Meraup Rupiah Ditengah Bencana

Meraup Rupiah Ditengah Bencana

  Kamis, 19 May 2016 09:58
TERANGKUT: Pengendara sedang memakai jasa angkut untuk melewati genangan banjir di sepanjang Jalan Raya Toho-Sadaniang. WAHYU/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

MEMPAWAH- Musibah banjir yang merendam lingkungan masyarakat membawa kesengsaraan bagi korban. Namun, tidak untuk sebagian warga. Bermodalkan tenaga dan peralatan sederhana, banjir justru membawa berkah. Jasa angkut kendaraan laris manis meraup rupiah ditengah bencana.

Banjir yang melanda daerah Kecamatan Toho, Kabupaten Mempawah sudah berlangsung kurang lebih sepekan lalu. Banjir merendam pemukiman warga hingga akses utama jalan yang menghubungkan Kecamatan Toho dan Sadaniang. Ketinggian banjir mencapai pinggang bahkan dada orang dewasa.

Kendaraan yang melintas di jalan raya Toho-Sadaniang dipastikan akan mogok jika memaksakan diri mengarungi banjir. Kondisi itu pun dimanfaatkan sebagian masyarakat setempat dengan menjual jasa angkutan kendaraan. Dengan bermodalnya enam buah tong plastik dan papan, mereka membuat rakit yang bisa mengangkut kendaraan beserta pemiliknya.

“Sekali jalan, biasanya kami bisa mengangkut maksimal empat buah kendaraan. Satu kendaraan, kami kenakan biaya Rp 50 ribu,” terang salah seorang warga jasa angkut kendaraan yang enggan namanya dipublikasikan, Selasa (17/5) sore disela-sela kesibukannya menarik kendaraan.

Pria paruh baya itu menyebut pundi-pundi rupiah yang diterimanya dari jasa mengangkut kendaraan cukup layak. Sebab, bukan pekerjaan gampang menarik kendaraan ditengah banjir yang mencapai pinggang orang dewasa itu.

“Jarak angkutan lebih dari satu kilometer. Kita berjalan kaki ditengah banjir dengan jarak kiloanmeter sudah letih, apalagi kami yang harus menarik kendaraan dan orang. Jadi sangat sepadan antara tarif dengan tenaga yang kami kerahkan,” pendapatnya.

Dia mengatakan, pengendara yang menggunakan jasa angkut tersebut bermacam-macam. Mulai dari masyarakat umum, pedagang hingga aparatur pegawai negeri yang bertugas diwilayah Kecamatan Toho dan Sadaniang.

“Setiap hari bisa belasan kendaraan yang menggunakan jasa angkut ini. Kami bersyukur dengan hasil yang didapat dari jasa angkut. Bisa menambah rezeki untuk keluarga, dari pada berdiam diri dirumah menunggu banjir,” tukasnya berlalu.

Selain jasa angkut menggunakan rakit dari tong plastik, ada pula yang hanya bermodalkan tenaga. Mereka berkelompok terdiri dari dari empat orang. Berbekal batangan kayu, mereka memikul kendaraan melewati genangan banjir dengan menempuh jarak lebih dari satu kilometer. Untuk jasa angkut kendaraan dengan cara dipikul ini, mereka mengenakan tarif Rp 100 ribu perkendaraan.

“Kalau sudah banjir seperti ini, kita terpaksa menggunakan jasa angkut kendaraan. Sebab, tidak mungkin melewati banjir dengan kendaraan. Selain kendaraan mogok, pakaian pasti basah semua. Makanya walau tarif mahal, yang penting tetap bisa beraktivitas ditempat kerja,” ujar Andi, pengguna jasa angkut kendaraan.

Tidak hanya jasa angkut kendaraan yang mengadu rezeki ditengah banjir. Ada pula beberapa pedagang makanan dan minuman yang menggelar lapak disepanjang jalan raya Toho-Sadaniang. Mereka menyediakan makanan ringan hingga minuman. Harganya, tentu sedikit lebih mahal dari nilai jual normal di pasaran.(wah)

Berita Terkait