat memarkirkan mobil di Jalan Agus Salim, Pontianak, Kamis (17/11) pagi, petugas mengempiskan kendaraan keduanya.

Mulyadi kemudian melancarkan protesnya. Dia menilai bahwa petugas dari Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kota Pontianak sewenang-wenang mengempeskan ban mobil yang terparkir. 

“Padahal mobil tersebut terpakir di tempat parkir yang sudah ditentukan. Ada tukang parkir yang menggiring mobil tersebut. Sementara tanpa kompromi petugas dishub langsung mengempiskan ban mobil. Harusnya beritahukan dahulu ke pemilik mobil. Apalagi pemiliknya ada di dekat situ dan tukang parkirnya tahu,” ujar Mulyadi.

Seandainya mobil tersebut dikempeskan ban depannya karena parkir di badan jalan, tentunya tidak menjadi masalah. Politisi Golkar Kalbar ini sangat mendukung aturan perwanya. 

“Sudah sesuai aturan. Kendaraan roda empat tidak boleh parkir di badan jalan. Sebab akan mengganggu ketertiban lalu lintas termasuk pemakai keselamatan pengguna jalan,” ujarnya sambil menceritakan bahwa hanya berapa sentimeter saja, bodi (bemper) belakang mobilnya keluar dari garis parkir. 

Ia merasa kecewa karena petugas langsung mengempeskan tanpa melakukan pemberitahuan. “Saya katakan, oknum petugas Dishub Kota Pontianak jangan sewenang-wenang langsung mengkempeskan mobil. Bagaimana dengan masyarakat yang ingin cepat, padahal sudah parkir di tempatnya," tuturnya.

Di tempat yang sama, mantan Anggota DPRD Kalbar, Syarif Izhar Asyuri juga mengalami kejadian serupa. Ban mobilnya juga dikempiskan petugas dari Dishub Kota Pontianak. “Padahal mobil saya sudah mentok dan tak bisa maju lagi. Sementara mobil teman saya pak Mulyadi malah memang agak lebih melewati garis tapi hanya berapa sentimeter dari garis parkir," ungkap Izhar. 

Izhar merasa kecewa karena tukang parkir kemudian berinisiatif memanggilnya. Sayangnya petugas dari Dishukominfo Kota Pontianak tak ambil pusing meski keduanya sudah berada di luar. ”Di situ kami kecewanya. Kalau mentok dan melewati garis parkir, kami bisa parkir lebih dalam atau mencari tempat parkir lain,” ujarnya.

Ia berharap petugas lebih bertindak persuasif ketika menegakan aturan, bukannya main langsung kempis saja. Sebagai salah seorang masyarakat, Izhar meminta agar Perwa tersebut tidak cuma disebutkan di stiker tempelan sanksi belaka. 

“Akan tetapi juga dipasang sebagai penjelasan sosialisasi kepada media-media. Sebab sosialisasi aturan akan diketahui masyarakat Pontianak lebih luas termasuk masyarakat pemilik kendaraan bermotor.

Izhar juga mengusulkan supaya item dalam Perwa ditambahkan sanksi persuasif dengan pengenaan denda tilang terlebih dahulu. Baru kemudian sanksi tindakan, seperti yang dilakukan di negara-negara maju. ”Itu saja permintaan kami,” ujarnya.(den) 

Berita Terkait