Mimpi yang Terusik

Mimpi yang Terusik

  Senin, 18 April 2016 09:20

Berita Terkait

LEICESTER – Benar memang kata Claudio Ranieri. Terlalu dini jika menyebut jalan pesta Leicester City menjadi juara Premier League sudah terbuka lebar. Buktinya, di King Power Stadium tadi malam mimpi The Foxes – julukan Leicester – mengangkat trofi juara Premier League sebelum kompetisi usai terusik dari West Ham. 

Bukannya lanjutan tiga poin yang diberikan Wes Morgan dkk. Leicester nyaris kehilangan muka di depan pendukungnya sendiri. Karena, sampai dengan empat menit jelang berakhirnya waktu normal tuan rumah masih ketinggalan 1-2 begitu West Ham membalikkan kedudukan setelah Jamie Vardy bisa mencetak gol di menit ke-18. 

Dua gol yang membalikkan kedudukan itu dicetak Andy Carroll dari titik putih menit ke-84 dan sepakan jarak jauh Aaron Cresswell menit ke-86. Untungnya, eksekusi penalti Leonardo Ulloa menit 90+5 menjadi penyelamatnya. Meski tidak jadi kalah, laju Leicester pun tertahan dengan skor 2-2 atas tamunya West Ham United. 

Dalam wawancaranya kepada Sky Sports setelah pertandingan usai, Ulloa mengakui Leicester tadi malam bermain di bawah tekanan. ''Tetapi kami dituntut harus mengatasinya. Saya gembira dengan apa yang ditunjukkan tim ini, karena kami tidak layak untuk kalah hari ini,'' sebut penyerang berusia 29 tahun tersebut. 

Tekanan yang dimaksud Ulloa tersebut adalah kondisi pasca terusirnya Jamie Vardy pada menit ke-56. Kartu merah tersebut menjadi kartu merah pertama Vardy sepanjang karir profesionalnya. Selain itu, Vardy juga menjadi pemain Leicester kedua yang mendapat kartu merah dan mencetak gol di dalam satu laga. Sebelumnya dilakukan David Lowe pada tahun 1994 silam. 

Berdasarkan statistik Whoscored, permainan anak asuh Claudio Ranieri itu sedikit lebih defense sejak bermain 10 pemain. West Ham pun langsung mendominasi dengan delapan kali tembakan, satu di antaranya berbuah gol. Selain itu, penguasaan bola pun langsung diambil alih Mark Noble dkk sampai titik 55 persen!

Hingga laga berakhir pun Leicester gagal melepaskan dari penderitaan bermain dengan sepuluh pemain. Ranieri dengan terbuka mengakui efek kartu merah Vardy tersebut. ''Terusirnya satu pemain itu mengubah jalan pertandingan kami. Ini bukan salah wasit, saya lebih menyalahkan pemain saya sendiri daripada menyalahkan wasit,'' tutur mantan pelatih AS Roma pada musim 2009-2011 itu. 

Satu poin ini memang bukan petaka bagi Leicester. Hanya, ini memberikan peluang Totttenham Hotspur untuk mereduksi gap tujuh poinnya. Dini hari nanti, The Lilywhites – julukan Spurs – bermain melawan tuan rumah Stoke City di Britannia Stadium, Stoke-on-Trent. Andaikan Spurs menang, maka gap poin bisa berkurang menjadi empat.

Artinya, empat laga berikutnya haram bagi Leicester untuk kehilangan poin seperti tadi malam. Terutama poin-poin kandang. Leicester menyisakan dua laga home dari empat laga tersisa. ''Kami akan memainkan setiap laga ke depan seperti ini tadi, bermain dengan jiwa, darah, dan hati. Satu poin secara psikologis bermanfaat bagi kami,'' lanjutnya. 

Bersyukurnya Ranieri ini tidak seperti yang dirasakan Slaven Bilic. Sebaliknya, Bilic mengaku kecewa dengan performa anak buahnya. Karena, kegagalan memenangi laga di King Power tadi malam mengulangi kesalahan timnya dalam empat laga terakhir Premier League. Ya, empat laga terakhir, West Ham selalu tertahan. 

Uniknya, West Ham selalu digagalkan aksi comeback tim lawan. Seperti saat ditahan 2-2 juara bertahan Premier League Chelsea (19/3), lalu Crystal Palace 2-2 (2/4), Arsenal 3-3 (9/4) dan termasuk tadi malam atas Leicester. ''Dan malam ini yang paling menyesakkan. Karena kami kehilangan peluang menang itu hanya dalam hitungan lima detik terakhir,'' sesal pelatih berkebangsaan Krosia itu. 

Satu poin berarti menggagalkan upaya West Ham menempel ketat Manchester United di dalam perburuan zona Liga Champions. West Ham terpaut tiga poin dari United. West Ham dengan 53 poin, lalu United 56 poin. Meski demikian, Bilic menganggap kegagalan ini bukan berarti sesuatu yang tidak membuatnya tersenyum. 

''Yang penting kami sudah menunjukkan karakter dan kualitas permainan kami di depan mereka di sini. Terutama di babak kedua. Kami menduplikasi dengan bagusnya gaya permainan Leicester yang mengandalkan counter attack. Seharusnya, semua itu cukup untuk bekal memenangi laga ini, dan kami layak memenanginya,'' imbuh Bilic. (ren)

Berita Terkait