Mereka yang Ditolak Keluarga

Mereka yang Ditolak Keluarga

  Senin, 16 November 2015 09:00

Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Kalbar kelebihan kapasitas. Banyak pasien tinggal bertahun-tahun di sana. Mereka yang layak pulang tertahan. Ada yang tanpa tujuan. Padahal mereka berharap bisa pulang. Hidup normal di masyarakat. Malangnya, sudah belasan orang meninggal di ruang sempit rumah sakit. Karena ditolak keluarga.IDIL AQSA AKBARY, Singkawang

Matahari sudah tepat di atas kepala. Waktunya makan siang di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Kalbar, Buduk, Kecamatan Singkawang Timur, Rabu (11/11). Di sebuah bangsal khusus laki-laki bernama Enggang, puluhan pasien rawat inap tengah bersiap makan bersama. Duduk berjajar rapi di lantai depan tempat tidur. Menunggu makanan yang akan dibagikan. Mereka umumnya pengidap gangguan jiwa yang sudah tenang.

Sambil diawasi perawat, sebagian dari mereka ada yang membantu mengambil dan membagikan makanan. Sesekali terdengar teriakan agar makanan segera dibagikan. Satu orang terlihat bertugas membawa seember air. Berjalan mengedarkannya ke setiap pasien untuk cuci tangan. “Yang belum cuci tangan, cuci tangan dulu!” perintah seorang perawat.

Usai semua mencuci tangan, satu dari mereka memimpin doa. Nasi dan lauk pauk di piring seng masing-masing langsung lahap mereka santap. Gaya makannya beragam. Ada yang sudah minta tambah sebelum habis. Ada yang sampai menjilat piringnya. Bahkan ada yang sengaja menunggu sisa-sisa di piring orang lain untuk dihabiskan.

Botak, bukan nama sebenarnya, tampang sigap melahap makanannya. Pria 37 tahun itu salah satu yang tercepat menyelesaikan makan siang. Botak mengaku asal Kota Singkawang. Waktu itu dia lebih memilih makan bubur ketimbang nasi. “Saya makan bubur saja. Kenyang mau makan nasi,” katanya sambil makan tanpa menggunakan sendok.

Bagi Botak, ini sudah tahun kelima hidup di RSJ, sejak ia dikirim keluarganya karena sering mengamuk dan marah-marah di rumah.Lama di rumah sakit jiwa, dia sangat mendambakan pulang. Sudah tujuh kali keluar masuk RSJ. Yang terakhir ini keberadaan keluarganya tidak diketahui. “Dulu ada keluarga di Setapuk (Singkawang) tapi sudah pindah. Ada keluarga jauh di Singkawang tapi tidak mau menerima. Dihubungin malah tidak mengaku keluarga. Mereka mungkin tidak tahu saya sudah berubah,” ujar lulusan sebuah SMK tahun 1996 itu.

Budi merasa sudah mengerti apa yang dilakukan. Dia pun mengaku sudah bisa mengontrol diri agar tidak mengamuk dan marah-marah. Awalnya dia merasa betah tinggal di RSJ karena perlu untuk berobat. Setelah sekian lama ia mulai bosan.“Saya ingin hidup normal seperti orang-orang biasa. Tidak jadi pasien terus. Jika suatu saat kambuh lagi saya bersedia dibawa ke sini lagi. Saya ingin pulang, tapi tak tahu mau ke mana,” ucapnya dengan suara lirih.

Masalah yang dialami Botak cukup banyak menimpa pasien-pasien lain. Sebagian keluarga pasien tidak mau menerima mereka pulang ke rumah. Pertama karena stigma yang berkembang di masyarakat. Ketika ada keluarga yang sakit jiwa ada rasa malu untuk menerimanya kembali. “Bahkan lebih parah, ada keluarga yang tidak mau mengakui,” ujarnya.

Kedua ada trauma di masyarakat. Terutama pada pasien yang latar belakang kasusnya membunuh atau suka bikin keributan. Ditakutkan mereka bisa saja mengulanginya kembali.Seperti yang dialami Maman, bukan nama sebenarnya, pria berusia 35 tahun. Peristiwa terjadi tahun 2006, hanya karena uang Rp200 ribu miliknya dicuri seorang bocah, dia nekat membunuh. Perilakunya abnormal karena merasa dihantui bisikan-bisikan yang terdengar di telinganya.

Kini pria asal Sambas itu masuk kategori tenang dan layak pulang. Sering kali ia juga ikut program rehabilitasi seperti pengajian dan ceramah. “Saya sudah normal, ingin pulang tapi keluarga tidak pernah besuk. Waktu itu saya sempat mau pulang tapi polisi yang mengantar saya ke sini bilang keluarga saya sudah tidak mau menerima saya,” tutur Maman.

