Misa Prapaskah Bagi Umat Katolik , Tanda Salib dari Abu di Kening sebagai Simbol Pertobatan

Misa Prapaskah Bagi Umat Katolik , Tanda Salib dari Abu di Kening sebagai Simbol Pertobatan

  Kamis, 11 February 2016 09:01
ABU: Prosesi penerimaan abu yang menandai dimulainya masa puasa bagi umat Katolik di Gereja Keluarga Kudus Kota Baru, kemarin.BUDI MIANK/PONTIANAKPOST

Umat Katolik memulai masa Prapaskah dengan mengikuti misa Rabu Abu, kemarin. Umat yang hadir dalam misa diberi tanda salib dari abu di kening sebagai tanda kesedihan, penyesalan, dan pertobatan. BUDI MIANK, Pontianak

HUJAN rintik menyambut pagi yang sembab. Genangan-genangan di jalan-jalan belum kering benar. Dingin yang menerpa tak menyurutkan langkah umat mendatangi gereja untuk mengikuti misa Rabu Abu, yang menjadi tanda dimulai masa puasa, selama 40 hari mendatang. Di Gereja Katolik Keluarga Kudus Kota Baru, Pontianak, umat sudah memenuhi bangku-bangku sejak pukul lima pagi. Di gereja ini, diadakan dua kali misa, yakni pukul setengah enam pagi dan pukul enam sore. Misa pagi itu dipimpin Pastor Yulianus Astanto Adi CM.

Dalam homili singkatnya, Astanto mengajak umat memasuki masa prapaskah ini dengan pertobatan yang didorong dalam diri sendiri. Sehingga akan melahirkan kualitas pertobatan yang baik. “Bacaan dari Kitab Suci mengajak kita untuk memiliki motivasi pertobatan yang indah dalam diri. Sebab Tuhan itu pengasih dan penyayang. Allah yang begitu baik dan tidak pernah melihat dosa dan salah kita,” katanya.

Ia menambahkan, “inilah pertobatan yang lahir dari kesadaran diri kita. Muara dari pertobatan ini, melihat kasih Allah adalah mau berdamai dengan Allah. Itulah sakramen pertobatan. Sakramen rekonsiliasi.”Menurut Astanto, gereja menyebut masa Prapaskah ini sebagai retret yang agung. Massa bagi umat untuk lebih mendekatkan diri dengan Allah. “Pertobatan memiliki dimensi sosial, yang mengajak orang lain untuk lebih mengenal Allah,” katanya.

Lebih lanjut, kata Astanto, masa Prapaskah ini menjadi masa yang baik untuk mengalami pertobatan pribadi dan komunal. Pertobatan yang baik itu berasal dari dalam. Inilah yang meningkatkan kualitas pertobatan, yang menuju rekonsiliasi dengan Allah. “Mari mengusahakan memasuki masa Prapaskah ini dengan pertobatan sejati dan benar,” tambahnya.Bagi Gereja Katolik, Rabu Abu menjadi hari pertama masa Prapaskah dalam liturgi tahunan gerejawi. Hari tersebut ditentukan jatuh pada hari Rabu, 40 hari sebelum hari Paskah tanpa menghitung hari-hari Minggu, atau 44 hari, (termasuk hari Minggu) sebelum hari Jumat Agung.

Umat Katolik menganggap hari Rabu Abu sebagai hari untuk mengingat kefanaan seseorang. Pada hari ini umat Katolik yang berusia 18-59 tahun diwajibkan berpuasa dengan batasan makan kenyang paling banyak satu kali, dan berpantang.Puasa bagi umat Katolik adalah tindakan sukarela tidak makan atau minum seluruhnya yang berarti sama sekali tidak makan atau minum apa pun atau sebagian yang berarti mengurangi makan atau minum.

Puasa berarti makan kenyang hanya satu kali dalam sehari. Untuk yang biasanya makan tiga kali sehari dapat memilih; kenyang, tak kenyang, kenyang; atau tak kenyang, kenyang, tak kenyang; atau tak kenyang, tak kenyang, kenyang.Orang Katolik juga wajib berpantang pada hari Rabu Abu dan setiap hari Jumat hingga Jumat Suci. Jadi hanya tujuh hari selama masa Prapaskah. Umat Katolik yang wajib berpantang adalah yang berusia empat belas tahun ke atas.(*)