Merayakan Puncak Pemulihan Hubungan

Merayakan Puncak Pemulihan Hubungan

  Jumat, 25 December 2015 08:48   591

Oleh: Pdt. Paulus Ajong, M.Th

 

Natal adalah peristiwa lahirnya Yesus Kristus ke dunia (bdk. Yoh. 3:16). Sebagai wujud inisiatif Allah untuk  “memulihkan kembali hubungan-hubungan”yang telah rusak akibat kejatuhan manusia dalam  dosa (bdk Kej. 3). Dosa menyebabkan rusak hubungan manusia dengan Allah dan  rusak pula hubungan manusia dengan sesama dan alam sekitarnya.  Sejak manusia (Adam dan Hawa)jatuh ke dalam dosa, seterusnya semua manusia telah berdosa (Roma 3:23).

Akibatnya, manusia cenderung membangun hubungan bukan seperti yang dikehendaki Allah yaitu hubungan penuh kasih, Kepedulian, Solidaritas dan Kerelaan berkorban dan berbagi dengan sesama. Sebaliknya antar sesama kuat semangat pementingan diri sendiri, kebanyakan manusia hanya mau menerima daripada memberi, hanya mau mendapat daripada berbagi, rela korbankan orang lain untuk kepentingan diri sendiri. Bahkan antar sesama tidak memanusiakan sesama, sehingga manusia menjadi serigala bagi sesamanya.

Tidak jarang hubungan antar sesama menunjukkan dua hubungan ekstrem. Ekstrem di satu sisi, bahwa antar sesama berusaha untuk saling menutup diri, menarik diri, memisah diri, mengisolasi diri untuk tidak terbuka, sulit menerima pihak lain yang dianggapnya berbeda (suku, agama, ras,dll). Dan ekstrem di sisi lain, hubungan diwarnai saling mendominasi, saling menguasai, saling meng-eliminasi,dan intolerasi yang diikuti kekerasan dan konflik terhadap pihak lain yang dianggap bukan kategori sebagai sesamanya.

Kerusakan hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan sesama serta alam sekitar berikut dampaknya, tidak sesuai dengan rencana dan rancangan Allah. Karenanya, Allah tidak membiarkan kerusakan hubungan akibat dosa membawa manusia pada saling membinasakan dan mengalami kebinasaan kekal (Yoh 3:16). Allah berinisiatif memulihkan hubungan-hubungan yang telah rusak, baik antara manusia dengan  Allah maupun antar sesama manusia dan alam sekitar. Kelahiran Yesus adalah Puncak Pemulihan hubungan.

Kelahiran Yesus Kristus wujud Allah menyatakan Kasih-Nya bagi manusia. Supaya manusia menerima KasihNya dan dapat memantulkan Kasih-Nya dalam hubungan kemanusiaan yang dipenuhi: kebencian, iri, dengki, dendam, niat jahat yang lumrah terjadi antarsesama.

Kelahiran Yesus adalah wujud “Kepedulian” Allah bagi manusia. Supaya siapapun yang menyambut dan merayakan Natal menikmati kepedulian Allah, merayakan semangat kepedulian terhadap sesama, dengan mau memberi dan berbagi; di tengah kecenderungan semangat pementingan diri, sulit memberi dan berbagi.Memberi dan berbagi bukan hanya dalam arti materi, tetapi juga memberi hati untuk berbelas-asih terhadap pergumulan sesama, memberi mata dan telinga, untuk melihat dan mendengar derita sesama, dan memberikan senyuman segar untuk menguatkan sesama yang kehilangan semangat dan motivasi.Kategori sesama adalah manusia, apapun latar belakang suku, agama dan asal-usulnya.

Kelahiran Yesus adalah wujud solidaritas dan belarasa Allah terhadap manusia yang menderita, terpinggirkan, yang kemanusiaannya terabaikan oleh berbagai situasi sulit karena kemiskinan, sakit penyakit, kebodohan, termarjinal. Merayakan dan menyambut Natal berarti merayakan semangat saling berbela rasa, berempati  terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan; ditengah-tengah kemanusiaan yang telah mati hati nurani, tidak tergerak belas-asih bagi sesama yang memerlukan pertolongan; yaitu mereka yang di pinggiran jalan, di rumah-rumah panti, mereka yang sakit tidak mampu ke rumah sakit karena keterbatasan biaya.

Kelahiran Yesus adalah wujud pengorbanan Allah. Ia rela mengorbankan orang yang dikasihi untuk turun ke dalam dunia, menjadi sama dengan manusia (Fil.2:7), turun dari sorga yang mulia, lahir dalam kondisi hina, bahkan selanjutnya dikorbankan untuk kebaikan manusia. Menyambut dan merayakan Natal berarti merayakan semangat rela berkorban untuk kebaikan orang lain, kemanusiaan; di tengah kecenderungan banyak orang justru saling mengorbankan. Selamat Merayakan Kasih, Kepdulian, Belaras dan Pengorbanan untuk kebaikan bersama. (*)

*) Pendeta GKE Pintu Elok Pontianak