Mirna Kejang, Jessica Garuk-garuk

Mirna Kejang, Jessica Garuk-garuk

  Kamis, 11 Agustus 2016 11:44

Berita Terkait

JAKARTA – Ahli Digital Forensik Mabes Polri AKBP Muhammad Nuh Al Azhar menyoroti gerak-gerik terdakwa Jessica Kumala Wongso ketika korban Wayan Mirna Salihin kejang-kejang. Menurutnya, ada perilaku tidak wajar dari Jessica ketika itu.

Dalam rekaman CCTV yang diperlihatkan dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (10/8), sejak awal terlihat tangan Jessica yang tidak bisa diam. Jessica seperti menggaruk-garukkan tangannya.

"Pada 17.23 terdakwa masih memegang tas, ketika memegang tas memang terlihat ada kegiatan jari-jarinya, namun ketika tas tersebut diletakkan tangan diam," ujar Nuh di depan majelis hakim.

Setelah Mirna Salihin kolaps, Jessica tampak beberapa kali menggaruk-garuk tangannya. Meski kualitas gambar rekaman CCTV itu buruk, gerakan tangan Jessica tetap bisa terlihat.

Jessica juga terlihat sempat membungkuk untuk menggaruk paha kanannya. Menurut Nuh, gerakan-gerakan tersebut tidak lazim, mengingat ada temannya yang sedang kejang-kejang.

"‎Di situ terlihat, ada rangkaian kegiatan. Waktu momen-momen, meski terlihat pecah, tapi itu tetap satu kesatuan," kata Nuh.

Selain kejanggalan itu, menurut Nuh ada 24 detik krusial di mana terdakwa Jessica Kumala Wongso memainkan tangannya di gelas vietnamese ice coffe yang dipesan untuk korban Wayan Mirna Salihin.

Gerak-gerik itu tampaknya meyakinkan penyidik bahwa Jessica lah yang memasukkan sianida ke dalam kopi Mirna. ‎"Dia menoleh ke CCTV. Tas dibuka menggunakan kedua tangan. Ada beberapa waktu kegiatan membuka tas. Kemudian diletakkan sesuatu di atas meja. Ada gerakan tangan memindahkan sesuatu ke atas meja, 24 detik kegiatan memasukan sesuatu," jelas Nuh.‎

Sementara itu, ahli forensik RS Polri Kramatjati, dr Slamet Purnomo kembali menjadi saksi ahli dalam sidang kematian Wayan Mirna Salihin, kemarin (10/8).

Slamet dikonfrontir dengan Muhammad Nuh Al Azhar. Konfrontasi dilakukan, untuk melihat secara jelas berapa waktu yang menyebabkan Mirna tewas setelah meminum es kopi Vietnamese di Kafe Olivier.

‎"Berdasarkan CCTV, 17.18.47 korban mulai minum, kemudian pukul 17.18.54 korban menggerakkan tangannya di depan mulut dan hidung beberapa kali," kata Nuh di depan majelis hakim.

Menimpali Nuh, Slamet mengatakan, karakteristik orang terkena racun sianida, reaksinya sama dengan rekaman CCTV yang diputar di ruang sidang.‎ Slamet mengklaim bahwa Mirna meninggal karena keracunan sianida.

"Kalau lihat dari CCTV, gejala ini keracunan sianida. Itu akan menyebabkan terbakarnya jaringan mulut bagian dalam sampai ke lambung. Itu jauh lebih pedih daripada makan yang pedas. Oleh karena itu (Mirna) langsung membuka mulut dan kibas-kibas," ucap Slamet.

Slamet menerangkan, reaksi yang ditimbulkan Mirna setelah minum kopi, sama seperti yang ditunjukkan korban keracunan sianida pada umumnya. "Waktunya itu tanda-tanda yang khas sekali karena sianida yang tidak bisa disebabkan yang lain. Jadi, yakin itu karena racun sianida, karena ditemukan sianida juga di dalam kopi tersebut," tandas Slamet.

Sejumlah saksi ahli yang dihadirkan dalam sidang perkara kematian Wayan Mirna Salihin kemarin tampak memberatkan terdakwa Jessica Kumala Wongso.

Menanggapi hal tersebut, Jessica mengaku keberatan dengan sejumlah keterangan yang memberatkannya itu. Jessica mengungkapkan hal tersebut saat Ketua Majelis Hakim Kisworo bertanya kepadanya. "Banyak yang saya keberatan, namun akan saya jelaskan pada saat saya diperiksa," jawab Jessica.

Keberatan Jessica yang utama adalah kesaksian dari ahli digital forensik Mabes Polri AKBP Muhammad Nuh Al Azhar. Singkatnya, dia menyebutkan bahwa Jessica mengambil sesuatu dari tasnya dan menuangkannya ke dalam minuman Mirna.

Hakim Kisworo lantas mempertanyakan keterangan itu kepada Nur.‎ "Ahli tetap pada keterangannya?" tanya Kisworo.

Nuh menjawab bahwa dia berkeyakinan dengan keterangan yang sudah dipaparkannya.‎ (jpnn)

Berita Terkait