Merekam Aktivitas Wisata Religi saat Umrah

Merekam Aktivitas Wisata Religi saat Umrah

  Rabu, 22 June 2016 09:30
PAMERAN: Pengunjung menikmati pameran tunggal bertajuk Holy Picnic karya Nunung Prasetyo di Galeri Canopy Center Pontianak. ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Foto sering sekali ditempatkan sebagai kesaksian atas satu peristiwa. Demikian juga apa yang ingin Nunung Prasetyo sajikan melalui pameran tunggal fotografi yang bertajuk Holy Picnic di Galeri Canopy Center, Pontianak.

ARIEF NUGROHO, Pontianak

MALAM itu, Sabtu (18/6) sekira pukul 20.30. Derai air jatuh dari langit tak henti-hentinya membasahi bumi sedari pagi. Namun tak menyurutkan langkah para penggiat dan penikmat fotografi untuk datang ke sebuah galeri pameran Canopy Center di Pontianak.  

Sebuah pameran fotografi bertajuk Holy Picnic karya Nunung Prasetyo dipamerkan. Ada sepuluh karya foto yang mengabadikan peristiwa religi (umrah) fotografer bersama istri, orangtua, sanak keluarga dan tak kalah penting adalah Saka Kemal, anak semata wayang yang masih berumur lima. Semuanya tampak alami dan nyata. “Ini adalah pameran tunggal bertajuk Holy Picnic yang ketiga,” kata Nunung Prasetyo, laki-laki kelahiran Bantul, Yogyakarta yang pernah berkarir di media massa di Pontianak ini.

Pameran pertama, kata Nunung digelar di Mes 56 Yogyakarta pada Maret 2016 dan kedua di Seoul di Korea Selatan.

Dalam Holy Picnic, Nunung Prasetyo berusaha menceritakan sebuah sisi romantis atas pengalaman ziarah, tentang nilai-nilai keluarga tentang cinta dan kerinduan seorang ayah kepada anaknya.

Pada pameran ini, Nunung menjadikan arsip dan pengalaman pribadinya sebagai materi untuk menyusun proyek pameran ini. Dengan mengandalkan nalurinya sebagai suami dan bapak yang selalu ingin dekat dengan anaknya mendorong Nunung untuk menyusun kembali cerita ideal, perjalanan ziarah sesuai dengan yang diinginkan. Situasi di mana ia bisa mengajak anaknya untuk turut memiliki pengalaman secara fotografis berada di Arab Saudi.

“Sejak kecil saya selalu diimpikan untuk bisa naik haji. Kebetulan pada Januari 2016, kami berangkat ke Mekah, saya tidak ingin melewatkannya begitu saja. Saya ingin anak saya turut memiliki pengalaman secara fotografis,” katanya.

Di dalam foto-foto yang dipajang, Saka berpose layaknya anak-anak. Bermain sepeda, memegang pistol mainan, kuda lumping, cone es krim, dan lainnya.

Wajah bocah yang riang dan badannya yang gempal memancing senyum, sekaligus menyegarkan suasana dalam rekaman peristiwa ini.

Nunung mengakui, teknis yang paling sulit adalah bagaimana menambahkan Saka di foto sehingga menjadi bagian yang wajar dalam foto itu. Ia harus memperhitungkan benar faktor pencahayaan, posisi dan ukuran. Bahkan termasuk hal kecil seperti ekspresi orang lain berkaitan dengan kehadirannya.

Menurut Nunung, ide untuk membuat pameran ini berawal dari kedekatannya dengan sang anak. Meski masa umrah relatif tidak lama, sekitar sembilan hari, tapi rasanya berat bagi keduanya untuk berpisah. Maka sebelum berangkat umrah pada Januari 2016, Nunung sudah merancang untuk membawa anaknya secara imajiner. Saat memotret di Tanah Suci, ia mempersiapkan ruang bagi posisi anaknya di tengah keluarganya atau di antara obyek foto. Misalnya, menggeser posisi berdiri anggota rombongan yang difoto. 

Di Arab Saudi, pengambilan foto dilakukan di tiga tempat, yakni Mekkah, Madinah, dan Jedah. Kemudian pengambilan foto Saka dilakukan di Yogya. Saka difoto dalam berbagai pose dengan beberapa kemungkinan cahaya lantas diolah lewat photoshop.  Total proses persiapannya, kata Nunung, sekitar dua bulan, sejak Oktober 2015. Proses ini jelas membutuhkan kesabaran. “Termasuk membujuk Saka supaya mau difoto berkali-kali,” ujanya.

Maka jadilah foto-foto yang didalamnya ada Saka yang sedang memegang es krim bersama rombongan di Quba’ Mosque, Medina, memegang kuda lumping di depan sebuah toko di Corniche Market, Jeddah, bahkan duduk di atas sepeda di samping rombongan di Mantiqoh Baidho, Medina. Foto lain yang cukup menarik adalah saat Saka melangkah di atas lantai di Masjidil Haram, Mekah seperti layaknya jamaah sedang melaksanakan Tawaf. 

Menarik pula saat Saka berdiri di sisi mobil di Ibrahim Al Khalil St. Ada juga orang asing sedang menatap ke arahnya, mengesankan bahwa keduanya memang sedang melihat Saka. Padahal, menurut Nunung, kedua orang itu melihat ke arah obyek jepretan Nunung yang secara imajiner menempatkan Saka di sana.

Ada juga Saka sedang berjalan menyeret mobil mainannya di kerumunan warga di Ibrahim Al Khalil St. Semua tampak alami dan nyata.

Dalam pameran ini, Nunung yang merupakan lulusan Fotografi Institute Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini sudah berhasil membawa Saka untuk umrah bersama.

Pameran tunggal ini dibuka secara resmi oleh Edi Rusli Kamtono, Wakil Wali Kota Pontianak. Dalam kesempatan itu, Edi memberikan apresiasi. Menurut Edi, biacara soal fotografi tidak aka nada habisnya. Industri kreatif khususnya fotografi memiliki perkembangan yang cukup pesat, mulai dari kamera analog hingga digital. Hal itu juga mempengaruhi pada kualitas.

Dikatakan Edi, fotografi tidak semata-mata hanya sebatas seni, tetapi juga bisa menghasilkan sesuatu yang lebih jika dilakukan secara professional.(*)

Berita Terkait