Kasus serupa juga dialami pasien lain, sebut saja Roni. Lelaki berumur 30 tahun ini dikirim ke RSJ karena saat kambuh sering memukul ibunya. Pria yang sekolah hanya sampai kelas empat sekolah dasar ini mengaku ingin sekali pulang ke rumah. Dia ingin membantu ibunya mencari nafkah. Kembali menjadi tukang parkir seperti sebelum masuk ke RSJ.

“Saya telepon abang minta jemput dia bilang tidak usah ikut campur. Saya masih menunggu sampai ada yang jemput,” katanya.Dari data di RSJ, alamat rumah Roni kurang lengkap. Hanya tercantum nama salah satu kelurahan di Singkawang. Pontianak Post kesulitan untuk mencari rumahnya. Saat dikonfirmasi melalui nomor telepon yang tercantum, abang tertua Roni lah yang mengangkat. Menurut abangnya, Roni sehari-hari hanya tinggal berdua bersama ibunya, sementara ayahnya telah lama meninggal dunia. Dia sendiri tinggal terpisah di Kabupaten Sambas.

Dia mengatakan pasti akan segera menjemput Roni jika memang sudah layak pulang. Namun dia meminta jamianan dari pihak RSJ bahwa Roni betul-betul sudah tenang sehingga tidak akan kembali mengulangi perbuatannya memukuli sang ibu. “Saya takut dia seperti dulu lagi, bahaya,” imbuhnya.Rindu rumah juga dirasakan pasien lainnya Ali, bukan nama aslinya. Dia menceritakan awal masuk RSJ karena sering pergi jalan kaki sendirian. “Kaki saya pincang dari lahir, jadi tidak bisa naik sepeda atau motor. Ke mana-mana saya jalan. Ayah saya bilang saya gila terus diantar ke sini,” kenangnya.

Informasi terakhir yang ia ketahui keluarganya sudah pindah rumah. Menurutnya sang ayah sempat datang menjenguk lalu mengatakan semua keluarga tidak ada lagi di Pontianak. Ali pun tidak bisa pulang. “Ayah sempat bilang seperti itu, waktu itu umur ayah 73 tahun. Jika dia tidak datang-datang lagi mungkin sudah meninggal,” ujar dengan mata berkaca-kaca.

Uniknya pria ini mengaku lulusan S-1 di salah satu perguruan tinggi swasta di Pontianak. Segala pertanyaan tentang pendidikannya cepat bisa ia jawab. Nama sekolah dari mulai SD sampai kuliah masih diingatnya bahkan sampai alamat lengkap sekolah secara detail.

“Nilai IPK juga saya masih ingat 2,55, saya kuliah selama lima tahun, jurusan manajemen di wisuda di PCC tahun 2006. Semua ijazah saya ada dengan abang yang pertama,” jelasnya.Ali ingin sekali pulang, namun bingung hendak ke mana. “Pulang ke Pontianak tidak tahu mau ke mana. Ingin kerja pasti susah. saya sudah terlanjur lama di sini, jika orang tahu kita bertahun-tahun di sini siapa yang mau menerima kerja,” keluhnya.

Wakil Direktur II RSJ Kalbar Bambang Tri Wahono mengakui bahwa ada banyak pasien yang tidak diterima kembali keluarganya. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab RSJ ini kelebihan kapasitas. Banyak pasien kiriman atau rekomendasi dari Dinas Sosial (Dinsos) menumpuk karena tak ada tujuan pulang.“Alamat rumahnya tidak  ada. Di Dinsos juga tidak ada rumah singgah untuk menampung, alasannya selalu seperti itu,” katanya.

Selain itu, Bambang juga bercerita, pernah ada kejadian, saat akan memulangkan pasien, seluruh warga di kampung asal pasien membuat pernyataan menolak. Alasannya karena si pasien sering meresahkan warga.“Semua warga tanda tangan menolak. Jika seperti itu kami bisa berbuat apa. Bahkan ada juga yang sudah kami pulangkan tapi diantar lagi sampai depan jalan sana,” terangnya.

Seperti yang terjadi dua bulan lalu terhadap salah satu pasien, sebut saja bernama Andi. Dia sudah dipulangkan. Rumahnya pun sangat jauh dari RSJ, tepatnya di daerah Karangan, Kabupaten Sanggau. Tiba-tiba beberapa hari setelah pulang, dia ditemukan berada di depan jalan masuk ke RSJ. “Logikanya pasti ada keluarganya yang mengantar. Dalam satu tahun mungkin ada satu atau dua kali kejadian seperti itu. Mau atau tidak mau harus kembali kami tampung,” ucapnya.

Saat ditemui di bangsalnya, Andi mengatakan, dia bisa kembali ke RSJ memang diantar seseorang. Hanya saja dia tidak ingat persis siapa yang mengantar. “Orang-orang di sana mengatakan saya gila. Jadi saya bilang saja biarlah saya gila agar balik lagi ke sini dari pada saya mukul orang,” terang kakek bergigi ompong itu. (*)