Midji Ancam Putus Sekolah Gratis Bagi Pelajar Perokok

Midji Ancam Putus Sekolah Gratis Bagi Pelajar Perokok

  Selasa, 23 Agustus 2016 09:30
ROKOK RP50 RIBU: Sejumlah buruh menyelesaikan lintingan rokok di pabrik rokok Kepanjen, Malang, Jawa Timur, Senin (22/8). Isu kenaikan harga rokok menjadi Rp50 ribu perbungkus kini menjadi perbincangan publik. FALAHI MUBAROK/ RADAR MALANG

Berita Terkait

Rokok Merasuk Remaja

Tata niaga rokok saat ini memungkinan siapa saja dapat dengan mudah mendapatkan rokok. Rokok dapat dibeli, bahkan oleh anak-anak sekalipun.

PONTIANAK – Warung kecil di Jalan Kom Yos Soedarso, Pontianak itu dipenuhi para siswa SMA yang hendak menghilangkan dahaganya, Senin (22/8) siang. Ada siswa yang sekadar membeli minuman dingin atau makanan ringan yang dijajakan warung tersebut. Di antara mereka, asap rokok membumbung hingga ke atap warung.

Sembari menikmati minuman dingin di dalam gelas yang baru saja disediakan pemilik warung, tiga hingga empat remaja yang masih menggunakan seragam sekolah terlihat sedang berbagi rokok. Sebungkus rokok itu baru saja dibeli dari sebuah warung dengan uang yang mereka kumpulkan sebelumnya.

Diiringi tawa mereka menikmati siang itu dengan satu batang rokok yang dijepit di antara jari tengah dan telunjuk.

Pemandangan tersebut terus berlangsung lama hingga satu demi satu mereka pulang. Salah seorang dari mereka, yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan, mereka sudah biasa nongkrong di warung tersebut setiap pulang sekolah. 

“Biasalah bang, satu dua batang sebelum pulang ke rumah,” katanya kepada Pontianak Post, Senin (22/8) siang.

Ia mengaku sudah mulai iseng merokok mulai sejak di bangku SMP, walaupun tidak sesering saat ia sudah di bangku SMA. Waktu itu, bersama seorang teman dari lingkungan rumahnya, ia mencoba satu batang rokok yang ditawarkan temannya tersebut. Setelah itu, ia sering merokok sambil bersembunyi dari orang tuanya.

Kini, dalam satu hari, kira-kira ia bisa menghabiskan lima hingga enam batang rokok. Dari satu bungkus rokok, ia bagikan bersama beberapa teman yang ikut mengumpulkan uang. 

“Kalau satu bungkus isi 16 dibagi empat kan masing-masing jadi empat saja,” katanya. 

Mereka yang masih duduk di bangku SMA ini masih bergantung pada uang jajan yang diberikan orang tua pada mereka. “Tapi hanya kadang-kadang. Tidak setiap hari, kalau ada uangnya saja,” katanya lagi.

Pemandangan tersebut sepertinya sangat mengambarkan hasil survei dari Global Youth Tobbaco pada 2014. Indonesia dinobatkan sebagai salah satu negara dengan jumlah perokok anak terbesar. 20,3 persen di antaranya ialah anak sekolah berusia 13-15 tahun.

Sedang Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2015 juga menyatakan, penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas yang mengonsumsi rokok sebesar 22,57% di perkotaan, dan 25,05% di pedesaan. Jumlah batang rokok yang dihabiskan selama seminggu mencapai 76 batang di perkotaan dan 80 batang di pedesaan.

Sementara sang pemilik warung, yang juga tidak ingin disebutkan namanya mengiyakan pengakuan siswa SMA tersebut. Mereka memang sering menghabiskan siang di warungnya, dan ia dengan senang hati menjual rokok kepada mereka, tapi itu tidak setiap hari.

Apabila pada satu hari rombongan siswa SMA itu tidak menghampiri warungnya, akan ada rombongan remaja lain yang jajan di warungnya. Menurutnya, hal itu sudah tidak bisa dihindarkan lagi karena pembeli yang datang ke warungnya sebagian besar ialah remaja tersebut. 

“Waktu awal-awal mereka datang, saya agak berat menjual rokok pada mereka, sesekali saya tegur supaya tidak merokok di sini. Malu diliat orang,” katanya.

Tetapi, menurut pengakuan sang pemilik warung, rombongan remaja itu terus datang, hampir setiap harinya. Baik siang ataupun malam hari. “Sedikit meresahkan memang, tapi kami di sini tidak bisa melarang,” katanya. 

