Misi Penyelamatan Budaya di Balik ’Konperensi’ Asep-Asep

Misi Penyelamatan Budaya di Balik ’Konperensi’ Asep-Asep

  Rabu, 4 November 2015 07:38
KAA: Seribu Asep saat pembukaan Konperensi Asep Asep (KAA), di Bandung, Minggu 25 Oktober 2015) MUHAMAD ALI/JAWAPOS

Oleh para inisiatornya, KAA sangat penting karena belakangan terjadi krisis kepercayaan kepada Asep. Ternyata, ada lho peserta yang bukan Asep Sunda dan tak bisa cakap bahasa Sunda pula. ANDRA NUR OKTAVIANI, Bandung

’’SIAPA orang Jawa Barat yang pernah jadi pemimpin Uni Soviet?’’ kata Dadang atau Ujang atau terserah Anda mau memberi nama siapa.’’Waduh, siapa ya?’’ ujar teman si Dadang atau Ujang yang juga bebas Anda beri nama siapa saja. Lokasi ngobrol mereka juga silakan dibayangkan sendiri di mana.’’Nyerah?’’

’’Ya, siapa sih?’’

’’Asep Gorbachep,’’ jawab Dadang.

Kalau melemparkan guyonan itu sekarang kepada teman-teman Anda, responsnya barangkali akan ditentukan usia. Kalau yang Anda guyoni orang-orang yang sudah remaja saat era 1990-an, reaksinya mungkin, ’’Ah basiii...’’ Atau yang sedikit lebih sopan, ’’Usia memang tidak bisa dibohongi…’’

Tapi, kalau yang diajak guyon adalah generasi 2000-an, apalagi generasi alay, dengan sedikit keberuntungan, mungkin mereka akan tertawa. Kalau tidak, bisa jadi mereka malah bertanya, ’’Beneran itu? Hebat ya!’’

Maklum, itu memang guyonan lawas. Remaja era 1990-an hampir pasti pernah mendengarnya. Sedangkan bagi adik-adik generasi mereka, jangankan pernah mendengar joke-nya, nama Asep saja jangan-jangan sudah terdengar seperti barang langka.

Kelangkaan itu bahkan terjadi di Jawa Barat. Padahal, Asep selama ini menjadi salah satu nama khas di kalangan penutur bahasa Sunda. Sebab, Asep diambil dari kosakata mereka, kasep, yang berarti ganteng.Dalam bahasa Asep Kambali, presiden Paguyuban Asep Dunia (PAD), terjadi ’’krisis ketidakpercayaan’’ kepada Asep. Kebanyakan orang tua zaman sekarang lebih memilih menamai anak mereka dengan David, Michael, atau Steven.Yang kadung dinamai Asep pun, ketika beranjak dewasa, tak sedikit yang memilih menyembunyikan ke-Asep-annya itu. Ada yang dengan sengaja menghilangkan nama Asep dan memilih dipanggil dengan nama belakang.

’’Ada pula yang menuliskan Asep dengan disingkat menjadi A yang diikuti dengan nama belakang mereka,’’ kata Asep Kambali.Dari situlah Asep Kambali bersama empat kawannya sesama Asep, yaitu Asep Iwan Gunawan, Asep Bambang Fauzi, Asep Rahmat, dan Asep Dudi, menginisiatori Konferensi, eh maaf, Konperensi, Asep-Asep (KAA).Sebelum melangkah ke KAA, PAD sudah beroperasi sebagai sebuah komunitas pada 2010. Mereka sebelumnya dipersatukan di sebuah grup Facebook yang digagas Asep Iwan Gunawan pada 2008.

Konferensi itu akhirnya sukses digelar pada 25 Oktober lalu di Bandung. Slogan yang diusung adalah Ti Asep, Ku Asep, Keur Indonesia yang berarti ’’Dari Asep, Oleh Asep, Untuk Indonesia’’. Namanya juga kumpul-kumpul para Asep, panitia KAA otomatis hanya membolehkan mereka yang memiliki nama KTP Asep sebagai peserta.Bagi kelima inisiator, KAA itu sangat penting. Sebab, hilangnya kepercayaan diri para Asep atau semakin langkanya nama Asep tersebut bukan perkara sepele. Hilangnya nama Asep berarti hilangnya budaya, tradisi, dan nilai-nilai.

