Meriam Karbit Jangan Sampai Tinggal Cerita

Meriam Karbit Jangan Sampai Tinggal Cerita

  Kamis, 20 Oktober 2016 09:30
MERIAM KARBIT: Festival meriam karbit tingkat pelajar SMA se-Kota Pontianak digelar di Jalan Yusuf Karim, Kelurahan Banjar Serasan, Pontianak Timur, Rabu (19/10) sore. IDIL AQSA AKBARY/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Wawako Edi Rusdi Kamtono Buka Festival Meriam Karbit

PONTIANAK - Masih dalam rangkaian kegiatan memperingati Hari Jadi (Harjad) ke-245 Kota Pontianak, digelar festival meriam karbit tingkat pelajar SMA se-Kota Pontianak. Kegiatan ini dibuka langsung oleh Wakil Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono di Jalan Yusuf Karim, Kelurahan Banjar Serasan, Pontianak Timur, Rabu (19/10) sore.

Meski lokasi acara sempat diguyur hujan hingga acara dimulai, antusias warga cukup tinggi untuk menyaksikan agenda tahunan yang kali kedua diadakan ini. Mereka tetap berdatangan memadati lokasi di pinggiran Sungai Kapuas itu.

Tidak hanya kemarin festival ini masih akan berlangsung hingga, Jumat (21/10) besok. Diikuti sebanyak 10 sekolah tingkat SMA, yang terdiri dari belasan kelompok peserta.

Sekitar pukul 16.30, festival pun dibuka dengan penyulutan bersama lima buah meriam secara bergantian. Termasuk oleh Wakil Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono.

"Walau cuaca kurang mendukung, mendung dan hujan, saya harap warga, pemain meriam dan panitia harus tetap semangat," ujar Edi dalam sambutannya.

Dia menuturkan, meriam karbit merupakan salah satu permaianan tradisional yang telah membudaya di Kota Pontianak. Dimainkan terutama saat malam lebaran (Idulfitri). "Ini ciri khas kota, jika saat malam lebaran tidak mendengar suara meriam tentu seolah tidak lebaran, masyarakat pun seolah merindukan suara meriam ini," ucapnya.

Namun kata dia, lain dulu lain sekarang, batang kayu untuk membuat meriam kian sulit didapat. Ditambah harga karbit yang juga cukup mahal. Sehingga untuk menjaga dan merawat, permainan ini tidak lah murah. "Sisa meriam karbit yang masih menggunakan batang kayu tidak banyak lagi, itu harus terus dipelihara dan dilestarikan," katanya mengingatkan.

Menurutnya Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak akan terus berupaya melestarikan dan memberikan bantuan, agar permainan tradisional ini tidak hilang ditelan zaman. Salah satunya melalui momentum Harjad ke-245 Kota Pontianak tahun ini, festival meriam karbit kembali digelar dengan melibatkan para pelajar sebagai peserta.

"Agar permainan ini terus ada, tidak hanya tinggal cerita, bisa dimainkan bukan hanya pada malam lebaran tetapi juga acara lainnya seperti Harjad kota, even-even lokal, nasional bahkan internasional," pungkas Edi.

Ketua Panitia, Salman Busrah menambahkan, even ini digelar bertujuan untuk mengenalkan permainan meriam karbit kepada generasi muda. Sebab tidak semua berkesempatan memainkannya  saat malam lebaran.

"Generasi muda mungkin sudah jarang memainkan ini. Dengan ikutnya pelajar sekolah, mereka yang tidak tinggal di pinggiran Sungai Kapuas juga bisa mengenal dan merasakannya," ungkapnya.

Apalagi meriam karbit baru-baru ini telah didaftarkan di UNESCO, sebagai benda cagar budaya yang bergerak. "Jangan sampai ketika sudah ditetapkan barangnya sudah tidak ada lagi, malu kita. Karena itu penting keterlibatan generasi muda sebagai penerus," tutupnya. (bar)

Berita Terkait