Razia Sekolah

Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak memberikan perhatian serius terhadap bahaya merokok. Selain menyambut baik rencana kenaikan harga rokok, tindakan tegas juga akan diberlakukan. Bagi para pelajar yang terbukti merokok. 

Wali Kota Pontianak Sutarmidji mengancam akan mencabut program sekolah gratis kepada siswa yang terbukti merokok. Bahkan dalam waktu dekat, pihaknya segera melakukan razia ke tiap-tiap sekolah dengan memeriksa gigi masing-masing siswa.

“Semua pelajar di Kota Pontianak akan kami razia, yang terbukti merokok akan dihentikan pendidikan gratisnya. Orang tuanya harus bayar, masa merokok saja bisa, bayar pendidikan tidak bisa,” ungkapnya, Senin (22/8).

Dia memperkirakan paling tidak Pemkot telah mengelurakan biaya pendidikan sebesar Rp1,8 juta untuk satu orang siswa per tahun. Oleh karena itu, jika memang ada yang terbukti merokok dan diberlakukan sanksi, maka dapat menghemat anggaran pendidikan pemkot. 

Setuju Rokok Rp100 Ribu

Wali Kota dua periode ini bahkan mengaku sangat mendukung rencana kenaikan harga rokok yang dinilai dapat membatasi kebiasaan anak remaja yang mulai mencoba-coba  untuk merokok. Gencarnya isu kenaikan harga rokok yang akan mencapai Rp50 ribu per bungkus, bahkan dirasa masih cukup murah.

“Jika perlu rokok itu harganya di atas Rp100 ribu per bungkus, biar semua orang berhenti merokok, karena terbukti biaya yang diperlukan untuk penyembuhan penyakit akibat rokok itu jauh lebih besar,” ujarnya.

Dia berharap jangan sampai terjadi salah persepsi. Mungkin selama ini dampak bagi perokok (aktif) tidak terlalu bahaya bagi dirinya sendiri, tapi asap yang mereka hembuskan justru menjadi masalah bagi orang lain. 

Terbukti dari data yang dia sebutkannya, di Rumah Sakit Paru per tahunnya ada sekitar tiga ribu orang yang ditangani akibat terpapar asap rokok. “Mereka itu bukan perokok aktif, tapi orang yang terdampak asap rokok,” jelasnya. 

Makanya lanjut dia, melarang merokok bukan berarti tidak membolehkan orang yang ingin merokok, tapi mengantisipasi dampak asap yang dikeluarkannya. “Yang milih jadi perokok itu haknya, tapi hak mereka yang tanpa sengaja menghirup asap rokok itu yang juga harus dilindungi,” paparnya.

Karena itu, Pemkot Pontianak melarang orang yang merokok di ruang tertutup karena dapat mengganggu orang lain. “Jika di ruang terbuka mau kunyah rokok sampai 30 batang sekalipun terserah. Tapi kalau di ruang tertutup orang lain jadi korban, itu yang jadi masalah,” katanya. 

Dia menegaskan mereka yang merokok tentu harus menanggung sendiri risikonya. “Boleh saja merokok dalam ruangan, asal asapnya jangan keluar, tapi ditelan, jika tidak bisa maka jangan merokok di dalam ruangan,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Pemkot Pontianak telah mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Kota Pontianak Nomor 10 Tahun 2010 Tentang Kawasan Tanpa Rokok. Bahkan dia memastikan seluruh pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) tidak ada lagi yang merokok. Karena mengganggu efektivitas kerja. Opsi yang diberikan yaitu mempertahankan jabatan atau menolak berhenti merokok dengan konsekuensi jabatan dicopot.

Selain itu, tak hanya di jajarannya saja, Sutarmidji juga menegaskan untuk tidak memasukkan keluarga miskin yang perokok dalam daftar keluarga penerima bantuan cadangan pangan dari Pemkot Pontianak. Alasannya jelas, karena mereka masih dikategorikan mampu. 

Karena untuk membeli sebungkus rokok, semisal harganya Rp13 ribu per bungkus, lalu dikalikan 30 hari, artinya orang tersebut sanggup menghabiskan sekitar Rp400 ribu per bulan hanya untuk membeli rokok. Sementara bantuan cadangan pangan sebanyak 15 kilogram beras hanya senilai Rp150 ribu. (mif/bar)

Berita Terkait