Indonesia pun sudah teramat sering kehilangan kekayaan budayanya. ’’Anda tahu tidak, Indonesia dulu punya 1.200 etnis dan sekarang hanya tersisa 586 etnis. Indonesia dulu juga punya 750 bahasa dan yang ada sekarang hanya 257 bahasa,’’ papar Asep Kambali.Yang menggembirakan Asep Kambali dkk, peserta KAA ternyata membeludak. Meski juga sempat agak panik. Sebab, dari perkiraan 50–100 orang, jumlah peserta membengkak menjadi 350 orang.

Lokasi konferensi pun akhirnya diubah pada menit-menit terakhir. Untung, tidak jauh dari lokasi semula di bilangan Jalan PHH Mustofa, Bandung, ada tempat yang berdaya tampung lebih besar.Akhirnya, 350 Asep yang berusia 17–72 tahun berkumpul untuk merumuskan poin-poin tentang keberlangsungan paguyuban mereka. Sejak acara dibuka, suasana langsung akrab.Padahal, tidak sedikit di antara mereka yang baru pertama berkenalan dan bertemu secara langsung. Kebanyakan di antara mereka selama ini berkomunikasi lewat dunia maya. Namun, karena dipersatukan oleh nama Asep, mereka seolah sudah lama kenal.

’’Jadi, sudah merasa seperti saudara saja. Padahal baru ketemu,’’ ungkap Asep Yulianto, 36, peserta KAA asal Semarang.Beragam kegiatan pun dilakukan. Mulai berkenalan, berbincang santai, hingga main angklung bersama. ’’Benar-benar di luar harapan. Yang hadir bisa sebanyak ini dan tidak hanya dari Bandung. Juga bukan cuma orang Sunda,’’ jelas Asep Tutuy Turyana, koordinator wilayah PAD Provinsi Jawa Barat yang juga ketua pelaksana KAA.Ya, nama Asep memang boleh jadi salah satu penanda Kesundaan. Tapi, nama tersebut tentu tak secara eksklusif hanya dimiliki etnis Sunda. Seperti pula nama Putu yang tak selalu merujuk ke orang Bali.

Contohnya, Asep Sugiarto yang juga mengikuti KAA. Dalam tubuh pria 41 tahun asal Tegal, Jawa Tengah, itu sama sekali tak ada darah Sunda. ’’Sepertinya sih saya dinamai Asep karena lahir pada September. Ada Sep-nya, jadilah Asep, hahaha...’’ tuturnya.Dia mengaku kerap lumayan repot karena namanya itu. Misalnya, ketika dalam sebuah perjalanan naik bus dari Semarang ke Tegal, dia berkenalan dengan seorang ibu yang berasal dari Cirebon.

Begitu tahu dirinya bernama Asep, langsung saja si ibu nyerocos pakai bahasa Sunda yang sama sekali tak dikuasainya. ’’Saya sulit menyetop dan menerangkan kepada ibu itu bahwa saya nggak ngerti yang dia omongkan,’’ kenang ayah empat anak itu, lantas tergelak.Selain Asep Sugiarto, masih banyak Asep lain yang juga bukan orang Sunda. Asep Tutuy menyatakan, pihaknya sempat mendata, ada Asep dari Padang dan Asep dari Pakistan.

’’Kami juga sempat dihubungi pemilik nama Asep berdarah Afro-Amerika. Dan dia adalah perempuan. Namanya Melissa Asep,’’ ungkap Asep Tutuy.Selanjutnya, PAD berencana menjadikan KAA sebagai agenda rutin tahunan. Tempatnya pun tidak akan selalu di Bandung. Bisa di kota-kota lain atau negara lain. Toh, para Asep sudah tersebar di seluruh Indonesia, bahkan dunia.Tahun depan mereka juga berencana mencanangkan satu hari untuk dijadikan Hari Asep Sedunia. Bisa pada 1 Agustus yang menjadi tanggal berdirinya PAD atau 25 Oktober yang menjadi tanggal penyelenggaraan KAA tahun ini.Bagaimana kalau ada pihak lain yang kelak menolak rencana itu? Jangan khawatir. Berdemonstrasi saja. Bisa pilih yel-yelnya, ’’Asep bersatu, tak bisa dikalahkan!’’ atau ’’Kami ini Asepmania…’’ (*/c5/ttg)