Minta Pemkab Bantu Anaknya yang Masih Sekolah

Minta Pemkab Bantu Anaknya yang Masih Sekolah

  Jumat, 29 July 2016 09:30
LOKASI KERJA: Disinilah Ahmad dan rekan kerjanya dalam bekerja dan mengalami kecelakaan saat berkerja. Pasaca kecelakaan seminggu kemudian Ahmad tutup usia. DANANG PRASETY/Pontianak Post

Berita Terkait

Ahmad (61) Warga Dusun Tanah Merah Desa Sutera Kecmatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara tutup usia. Almarhum meninggalkan satu orang istri dan delapan anak. Diantara ke delapan anak tersebut tiga diantaranya masih bersekolah. Ia meninggal satu minggu setelah mengalami kecelakaan di tempat kerjanya.

DANANG PRASETYO/ Sukadana.

SUASANA haru. Itu yang terlihat ketika menyambangi kediaman Ahmad beserta keluraga. Kini Ahmad telah tiada. Seorang bapak yang dikenal pekerja keras menopang kebutuhan keluarganya. Ahmad dikenal sosok pria yang baik dan sangat mudah dalam berinteraksi di lingkungan masyarakat.

Tidak jarang, terlihat linangan air mata dari kedua mata para sahabat dan keluarga saat mengiringi ke tempat peristirahatan terakhirnya yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Doa pun dipanjatkan, dengan harapan Almarhum diberikan tempat yang terbaik di sisi Allah SWT.

Semasa hidupnya, Ahmad memang lebih dikenal dengan pekerjaanya sebagai pemecah batu. Hanya itulah pekerjaan yang dapat dilakukan olehnya usai menikahi istrinya puluhan tahun lalu. “Sudah lebih dari 30 tahun Almarhum bekerja batu. Saya sendiri salut dengan dirinya (Ahmad.Red). Saya saja tidak mampu untuk lama-lama berkerja memecahkan batu itu. Namun saya lihat dia mampu. Karena memang Almarhum dikenal dengan sosok pekerja keras,”kisah satu diantara sahabat Almarhum.

Berdasarkan informasi yang dihimpun. Sebelum tutup usia, Ahmad tertimpa tanah yang bercampur dengan batu pada bagian kaki sebelah kirinya. Ketika akan mencoba memecahkan batu. Memang, saat ini keperluan batu di Sukadana sedang gencar-gencarnya untuk pembangunan.

Pasalnya, batu yang digali olehnya tidak jarang untuk keperluan pembangunan pelebaran jalan Sail Selat Karimata yang akan dihelat pada 15 Oktober mendatang. “Sudah 30-an tahun suami saya bekerja memecahkan batu. Dulu sebelum dilarang pemerintah mencari batu di Pantai Pulau Datok. Sekarang di tempat yang baru satu bulan lebih pindah di lokasi yang tidak jauh dari pelabuhan TPI. Di sana suami saya berkerja untuk keperluan keluarga. Sementara saya sendiri membantu dengan membuka warung kecil-kecilan di depan rumah,”kata Sakinah (49), istri korban,  Rabu (27/7) kepada Pontianak Post.

Diceritakan  Sakinah, dalam bekerja almarhum bersama teman-teman lainnya.  “Suami saya berkerja di lokasi pemilik tanah. Jadi memang bekerja dengan orang lain. Alhamdulillah dari pemilik lokasi penggalian batu ada memberi uang santunan sebesar satu juta. Kalau dari pemerintah memang tidak ada. Uang itu pun tentunya akan saya gunakan sebaik mungkin. Apalagi saat ini anak saya masih ada tiga yang bersekolah,”ungkap Sakinah, sembari terus memegang foto almarhum suaminya.

Semasa hidupnya, Sakinah (49) menceritakan, memang sebelumnya sempat mengajukan kredit ke salah satu Bank di Sukadana ini. Namun hingga kini belum dapat diproses. Dengan jaminan sertifikat tanah. Tujuan dari pengajuan uang itupun, rencanannya untuk menambah modal warung. Setidaknya dengan itu, juga dapat memenuhi keperluan anaknya yang masih bersekolah.

“Sumi saya dulu memang menginginkan pengajuan dana itu. Untuk biaya modal usaha warung yang kami buka di depan rumah ini. Sehari-hari saya menjual pecal dan gorengan. Sementara sumi saya bekerja memecahkan batu pun hasilnya tidak seberapa. Paling tidak saya membantu walau sedikit untuk keperluan sehari-hari dan keberluan anak yang masih sekolah,”kisah ibu delapan anak tersebut.

Mungkin ini sudah masanya. Setelah tertimpa dan kakinya sebelah kiri mengalami pergeseran tulang, dan dirawat selama enam hari di rumah. Untuk perawatnnya pun memanggil dokter ke rumah dan tukang urut. Kejadiannya itu tanggal 20 Juli, pada tanggal 26 Juni sore, sekitar pukul 15.30 wib, meninggal dunia.

 Atas kejadian ini, dirinya berharap kepada Pemerintah Daerah dapat membantu bagi ke tiga anaknya yang masih bersekolah. Karena dikhawatirkan untuk membiayai sekolah anaknya dengan penghasilan pas-pasan dengan membuka warung hanya cukup untuk keperluan sehari-hari saja. “Kalau memang dapat membantu, saya berharap Pemda dapat membantu ke tiga anak saya yang masih sekolah,” ujarnya penuh harap.

Terpisah, rekan kerjanya pada saat kejadian, Amad (44) menceritakan, pada saat kejadian memang ia bersama korban. Saat itu, kejadiannya sore sekitar pukul 16.30. Dengan menggunakan linggis yang dibawa olehnya, lanjut dia korban (Ahmad.Red) waktu itu mencoba untuk memecahakn batu. Namun naas,  belum saja batu terpecah, segumpalan tanah yang bercampur batu itu menimpa kaki kirinya.

“Kaki sebelah kiri yang tertimpa. Jadi ada seperti pergeseran tulang. Pada saat itu, kita coba untuk membawa ke dukun urut dan dokter. Setelah dirawat kurang lebih selama enam hari ternyata rekan saya sudah tidak ada lagi. Dan kita pun terkejut,”tutur rekan kerja korban. **

Berita Terkait