Merekam Kearifan Lokal Kalbar

Merekam Kearifan Lokal Kalbar

  Minggu, 28 Agustus 2016 10:49

Berita Terkait

Kalbar memiliki banyak tempat wisata dengan kearifan lokal yang tak kalah bagus dari provinsi lain di Indonesia. Potensi ini menarik perhatian Komunitas Dokumentasi Lokalitas Kalbar (Dolok). Tak sekadar jalan-jalan, mereka merekam mengemas kearifan lokal itu menjadi film dokumenter.

Oleh : Marsita Riandini

Kalimantan Barat banyak memiliki tempat wisata dengan keindahan alamnya. Hanya saja, potensi ini tak terekspos. Ini menjadi alasan Komunitas Dolok merekam keindahan tersebut dan menjadikannya film dokumenter. Diharapkan dengan film itu kunjungan ke daerah wisata menjadi meningkat.

“Sudah ada belasan film yang kami buat. Tentang keindahan Danau Sentarum, Bekantan di Paloh, wisata bahari di Kalbar, serta tempat lain yang juga berpotensi untuk dijadikan objek wisata,” ujar Ketua Komunitas Dolok, Riyan Hidayat.

Film menjadi pilihan karena dinilai sebagai sarana efektif dalam memberi informasi kepada masyarakat, termasuk kearifan lokal daerah yang ada. Tidak hanya menjadi hiburan semata, masyarakat juga bisa mencerna muatan positif yang ada di film tersebut. Apalagi didukung dengan telepon pintar yang memudahkan masyarakat untuk mengakses film melalui internet.

“Film-film yang dibuat itu kami share ke media sosial, termasuk di youtube. Melalui film yang paling mudah untuk memberikan pembelajaran bagi masyarakat. Film itu simpel, dengan menonton orang bisa paham muatan film tersebut. Apalagi sekarang zaman sudah digital, jaringan internet semakin baik,” ungkap Riyan. 

Anggota komunitas yang terbentuk pada 2014 ini memiliki hobi jalan-jalan. Mereka berasal dari berbagai daerah di Kalbar. Keberagaman anggota ini juga memberi keuntungan tersendiri. Selain menghemat biaya, para anggota ini menjadi sumber informasi dalam menggali potensi daerah masing-masing. 

“Selain pulang kampung, mereka bisa menghasilkan film pendek yang produktif. Karena mereka juga lebih mengerti mana daerah yang bagus dan pantas di kembangkan,” kata Riyan.

Ia mencontohkan dokumentasi tentang Danau Sentarum. Dibuat anggota komunitas yang berasal dari Kapuas Hulu. 

“Ketika pulang kampung, dia bisa sambil liputan. Demikian pula di Paloh, teman kami yang ada disana mendokumentasikan Bekantan Paloh,” jelasnya. 

Komunitas Dolok juga pernah mendokumentasikan Film Dokumenter Menguak Sejarah Prasasti Batu Betulis Abad ke 6. Film ini untuk mengingat kembali kepada generasi muda mengenai perjuangan yang dilakukan para pahlawan. Dari Batu Betulis ini mereka juga mempersepsikan bahwa pada abad ke 6 Kalbar sebenarnya sudah maju. Ada prasasti dalam bentuk batu tulis dan perkembangan seni masa itu.

“Batu Betulis ini sebuah batu peninggalan dari zaman Budha abad ke enam. Hanya saja kurang diekspos ke publik. Padahal kalau ditinjau dari segi manfaatnya ini luar biasa,” tutur Riyan. 

Dalam proses pembuatan film, komunitas ini menggunakan alat-alat seadanya. Tetapi tetap berusaha menghasilkan karya berkualitas. Ada pula beberapa alat yang mereka rakit sendiri agar biayanya lebih murah. 

“Ada yang harganya sekitar Rp3 juta. Tetapi ketika dirakit sendiri modalnya hanya sekitar Rp90 ribu,” ungkapnya, kemudian menunjukkan alat-alat  pendukung produksi film yang mereka buat. 

Tidak semua anggota memahami teknik pembuatan film. Itu sebabnya mereka juga saling berbagi pengetahuan dan ikut berbagai pelatihan pembuatan film. “Kami tentunya belajar bagaimana pengambilan gambar yang baik, teknik editing, serta memberikan pelatihan kepada para anggota,” ujar Riyan. 

Awalnya mereka melakukan kegiatan sendiri. Kemudian ada program dari Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Kalbar. 

 “Awalnya kami masih sendiri, kemudian ada program dari Dispora Provinsi yang memfasilitasi kami, sehingga kami buatlah Komunitas Dolok ini. Siapa pun boleh bergabung. Kata Dolok jika diartikan dalam bahasa Melayu artinya duluan, bisa juga masa lalu. Jadi kami meliput segala aspek kearifan lokal yang ada di Kalbar,” pungkasnya. ** 

Berita Terkait