Minta Diiring Ontel

Minta Diiring Ontel

  Senin, 22 February 2016 09:36
IRING PENGANTIN: Para ontelis Kalbar ketika mengiring calon pengantin pria Arif Gunawan untuk menuju ke tempat resepsi, di Jalan Ya’ M Sabran, Pontianak Timur, Minggu (21/2).MUJADI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PENGANTIN Kota Pontianak biasanya diiringi musik Tanjidor, namun keluarga Pardi, warga Pontianak Timur, meminta kedatangan calon menantu dengan iringan keminutas ontelis Kalbar, Minggu (21/2).

WAJAH sumringah tercermin di wajah Arif Gunawan (28 tahun) yang mempersunting Yuvita Lestari (24 tahun), ketika turun dari mobil dan pindah ke becak. Pria asal Pontianak Barat tersebut selalu tersenyum, karena di belakang becak yang dia tumpangi di Jalan Ya’ M Sabran, Pontianak Timur, berderet pengendara sepeda tua.Hujan rintik-rintik tidak menyurutkan kelompok pencinta sepeda tua untuk mengiring calon pengatin pria. Itulah komunitas intelis Sepok (Sepeda Onte Kalimantan Barat). Kata “onte” diambil dari dialek Kalbar khususnya Pontianak, yang berarti unta atau onta, si satwa berleher panjang. Jadi sepeda “onte” kebanyakan jangkung digambarkan bagaikan unta. Kata “sepok” di Kota Pontianak juga diartikan “ketinggalan zaman”.

Menurut Ketua Sepok Jayus Agustono (39 tahun), selaku komandan konvoi, jauh hari pihaknya dihubungi rekannya, Pardi, anggota Sepok yang akan menantukan putrinya. Pihaknya diminta mengiringi kedatangan calon menantunya dengan sepeda ontel.Jayus yang juga seniman lukis inipun langsung menyanggupi dan segera mengontak rekan-rekannya. Rupanya mendapat sambutan antusias. Pagi kemarin (21/2), dia bersama rekan-rekannya berkumpul di Car Free Day, Jalan A Yani, Kota Pontianak, untuk menuju titik start pengawalan calon pengantin. Di ujung Jalan Ya’ M Sabran, Pontianak Timur, yang saat itu hujan cukup deras. Namun semangat mengiringi calon pengantin pria tetap berlangsung, untuk menuju ke tempat calon pengatin wanita di jalur yang sama.

“Rencana sih akan kami arak atau iringi jarak agak jauh, tetapi cuaca dan kondisi jalan yang harus menanjak Jembatan Kapuas, jalur kami persingkat’” jelas Jayus.Kini menurut Jayus jumlah anggotanya cukup banyak dan “sulit” untuk dihitung. Namun yang tetap aktif mengingikuti berbagai kegiatan sekitar 70 orang ontelis. Anggotanya berlatar belakang berbagai profesi, ada juga yang berumur diatas tujuhpuluh tahun dan masih mampu mengontel ratusan kilometer.Jayus juga menambahkan, pihaknya sudah sering kali dimintai tampil untuk berbagai kegiatan.Menanggapi kegiatan terakhirnya, Jayus menilai, arakan pengantin yang baru saja dilakukan, merupakan hal unik dan menjadi “kado istimewa” bagi keluarga mempelai. Sebab, kata Jayus, sangat langka pengantin diarak atau diiringi kendaraan sepeda. (tbl)

Berita Terkait