Meraup Rezeki dari Bisnis Kedai Sarapan

Meraup Rezeki dari Bisnis Kedai Sarapan

  Selasa, 24 November 2015 08:18
MENU SARAPAN : Sri sedang menyiapkan pesanan pelanggan di kedai sarapan miliknya Jalan Kom Yos Sudarso.MARSITA RIANDINI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Salah satu usaha yang prospeknya sangat cerah adalah usaha kedai sarapan.  Umumnya menu yang dicari seperti bubur,  nasi kuning, dan lontong sayur. Meskipun usaha ini memiliki banyak saingan, tetapi banyak pedagang yang tetap bertahan hingga belasan tahun.Oleh : Marsita Riandini

SARAPAN  ataupun makan pagi menjadi salah satu kebutuhan masyarakat saat ini, terutama bagi mereka yang bekerja. Sarapan menjadi penambah energi dalam beraktivitas. Ada berbagai menu pilihan untuk sarapan,  bergantung selera yang diinginkan. Bila tak kuasa atau tak sempat masak di rumah, Anda bisa membelinya. Masing-masing tempat tentu memiliki menu unggulan yang ditawarkan. Mulai dari yang biasa, hingga menu khas daerah pun tersedia.
Hal ini pula yang menyebabkan banyak menu sarapan yang dijual di berbagai tempat. Usaha ini cukup mudah dijalankan, apalagi jika lokasi yang dipilih di pinggir jalan raya, ataupun di lokasi yang strategis. Konsep tempatnya pun bisa permanen, semi permanen, hingga tenda yang bisa dibongkar pasang.
Sri Wahyuni  (43 tahun)  sudah enam tahun membuka kedai sarapan dengan nama Bubur Kak Sri. Ini bermula dari hobinya yang suka memasak. Karena keseriusannya menggeluti usaha kuliner ini, Sri mampu menambah satu cabang di lokasi yang cukup ramai pembelinya. “Dulu awalnya buka warung makan, namun berhenti. Lalu saya jualan bubur, nasi kuning, dan lontong sayur di rumah,” ucap dia yang ditemui di warung bubur tempatnya jualan, di Jalan Kom Yos Sudarso.
Melihat dagangannya laris, Sri pun mulai mengembangkannya dengan  menyewa  tempat di depan sebuah toko di pinggir jalan raya tak jauh dari rumahnya. Pelanggan pun semakin ramai. “Sejak pindah di sini pembeli makin ramai. Seharinya saya bisa menabung seratus ribu rupiah. Bahkan saya bisa menambah satu tempat lagi di kawasan Jalan Ketapang, Gajah Mada. Pekerja saya di dua tempat ada tiga orang,” jelasnya.
Menurut dia, usaha ini cukup menjanjikan, makanya dia bisa membuka cabang lagi. Dalam sehari lanjut dia membutuhkan dua kilogram beras untuk membuat bubur, lima kilogram beras untuk nasi kuning, dan 15 bungkus lontong yang sudah jadi. “Kalau diseriusi usaha ini sebenarnya menjanjikan dan menguntungkan. Cuma kalau di sini tidak sama dengan di Gajah Mada. Kalau di sini harganya lebih murah. Semangkok cuma enam ribu rupiah, bahkan kadang ada anak sekolah yang beli tiga ribu rupiah,” terangnya.
Pilihan lokasi tempat dia membuka cabang itu di depan warung kopi yang ramai digunakan untuk tempat nongkrong, sehingga dagangannya pun kian laris. “Tempat saya menyewa yang itu depan warung kopi. Satu hari sewanya 30 ribu rupiah. Harganya juga lebih tinggi. Satu mangkok bubur dan lontong sayur 10 ribu rupiah, sementara nasi kuning 12 ribu rupiah,” papar dia.
Hanya saja usaha ini membutuhkan ketekunan, sebab pagi-pagi sudah harus bangun untuk menyiapkan segala yang dibutuhkan. Apalagi pembeli sudah ada sejak pukul 06.00. “Saya bangun itu dari pukul  03.00. Kalau bumbu goreng-gorengnya sudah disiapkan malam hari, subuh itu masak bubur dan yang lainnya. Belum lagi berangkut dari rumah ke tempat jualan membutuhkan waktu sekitar satu jam,” timpalnya.Modal pertama yang dibutuhkan lanjut dia sebesar lima juta rupiah. Hal ini karena dia harus membuat gerobak untuk jualan.  “Mahal itu buat gerobaknya. Tapi kalau ada semua sebenarnya tidak perlu modal besar,” pungkas dia.(*)

 

Berita Terkait