Meraup Untung dari Lewat Kue Lukis

Meraup Untung dari Lewat Kue Lukis

  Selasa, 12 July 2016 08:56
PRESENTASI MENARIK: Surya (23) beserta istrinya Tania (22) saat menunjukkan gerai Cake TS miliknya. Tampilan cantik dan menarik di atas sebuah kue lukisan menjadi daya tarik sendiri dalam bisnis ini. Mereka berhasil melahirkan tren kue hias baru di Pontianak. ISTIMEWA

Berita Terkait

Dalam segala macam jamuan, kue tak pernah lepas dari meja hidangan. Tampilan menariknya selalu menggoda semua mata. Peluang darinya pun memanggil pasangan suami istri ini. Bisnis kue hias pun dijalani.

Miftahul Khair, Pontianak

TAMPILAN menarik dari kue-kue dihadirkan dalam berbagai acara. Pemilik acara seakan berlomba memperlihatkan pada undangan kue terbaik yang bisa mereka dapatkan. Di kota ini, tren kue hias memiliki trennya sendiri oleh banyaknya seniman di dapur kue.

Ada satu tren yang sedang digandrungi berbagai lapisan masyarakat, dalam segala umur, mereka bersama menggunakan kue hias sebagai penyanding hadiah dalam berbagai acara. Ulang tahun, pernikahan bahkan kelahiran anak. Kue hias menemani dengan bentuk dan warnanya yang menarik.

Pertama menggunakan kue hias sebagai pengungkapan cinta pada sang istri, Surya Pratama Ramandhani (23), melihat adanya peluang menarik dari bisnis ini. “Tidak ada ketertarikan pada awalnya,” katanya. Namun, selesai acara yang sakral bagi dia dan istri, Tania Puspita Sari (22), Surya memasarkan beberapa kue hias yang tak terpakai dalam acara itu.

Sangat kebetulan, ia menyenangi bidang pemasaran. Berbekal ilmu setelah lulus dari SMK negeri 3 Pontianak juga di jurusan pemasaran. Saat itu, ia menceritakan ketertarikannya akan bisnis kue itu. “Hingga saya menalnjutkannya sampai sekarang,” tambahnya.

Tentu, katanya, usaha rintisan membutuhkan sebuah bentuk pengenalan ke publik. “Saya pada awalnya melalui BBM, di situ saya hanya ingin banyak orang yang kenal dengan usaha ini, CakeTS,” jelasnya. Salah satu jalan yang ia pilih, dengan memberikan harga murah di setiap produk dan di selipkan Stiker CakeTS.

Di saat bersamaan, kala itu dia tengah berkerja di salah satu swalayan ternama di kota. “Saya juga melalukan promosi disana,” katanya. Sambil terkekeh, ia bercerita pernah sedikit iseng mempromokan pruduknya ke teman-teman. “Agar kalau ulang tahun bisa pesan cake dengan saya,” katanya lagi. Alhasil pelanggan pertamanya berasal dari karyawan swalayan tersebut.Surya mengatakan, tantangan utama dalam menjalankan bisnis ini ada pada desain. Ada banyak desain aneh yang diminta pelanggan. Hampir saja dalam beberapa waktu, pelanggannya datang setelah permintaan desain kuenya tidak dapat dikabulkan di tempat lain.

“Semua desain pasti bisa asal ada contoh yang jelas,” katanya. Desain kue lukis melalui teknik lukis atau print tentu membutuhkan arahan seksama dari pelanggan. Setelah itu pun, ada banyak pemesan yang lebih menginginkan foto wajah tertera di atas kue hias buatan istrinya itu. Lalulah, usahanya terkenal dengam spesialisasi kue hias dengan teknik lukis.

Menghadapi pelanggan yang kadang cerewet juga dapat menjadi motivasi sendiri. Dalam beberapa kasus ia sering menemui pelanggan yang tidak puas dengan hasilnya. “Padahal bagi kami, desainnya sudah maksimal,” katanya. Sekali waktu, ia pernah menghadapi pesanan yang kebut semalam alias pelanggan yang tidak mematuhi aturan pesan tiga hari sebelumnya. Pengecualian sulit itu ia lakukan demi kepuasan pelanggan. Akan tetapi hanya dilayani jika pesanan sedang tidak menumpuk.

Jauh sebelum itu, ia dan istri hanya dapat melayani beberapa pesanan karea minimnya modal. Untuk modal awal, karna dimulai dari sesuatu yang tidak disengaja, mereka pun memulai dengan segala peralatan yang ada di rumah. Peralatan membuat kue, seperti mixer, blender, pemanggang dan segala perlekapan lainya yang hampir di setiap rumah memilikinya dan baru keluar gudang saat diperlukan. “Kalau ditotalkan mungkin hanya dimulai dari Rp2juta saja,” katanya.

Modal minim itu kini sudah menghasilkan omzet menjanjikan bagi keduanya. Omzet dengan rentang Rp5juta – Rp15 juta bisa ia dapat dalam sebulan. Kesemuanya itu bergantung pada pelanggan yang datang memesan padanya pula. Itu semua hasil yang didapat dari usaha yang diakuinya tidak pernah memiliki target muluk.

Walaupun sebenarnya, ia mengaku juga mematok 100 kue dalam satu bulan. Ia beralasan, usahanya belum memiliki SDM memadai. Terutama dalam pembuatan cake art. Mereka mesti mencari pegawai yang betul-betul mendalami pembuatan cake art yang dijalankannya.

“Jadi kita tidak bisa untuk pembuatan cake yang banyak, akan tetapi walaupun sedikit kami memfokuskan di produk agar customer bisa selalu puas dengan produk kami dan jadi pelanggan tetap,” katanya kepada Pontianak Post.

Selama produksinya ia dibantu beberapa orang pegawai, salah satunya ibunya sendiri, Ida Yani yang diakuinya memegang peran besar dalam usahanya. Selain itu ada empat orang rekan sekerjanya yang membantu usahanya untuk berkembang, Herly, Abay, Fuad dan Bihan.

Dalam suatu waktu, ia menceritakan pernah mendapat tawaran kerja di Arab Saudi, lebih tepatnya di Kota Madinah, di toko Vanilla Cake sebagai desainer terbaik disana. Gaji yang ditawakan pun cukup membuat ia gila.  Pihak perusahaan menawarkan gaji USD1600.

Gaji itu di luar fasilitasnya, katanya. Pemilik perusahaan itu tertarik dengan keterampilan yang ia miliki. Keterampilan dalam membuat kue lukisan. “Tetapi saya masih memikirkannya. Terlebih karna saya cinta Pontianak, cinta negara saya indonesia dan keluarga saya disini,” katanya. (*)

Berita Terkait