Minta Warga Tak Kucilkan Bekas Tahanan

Minta Warga Tak Kucilkan Bekas Tahanan

  Kamis, 18 Agustus 2016 09:30
MERIAH: Sejumlah warga binaan juga ikut memeriahkan Ulangtahun Kemerdekaan ke-71 Republik Indonesia di Lapas Klas IIA Pontianak usai upacara penyerahan remisi, Rabu (17/8). MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK — Sebanyak 1.645 warga binaan pemasyarakatan dari 3.822 penghuni Lapas dan Rutan di Kalbar mendapatkan remisi pada ulangtahun Kemerdekaan ke-71 Indonesia. Sebanyak 36 narapidana diantaranya langsung bisa menghirup udara segar. Sementara lainnya, mendapatkan pengurangan masa hukuman yang bervariasi. 

Jumlah napi dan tahanan yang menerima remisi, terdiri dari 12 penghuni lembaga pemasyarakatan (Lapas) dan rumah tahanan (Rutan) yang ada di Kalbar. 

Gubernur Kalimantan Barat Cornelis mengatakan, remisi terhadap narapidana merupakan bentuk rasa keadilan yang diberikan negara terhadap orang yang pernah melakukan kesalahan dan sudah menjalani hukuman. 

“Mereka juga sudah dihukum. Negara juga harus memberikan pengampunan kepada mereka karena hidup di dunia ini siapa yang mau salah, siapa yang mau celaka. Hasil pembinaannya ya wajarlah kalau mereka diberikan pengampunan. Sesuai dengan aturan yang berlaku,” kata Cornelis saat penyerahan remisi di Lapas Pontianak Klas II, Rabu (17/8).    

Cornelis berpesan kepada napi yang dinyatakan bebas, agar bisa kembali membangun hubungan baik dengan masyarakat dengan norma-norma yang berlaku dan berlaku positif, sesuai aturan yang dibuat oleh Negara. Cornelis juga mengimbau, agar masyarkat dapat menerima mereka, apa adanya. “Jangan dikucilkan. (jangan) selalu dicap bekas narapidana, keluarganya juga jadi masalah,” imbaunya. 

Cornelis juga meminta agar masyarakat tidak beranggapan orang yang pernah berbuat buruk, tidak bisa berubah baik, baik perubahan mental dan perilaku hidupnya. Oleh sebab itu, dia meminta masyarakat untuk merangkul mereka yang keluar dari tahanan. 

“Ini juga menjadi masalah di Indonesia ini, jadi orang masih dicap terus, sehingga menimbulkan orang itu membuat kesalahan lagi berulang akhirnya. Oleh karena itu, melalui media ini, kami harapkan juga mengubah cara berpikir masyarkat kita. Ini harapan pemerintah dan negara,” ungkapnya.

Roscar satu dari 36 napi yang bebas mengaku senang dan bersyukur atas remisi yang didapat dan mengurangi masa tahanannya selama tiga bulan. Selama menjalani kehidupan di Lapas, banyak pelajaran yang didapat. 

“Senang rasanya, bisa kembali berkumpul dengan keluarga,” kata Roscar. 

Selama di Lapas, dia diajarkan banyak hal untuk mengasah keterampilannya. Selain itu, dia juga diajarkan untuk berkelakuan baik dan diajarkan disiplin waktu. Pelajaran selama menjalani masa hukuman itu, kata Roscar, sangat berharga ketika menjalani 

kehidupan bermasyarakat. 

“Diajarkan mengasah keterampilan seperti bikin kursi. Kalau ada modal, nanti bisa buka usaha sendiri. Setelah ini, saya mau pulang ke keluarga, cari kerja dan mengumpulkan modal,” ungkapnya. 

Roscar berpesan, agar hukum di Indonesia adil dan tidak pandang bulu. “Tinggi rendah harus sama, namanya hukum, sekarang kebanyakan yang punya uang, yang menang. Yang kurang mampu, terus kena tumbalnya,” harapnya.

Doni, napi yang bebas lainnya juga mengaku bersyukur dengan remisi yang diberikan kepadanya. Dia mengaku menyesal telah melakukan kesalahan di masa lalu. Dia berjanji, akan kembali ke masyarakat dengan menjalani kehidupan yang lebih baik. 

“Kalau bisa untuk kawan di luar, jangan seperti kami ini yang sudah melakukan hal yang tidak disenangi oleh masyarakat. Saya menyesal, akibatnya sudah meninggalkan anak istri,” ungkapnya. 

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Kalbar, Bambang Widodo menyatakan bahwa sesuai dengan instruksi, Lapas akan menjadi Lapas produksi. Tujuannya, agar ketika warga binaan sudah bebas, setelah kembali menjalani kehidupan di masyarakat bisa hidup secara mandiri dan mencari pekerjaan sesuai dengan bakat dan keterampilannya.

Selain itu, kedepan pihaknya juga akan memprogramkan konsentrasi untuk warga binaan khusus narkotika. Mengingat, jumlah warga binaan pemasyarakatan narkotika yang ada di Kalbar cukup banyak sekitar 33 persen dari 3.822 orang. 

"Kami ke depan akan memprogram salah satu lembaga pemasyarakatan, atau rumah tahanan negara, dikonsep dikonsentrasikan untuk pembinaan narapidana atau warga binaan pemasyarakatan narkoba,” ungkap Bambang. 

Untuk mempermudah program itu berjalan, pihaknya akan mengalihfungsikan bangunan yang huniannya tidak terlalu banyak. Sehingga, tahanan khusus narkotika, bisa dikonsentrasikan. “Bangunannya,  memanfaatkan bangunan yang ada. Pengalihan fungsi bangunan yang tidak banyak huniannya,” tukasnya. (gus)

Berita Terkait