Minat Baca Indonesia Memprihatinkan

Minat Baca Indonesia Memprihatinkan

  Sabtu, 2 July 2016 12:41   1

MINAT baca di Indonesia sangatlah kurang bila di bandingkan dengan Negara Asia Tenggara  lainnya. Berdasarkan data United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO), minat baca Indonesia sebesar 0,01 persen. Berarti  10.000 orang hanya satu saja yang memiliki minat membaca.

Apabila dibandingkan dengan Negara tetangga Malaysia, setiap orang membaca tiga judul buku dalam satu tahun. Sedangkan masyarakat jepang meyantap lima sampai sepuluh judul buku setiap tahunnya. Cukup ironi memang bila membandingkan minat baca dengan Negara-negara tersebut.  Padahal tingginya presentasi minat membaca berbanding lurus dengan majunya Negara tersebut.

Seperti pribahasa orang bijak “Buku adalah Jendela Dunia”. Dengan membaca tentunya akan menambah wawasan dan ilmu pengetahuan. Masyarakat yang berwawasan tinggi akan menambah kualitas sumber daya manusia (SDM) suatu negara. Realitanya, Indonesia memiliki Kuantitas SDM yang tinggi namun tidak diimbangi dengan kualitas SDM.

Peradaban suatu bangsa ditentukan oleh kecerdasan dan pengetahuannya, sedangkan kecerdasan dan pengetahuan di dapat dari informasi yang di peroleh dari lisan maupun tulisan. Semakin banyak penduduk suatu wilayah yang haus akan ilmu pengetahuan semakin tinggi peradabannya.

Faktor utama penyebab kurangnya minat membaca adalah kebiasaan. Di Indonesia sendiri membaca belum bisa menjadi suatu budaya. Tidak heran bila orang jepang dapat menghabiskan lima sampai sepuluh buku tiap tahunnya, karena disana membaca sudah membudaya.

Langkah awal untuk memunculkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya membaca adalah menanamkannya sejak dini, yaitu membiasakan membaca pada generasimuda. Realitanya, perpustakaan di sekolah hanya menjadi penghias dikarenakan siswa digenjot dengan jadwal belajar mengajar yang padat. Sehingga siswa enggan untuk mengunjungi perpustakaan. Seharusnya, pihak sekolah memberikan kesempatan atau bahkan mewajibkan siswanya untuk membaca buku di perpustakaan.

Selanjutnya untuk menanamkan budaya membaca adalah dari keluarga. Karena kehidupan masyarakat bermula dari keluarga. Peran orang tua adalah memfasilitasi dan mendorong anak untuk senang membaca. Karena suatu kebiasaan diawali dengan rasa senang ,dan kebiasaan akan menjadi budaya.

Peran dari perpustakaan tentunya sangat besar, dengan minimnya minat baca perpustakaan perlu menerapkan strategi menjemput bola. Misalnya dengan perpustakaan keliling, yang saat ini sudah langka untuk dijumpai. Selain itu, perpustakaan juga harus mencari cara bagaimana bisa menjangkau sampai daerah pedesaan. Karena memang jarang desa yang memiliki perpustakaan desa. Peningkatan infrastruktur tentunya juga menjadi salah satu faktor yang perlu di perhatikan. Infrastruktur yang baik tentunya memberikan kenyamanan terhadap pengunjung yang datang keperpustakaan.

Dan yang tidak kalah pentingnya juga adalah meningkatkan kulitas dan profesionalitas pengelola perpustakaan. Dengan pengelola yang berkualitas diharapkan pemberdayaan dan peningkatan pengelolaan perpustakaan akan semakin dinamis dan aspiratif dalam memenuhi harapan para pemustaka/pengguna. Pengelola perpustakaan menjadi kunci untuk majunya suatu perpustakaan dan meningkatkan minat baca, sehingga mereka harus ditingkatkan baik dalam kuantitas maupun kualitas/profesionalitasnya.

Zulfi Setiawan

Mahasiswa D-3 Perpustakaan, Universitas Tanjungpura Pontianak

zulfi setiawan

Saya adalah seorang mahasiswa dari jurusan D-3 Perpustakaan di Universitas Tanjungpura.