Mewaspadai Sampah Gelondongan Kayu

Mewaspadai Sampah Gelondongan Kayu

  Sabtu, 9 April 2016 06:58
Berpapasan dengan warga menggunakan motor air.

Berita Terkait

SEJAK keberangkatan, Kamis (7/4) dinihari, tak terasa perjalanan Bandong sudah menempuh puluhan kilometer menyusuri Sungai Kapuas. Entah berapa desa dan kampung yang lewati, Sungai Rasau, Suka Lanting, Terentang, Limbung Hilir, Limbong Hulu, Pulau Jambu, Piasak dan Tayan.

Menjelang magrib, Juanda beranjak dari kursi kemudinya. Dai minta salah satu dari anak buah kapal untuk menggantikannya sementara, menjadi juru mudi. Juanda kemudian masuk ke palka dan mempersiapkan diri untuk menunaikan sholat Magrib.

Sebuah kain sarung ia kenakan. Sesekali membenahi peci putih yang sedikit agak miring. Juanda lalu mengambil kain sorban.

Pukul 18.00. seharusnya adzan magrib sudah berkumandang. Namun di Bandong, kami tak mendengar suara adzan. Maklum posisi Bandong saat ini berada jauh dari pemukiman warga. Kita hanya memperkirakan, kapan adzan berkumandang untuk mengawali sholat.

Faisal yang kebetulan duduk tak jauh dari kemudi langsung bergegas mengantikan Juanda menjadi juru mudi. Perlahan malam semakin larut. Tidak ada pemandangan yang bisa dinikmati selain melihat bintang di langit dan cahaya lampu serta deru suara mesin kapal penambang pasir di sekitaran sungai itu. 

Satu, dua, tiga mungkin ada belasan kapal penambang pasir di sana. Suara mesinnya bersahutan tak kalah menderunya dengan kapal dongfeng Bandong yang saya tumpangi ini.

Perlahan Bandong pun mulai jauh meninggalkan kapal-kapal penambang pasir itu. Dan tiba-tiba “arahkan lampunya ke kanan,” perintah Anai, sang juragan Bandong memerin tahkan Faisal yang berada di atas kursi kemudi.

Bagi Faisal mengemudikan Bandong adalah hal sepele, hanya memutar haluan ke kiri dan ke kanan, asal tidak menabrak atau keluar dari alur. Tapi, jika malam hari butuh konsentrasi tinggi. Apalagi tidak ada lampu penerangan seperti di jalan-jalan tol atau perkotaan.

Sungai Kapuas juga tak sebersih sungai-sungai di luar negeri yang bisa kapan saja dilewati tanpa penerangan. Tapi Kapuas? Tak sedikit sampah yang hanyut dari hulu ke hilir mengikuti arus. Celakanya banyak batang kayu berukuran besar yang kapan saja bisa tertabrak kapal.

Faisal sesekali menyalakan lampu sorot kapal untuk mendeteksi dan melihat lebih jelas, apakah ada kayu atau sampah yang mengapung. Untuk urusan jalur, pengemudi Bandong hanya butuh feeling dan sesekali lampu sorot. Mereka tak perlu kompas atau menunjuk arah lainnya, seperti kapal-kapal besar yang mengarungi lautan.

“Kami tidak ada kompas. Urusan alur, kami hanya menggunakan feeling. Kalau sudah terbiasa pasti akan hafal dengan sendirinya,” lanjut Anai.

Anai merupakan panggilan akrab dari laki-laki pemilik nama asli Jumi’an. Dia tergolong pengusaha baru. Ya, baru tiga tahun terakhir menggeluti usaha Bandong ini. Sebelumnya, Anai adalah pengusaha minyak. Lantaran sering kali berurusan dengan polisi, Anai pun meninggalkan usahanya itu dan pindah menjadi juragan Bandong. “Dulu saya usaha minyak. Tapi susah, harus berurusan dengan aparat. Padahal kami berizin,” katanya.

Dengan modal Rp.300 juta yang ada, Anai lalu membeli Bandong dari seseorang. Ia pun beralih profesi menjadi juragan Bandong yang melayani trayek Pontianak-Jongkong, Kapuas Hulu. Tiga tahun sudah, profesinya ini ia geluti. Belakangan ia mengeluh kurangnya pendapatan untuk menutupi biaya operasional. “Sekarang ini barang lagi susah. Tak banyak yang pakai jasa kami. Tidak seperti bulan dan tahun sebelumnya,” keluhnya.(arief nugroho)

Liputan Khusus: 

Berita Terkait