Mereka Harus Kehilangan Nyawa dengan Cara Kejam

Mereka Harus Kehilangan Nyawa dengan Cara Kejam

  Rabu, 18 November 2015 09:16
DUKA PARIS: Seorang perempuan meletakkan foto saudaranya yang menjadi korban aksi penyerangan di Paris. REUTERS

Berita Terkait

Akhir pekan lalu sangatlah emosional bagi saya pribadi. Seusai mendengarkan kesaksian beberapa korban di International People’s Tribunal di Den Haag yang membuat para hadirin tak kuasa menahan air mata, saya kembali ke Paris dengan berita yang menyayat hati. Tak kurang dari 129 orang meninggal akibat aksi terorisme yang brutal.
---------------
Bus yang akan saya tumpangi untuk kembali ke ibu kota Prancis terlambat datang sekitar dua jam. Saya bersama penumpang lainnya hanya bisa bersabar menunggu. Ketika itu, seorang penumpang dari Hongkong yang kebetulan memiliki koneksi internet mendapat kabar dari rekannya bahwa baru saja terjadi penembakan di Paris.Saat itu, saya tidak menduga bahwa kejadian tersebut begitu serius dan memakan banyak korban. Seorang penumpang lain dari Prancis pun mencurigai keterlambatan bus kami dikarenakan penutupan perbatasan negara sebagai reaksi dari aksi penembakan.
Benar saja, ketika akhirnya bus kami pun datang dan melaju kembali ke Paris, sopir bus harus menjelaskan kepada salah satu penumpang bahwa ia tidak menjamin akan bisa melewati perbatasan. Pemerintah Prancis memang langsung mengumumkan penutupan perbatasan, meski akhirnya kami pun tetap bisa masuk ke Paris.
Tak kurang dari 129 orang meninggal akibat aksi terorisme yang brutal ini. Paris berlumuran darah. Orang-orang tersebut tidak tahu-menahu apa yang terjadi. Mereka hanyalah rakyat biasa yang sedang menikmati konser dan pertandingan bola. Ketika suara tembakan dan ledakan terdengar,banyak di antara mereka yang dengan naifnya berpikir bahwa itu adalah bagian dari pertunjukkan. Kemudian segala sesuatunya terjadi begitu cepat. Para teroris menembaki orang-orang di sana satu per satu layaknya menembaki burung.
Orang-orang ini, mereka harus kehilangan nyawa dengan cara yang kejam. Mereka menjadi korban pergolakan politik internasional walaupun tidak terlibat secara langsung. Sulit untuk tidak merasa takut dan trauma setelah apa yang terjadi. Ini sangatlah manusiawi.Saya merenung, apa yang membedakan korban-korban tersebut dengan saya? Tidak ada, sepertinya. Apa yang membuat mereka lebih pantas untuk mati dibanding orang-orang lainya? Tidak ada, saya yakin. Mereka hanyalah pelajar maupun pekerja yang sedang berusaha menghilangkan rasa penat mereka ketika beraktivitas di tengah minggu dengan menikmati musik dan pertandingan bola. Dua hal yang seringkali menjadi duta perdamaian dunia; dua hal yang dikatakan dapat menyatukan manusia terlepas perbedaan-perbedaannya.
Mereka meninggal tidak dalam sebuah demonstrasi politik atau hal semacamnya; mereka meninggal ketika sedang menikmati hidup. Saya dapat membayangkan diri saya di antara para korban. Andai saya sedang minum kopi di kafe di dekat tempat kejadian atau menonton pertunjukkan musik itu, mungkin saya menjadi salah satu korbannya. Saya dan mereka tidak ada bedanya di mata para teroris itu.
Setelah kejadian ini, mata dunia tertuju pada Paris. Sama halnya ketika terjadi penembakan Charlie Hebdo awal tahun ini. Memang perlu diakui bahwa mungkin ada bias pemberitaan dari media internasional. Namun, saya yakin bahwa di benak orang-orang yang berempati dengan kejadian Paris, nyawa rakyat Paris tidaklah lebih berharga dibandingkan nyawa rakyat Beirut atau rakyat Ankara. Empati bukanlah permainan menang dan kalah (zero sum game) di mana empati kepada satu hal berarti tidak ada empati pada hal lainnya. Saya berempati kepada korban-korban di manapun mereka berada. Saya berempati dan saya berduka. Nyawa manusia, apa pun warna kulit dan kewarganegaraannya, sangatlah berharga.
Yang sungguh mengerikan dari aksi teror di mana pun itu adalah kemampuan teroris ini untuk mendehumanisasi korban-korbannya; mengubahnya dari subjek yang memiliki emosi dan kepribadian menjadi layaknya objek atau benda mati. Manusia seolah-olah kehilangan individualitasnya. Ia direduksi menjadi label-label yang menempel padanya. Label ini pun seolah cukup untuk menjustifikasi perlakuan tidak manusiawi padanya, apapun label tersebut. Ini adalah bahaya yang harus dihindari: bahwa kompleksitas manusia hilang dan tersimplifikasi.Ketika berada di Den Haag, saya berpikir bahwa kekerasan kemanusiaan di masa lalu sudah mulai bisa diungkap dan diselesaikan. Namun, saya salah karena mengira bahwa kekerasan ini merupakan masa lalu. Ketika tiba di Paris, kekerasan yang baru yang lain lagi muncul. Kini, saya menyadari bahwa perlawanan akan kekerasan adalah perlawanan yang terus-menerus.

Penulis adalah warga Pontianak yang menempuh studi sosiologi dan filsafat politik di Universitas Paris Diderot.

 

Berita Terkait