Mihrab di Rumah untuk Memanjakan Allah

Mihrab di Rumah untuk Memanjakan Allah

Jumat, 11 December 2015 07:51   1

Oleh : Uti Konsen.U.M.

          Secara bangunan fisik dan fasilitas,  rumah Rasulullah saw sangat- sangat sederhana, apalagi bila dibanding dengan umumnya rumah kaum muslimin  zaman sekarang. Tapi Rasulullah saw bersabda “ Rumahku adalah surgaku.“ Walau rumah Rasulullah saw sangat sederhana, tapi beliau masih memiliki tempat salat khusus (mihrab) untuk beribadah.
          Demikian pula Siti Maryam, memiliki mihrab. Disitulah beliau beribadah ritual kepada Allah swt. Anehnya, setiap kali Nabi Zakaria yang mengasuhnya  mengantarkan makanan, beliau mendapati makanan “aneh“ di mihrab Maryam,  misalnya buah-buahan yang bukan musimnya. Ketika ditanya dari mana ia memperoleh makanan itu, Siti Maryam menjawab, “Itu dari Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan “ (Ali Imran (3) : 7).
          Dari pengalaman Siti Maryam itu, maka Nabi Zakaria juga membuat mihrab. Disanalah ia berdoa kepada Allah dengan khusyuk agar dikarunia keturunan. Padahal secara akal sehat, sudah tidak mungkin lagi karena beliau  sudah sangat tua dan isterinya selain  sudah tua juga mandul. “Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, ‘Wahai Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar Doa. Kemudian para malaikat memanggilnya, ketika dia mendirikan salat di mihrab, ‘Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya, yang membenarkan sebuah kalimat ( firman ) dari Allah, panutan, berkemampuan menahan  diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi di antara orang – orang saleh ” (Ali Imran (3) : 38 – 39).
          Begitu dahsyat mihrab (kamar khusus ibadah) dalam rumah tinggal, maka hal itu diikuti oleh para sahabat dan orang-orang saleh bahkan beberapa kepala Negara. Umar bin Khattab Ra, di malam hari usai salat Isya, beliau masuk ke dalam mihrabnya, dan tidak boleh ada seorang pun yang mengganggu. Terkenallah ungkapan beliau kurang lebih “Kalau siang aku istirahat ,berarti  aku menelantarkan rakyatku.Kalu malam aku tidur berarti aku mengabaikan  hubungan dengan Tuhanku.“ Jejak beliau diikuti oleh  cucu beliau yaitu khalifah Umar bin Abdul Aziz ,  yang juga menyediakan mihrab di rumahnya. Disitulah beliau di malam hari asyik bertaqarrub dengan Rabb-nya,melalui ibadah ritual. Mihrab beliau sakral, tidak boleh dimasuki oleh siapapun.
           Alangkah indahnya bila jejak para salafus saleh yang menyediakan  mihrab di rumahnya itu kita teladani, sesuai dengan kondisi masing – masing. Sudah pasti sikap kita ini akan membuat Allah swt senang dalam rangka menysukuri nikmat-Nya. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka pasti azab-Ku sangat berat “ (Ibrahim (14 ) :7)  Bayangkan, rumah kita sudah bagus . Katakan mewah dan megah.  Tapi di dalam rumah yang mewah dan megah itu, ada lagi tersedia  sebuah kamar khusus (Mihrab) yang lebih istimewa. Kamar itu kita peruntukkan untuk beribadah kepada Allah di malam hari. Karpetnya tebal, bersih, berbau wangi dan  bagi yang mampu diberi AC. Subhanallah. Menurut pengakuan  mereka yang sudah mengikutinya, dengan adanya mihrab itu selain membuat kita menjadi lebih khusyuk beribadah  juga semangat beribadah menjadi meningkat dan betah berlama – lama di dalamnya.
Kalau tadinya misalnya  membaca Al Quran hanya beberapa lembar setiap malam,   kini bisa menyelesaikan satu sampai dua juz, dengan rasa nikmat. .Demikian juga melafazdkan kalimah- kalimah zikir lainnya, semakin lezat. Subhanallah.   Wallahu’alam. **
                                                          

 

Uti Konsen