Mereka ‘Pahlawan’ Kebersihan

Mereka ‘Pahlawan’ Kebersihan

  Selasa, 10 November 2015 08:47

Berita Terkait

Pahlawan masa kini, bagi kami, adalah sosok manusia biasa seperti kita. Lengkap dengan segala kekurangan dan kelebihan. Namun, melalui profesinya, mereka mampu memberi lebih kepada masyarakat. Karena itu, pada peringatan Hari Pahlawan tahun ini, kami memberikan apresiasi kepada mereka melalui halaman ini. Ya, mereka adalah pasukan kuning dan penyapu jalanan. Di tengah padatnya arus lalu lintas dan panasnya terik matahari, mereka mengabaikan rasa letih untuk memastikan jalan Kota Pontianak bersih dari sampah. Oleh : Marsita Riandini

MULAI subuh sekitar pukul 04.00, pasukan kuning menyebar di sepanjang jalan raya Pontianak. Mereka menyapu daun-daun kering yang berguguran di jalan, memungut sampah, dan membuangnya ke tempat pembuangan akhir (TPA). Pekerjaan tukang sapu jalanan, tukang angkut sampah tak dipungkiri masih dianggap remeh oleh sebagian orang. Padahal, secara tidak langsung mereka inilah pahlawan lingkungan. Terutama ketika musim buah tiba, sampah kian menggunung. Jika tak segera dibersihkan,  suasana kota pun menjadi tidak nyaman.

Tingginya tingkat konsumsi masyarakat, terutama masyarakat perkotaan membuat terjadinya penumpukkan sampah di beberapa tempat pembuangan sampah. Jika ini tidak segera dilakukan pembersihan, maka tumpukkan itu akan semakin bertambah, bahkan akan mengganggu aktivitas masyarakat, terutama pada kesehatan. Apalagi bila sampah dibuang secara sembarangan.

Tentu kita harus berterima kasih dengan para pahlawan lingkungan, seperti tukang angkut sampah dan penyapu jalanan yang setiap pagi menyapu dan memungut sampah. Bekerja sejak pukul 05.00 wib, mereka harus menyapu di sepanjang aera yang  sudah ditentukan. Setiap paginya ada pengawas yang melihat pekerjaan mereka, terutama bersih dari sampah-sampah plastik dan pasir.

Muhammad Marzuki (31 th), warga  Pontianak Kota ini salah satunya. Sudah lima tahun dia menekuni pekerjaan ini. Saat ditemui For Her, ia sedang membersihkan sekitar kawasan Kom Yos Sudarso. “Turun dari rumah setelah shalat subuh, kemudian mulai menyapu,” jelasnya.

Meski pekerjaan ini tidak membutuhkan keahlian, dan diakuinya tidak begitu kesulitan, namun ada beberapa kendala yang dihadapi. Salah satunya ketika masyarakat dengan sengaja membuang sampah sembarangan. “Kadang khan sampah yang di sekitar jalan raya sudah dibersihkan, lalu ada orang yang membuang sampah tidak memasukkan pada tempatnya. Jadi sayalah yang membersihkannya lagi,” ulasnya.

Demikian pula yang dirasakan oleh Jaki (36 th). Meski sudah lima tahun bekerja sebagai tukang sapu di jalanan, dia mengaku kerap muncul rasa takut saat kendaraan banyak yang lalu lalang. “Kadang ngeri jugalah,” beber pria yang tugas menyapunya dari Puskesmas Alianyang hingga ke perempatan ini. Sebenarnya, dia ingin sekali turun lebih awal untuk menghindari kendaraan yang ramai. Tapi sebelum jam lima, kondisi masih gelap, banyak sampah yang tidak terlihat. Tak banyak yang bisa ia lakukan, selain berhati-hati saat menjalankan rutinitas pekerjaannya. 

Musim penghujan seperti sekarang ini juga membuat mereka kesulitan. Sampah-sampah menjadi basah, sehingga harus dipungut dengan tangan. Inilah yang membuat kerja menjadi lambat. “Kalau musim hujan itu daun jatuh semua, dan basah. Jadi susah menyapunya,” terang warga transmigrasi asal Jawa Timur ini. Saat hujan turun, ia tetap harus bekerja memungut sampah. Meskipun ada kebijakan untuk tidak menyapu, melainkan cukup memungut sampah yang besar saja. Tetapi jika hujannya cukup lebat, mereka dibolehkan tidak bekerja.

Warga Kota Baru ini berharap, kelak kedua anaknya bisa tumbuh menjadi anak yang berkualitas dan mendapatkan pekerjaan yang layak. “Semoga saja kehidupan anak saya lebih baik lagi. Tidak bekerja seperti saya ini,”  jelasnya.

Di kawasan berbeda, ada Suroto. Lelaki ini ditemui tengah membawa karung untuk menampung sampah-sampah yang disapunya. Di usianya yang lebih dari setengah abad, ia mengaku pernah disenggol kendaraan ketika menyapu di jalan Abdurrahman Saleh. “Padahal saya sudah di pinggir, tapi masih kena senggol juga. Mungkin karena subuh hari masih agak gelap situasinya. Untunglah tak ada luka berarti, saya masih bisa melanjutkan kerja,” ujarnya. Baginya, pekerjaan menyapu jalanan menjadi mata pencahariaan yang bisa menghidupi diri dan keluarganya. Namun dengan honor tak seberapa itu, untuk menyambung hidupnya, ia terpaksa masih harus mencari pekerjaan tambahan diluar kerja utamanya. “Kalau pagi saya nyapu, lanjut siangnya saya kerja buruh atau mengambil pekerjaan apalah itu yang bisa buat tambah-tambah uang belanjaan,” bebernya. Dia pun berusaha menikmati pekerjaan ini dengan suka dukanya. “Anggap saja nyapu jalan ini adalah olahraga, dapat duit sembari menyehatkan badan,” pungkasnya. **

 

Berita Terkait