Merawat Ingatan dengan Mendirikan Pedagi Lewat Puisi

Merawat Ingatan dengan Mendirikan Pedagi Lewat Puisi

  Kamis, 10 December 2015 09:43
BUKU PUISI : Telah terbit buku puisi berjudul "Ombon, Perempuan Pengembara". Buku ini mendapat respon positif dari para kritikus. MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Buku adalah mahkotanya wartawan. Jurnalis Pontianak Post Budi Miank akhirnya menerbitkan sebuah buku kumpulan puisi. Mengambil konteks lokal dan ke-dayak-an, buku ini mendapat respon positif dari para kritikus sastra.  ARISTONO, Pontianak

TERDIRI atas 110 halaman, buku berjudul “Sajak-sajak Budi Miank; Ombon, Perempuan Pengembara” ini berisi puisi-puisi pendek yang ditulisnya sendiri. Sebagian besar puisi tersebut pernah menghiasi halaman Sastra Pontianak Post yang terbit setiap hari Minggu. Di tengah kesibukannya sebagai redaktur dan jurnalis di koran ini, dia masih meluangkan waktu untuk menyalurkan bakat sastranya.

Namun secara khusus, buku ini lahir karena kerinduan Budi Miank terhadap rumah masa kecil dan riwayat panjang ibunya yang dalam hidupnya bermigrasi dari satu rimba ke rimba lain. “Riwayat itulah yang perlu ditulis, dia (ibu) yang ditempa alam mewariskan kesetiaan, baik sebagai ibu juga keimanannya,” kata dia.

Memorinya terhadap ibu tertuang dalam puisi berjudul Ombon. Memandang wajah Ombon seperti menyelami samudera sejarah. Perjalanan sebuah kaum pengembara, membawa kaki-kaki menelusuri belantara. Menapaki riwayat panjang gelombang perpindahan orang-orang. Dari satu rimba ke rimba lainnya.

Buku ini terasa lebih berwarna lantaran ada gambar-gambar sederhana di dalamnya. Ilustrasi yang menyelingi halaman-halaman puisi itu merupakan coretan putri tercintanya Vanessa GB, yang oleh penulis ditulis sebagai ilustrator. Coretan itu dibuat ketika Vanessa berusia tiga tahun. Anak sulungnya itu kini duduk di kelas lima di SD Suster Pontianak. “Ini sebenarnya kolaborasi bapak dan anak,” katanya.

Kumpulan puisi ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak, di tengah produktivitas sastra tulisan Kalbar yang masih kurang banyak. Sastrawan sekalian wartawan, Alexander Mering mengungkapkan Budi Miank adalah satu dari banyak orang yang mengalami lompatan budaya di bumi Kalimantan. Dari kehidupan di pedalaman menuju perkotaan. Namun Budi yang kelahiran Angan Tembawang, Landak ini tetap merawat ingatannya pada nilai-nilai adat-istiadat lama di kampungnya.

Mering menyebut buku ini sebagai mendirikan pedagi lewat puisi. Kendati demikian, tulisan tersebut juga dipadu dengan puisi-puisi berkonteks kekinian dan budaya urban Pontianak. “Dia juga memotret dan berbicara konteks kekinian, tentang cinta dan bencana lingkungan yang dilahirkan dari kebijakan pembangunan,” sebut Mering.

Korrie Layun Rampan, kritikus sastra Indonesia misalnya mengatakan, kumpulan puisi ini menambah referensi tentang Dayak lewat bahasa puitis. “Puisi-puisi tematik tentang Dayak masih sangat langka. Kumpulan puisi ini khas mengangkat khasanah dan dunia Dayak, seperti; pedagi, tembawang, hutan, dan lading. Ini sastra kontekstual, sekaligus regional,” kata dia. Buku ini kemudian menjadi buku terakhir yang di-endorsement Korrie Layun Rampan, sebelum bermigrasi ke dimensi lain pertengahan November lalu. Korrie meninggal dunia dengan warisan sastra yang luar biasa.

Hal yang sama diungkapkan oleh penulis lainnya, R Masri Sareb Putra. Menurutnya sastra yang berhasil harus beralas kaki sosial budaya. Budi Miank memiliki hal tersebut dalam karyanya. “Penyair melukisnya dengan kata konteks sosial dan budaya masyarakat tempat tinggalnya secara simbolik. Meski sebenarnya ekayaan suatu masyarakat mahaluas dimasukan dalam medium sekecil puisi. Tapi itulah symbolic reality, yakni sastra yang mencerminkan realitas budaya yang lebih besar,” ucap pengajar menulis kreatif ini.

Sementara itu Nano L Basuki, sastrawan Kalbar yang juga pendidik menilai isi dari buku tersebut dapat dinikmati sesiapa saja, penyair bahkan awam.  “Ia cukup fasih berbahasa metaforis, meski sederhana namun renyah dibaca. Selalu ada ruang kosong, yang nyaman bagi pembaca untuk menafsir dengan sederhana tanpa mengerenyit dahi. Kesederhanaan itu yang menjadi kekuatan sajak-sajaknya,” sebut dia.Buku ini diluncurkan di Hotel Gajah Mada Pontianak pada Senin (7/12) malam. Launching sederhana itu dihadiri oleh beberapa institusi, seperti; Lembaga Literasi Dayak, Perkumpulan Mata Enggang, Lembaga Satu Tiga Tujuh, dan Gerakan Melestarikan Bahasa Ibu. (*)

 

Berita Terkait