Mimpi Baru Coldplay

Mimpi Baru Coldplay

  Selasa, 15 December 2015 06:46

Berita Terkait

PROSES move on emang bukan sesuatu yang mudah dijalani. Tapi, pahitnya masa lalu memang sepatutnya dijadikan introspeksi. Yes, itulah yang dilakukan Chris Martin dengan bantuan Coldplay. Setelah perceraiannya memberikan pengaruh besar pada album Ghost Stories (2014) yang dark dan bernuansa sendu, vokalis Coldplay itu kini kembali happy dan banyak menghabiskan waktunya di dapur rekaman. And this year, Coldplay datang dengan masterpiece yang lebih colorful dengan album terbaru mereka, A Head Full of Dreams (2015).

“Aku merasa bersyukur berada di band yang sangat aku cintai,” ungkap Chris kepada Q Magazine. Yap, Coldplay memutuskan nggak mengadakan tur Ghost Stories dan kembali ke studio untuk menggarap album yang diklaim sebagai favorit mereka tersebut. Meski masih berpengaruh besar, Jonny Buckland, Berryman, dan Will Champion sama sekali tak keberatan jika Chris menjadi frontman dari band tersebut. “Global Citizen Festival yang dipandu Chris sungguh menyenangkan. Kami akhirnya kembali ke atas panggung,” ujar Buckland.

But, bukan sebatas reborn dengan penuh kebahagiaan. Tapi di album tersebut, Coldplay berkolaborasi dengan banyak teman yang belum pernah bekerja sama dengan mereka sebelumnya. Coldplay tak lagi sepenuhnya band rock. Buktinya, mereka merasa bahwa belum ada lagu dari Coldplay yang bisa pas untuk diputarkan di kelab malam. Makanya, lahirlah ide dengan suara Beyonce dalam lagu Hymn for Weekend. Lucunya, Chris Martin justru terinspirasi dari lagu rap karya Flo Rida dan rapper lainnya. Ariana Grande juga menjadi favorit Martin.

Coldplay juga mengajak Gwyneth Paltrow untuk mengambil bagian dalam lagu ballad perpisahan Everglow yang menjadi single kedua di album tersebut. Sahabat Martin yang juga frontman Oasis, Noel Gallagher, mengisi instrumen gitar di trek Up&Up yang digarap hanya dalam semalam di studio. “Genuinely, aku menyukai Oasis dan Beyonce. Ini adalah tanda pertemanan,” ungkap Chris.

Proses move on Chris juga ditunjukkan lewat lagu favoritnya yang sangat berbeda, yaitu X Marks the Spot. Dia melantunkan sajak dengan vocoder yang diiringi drum loops berulang-ulang. “Kebanyakan instrumen di album ini belum kami tampilkan di album sebelumnya,” jelas Martin sebagaimana dikutip Rolling Stone.

Coldplay menginginkan pendengarnya untuk bebas tanpa dikotak-kotakkan dalam penyuka genre tertentu. A Head Full of Dreams berhasil “menikahkan” kesukaan masing-masing personel kepada musisi tertentu, mulai Drake sampai Oasis. “Kami merasa nyaman dengan musik kami,” ujarnya. Nggak heran, Chris Martin turut memberikan label pada album tersebut sebagai hippie album.

Sekilas, album itu memiliki guideline yang sama dengan album Mylo Xyloto (2011). Video musik dari single pertama mereka, Adventure of a Lifetime, telah dirilis pada akhir November. Di video itu, ditampilkan monyet-monyet CGI. Vibe ceria langsung tersalurkan dari lagu yang diawali dengan sedikit unsur di disko itu. “Jujur aku sangat senang karena lagu ini menggambarkan Coldplay. Aku lebih prefer mendengar musiknya, kemudian nyanyiannya,” tutup Chris. (*/det)

 

Berita Terkait