Merasakan Tiga Hari Menjadi ”Anak Angkat” Keluarga Jepang

Merasakan Tiga Hari Menjadi ”Anak Angkat” Keluarga Jepang

  Jumat, 19 February 2016 07:29
Baskoro Yudho dari Jawa Pos (tengah) bersama orang tua angkatnya, Yoshio Takanashi dan istrinya, Yoko Watanabe.

Berita Terkait

Tetap Tidur di Lantai saat Musim Dingin Tiba Tata rumah dan tingkah keseharian warga di pedesaan Jepang sangat menyatu dengan alam. Keakraban dengan tetangga masih terjaga.BASKORO YUDHO, Kamogawa

OYAMA Senmaida yang terletak di Kota Kamogawa memang hanya berjarak dua jam perjalanan darat dari Tokyo. Tapi, kondisi di kota yang masuk wilayah Prefektur Chiba tersebut sangat kontras dengan ibu kota Jepang itu. Barangkali perbandingan bumi dan langit saja tak cukup.”Tokyo kota yang sangat sibuk. Sebaliknya, Senmaida itu wilayah pedesaan yang sangat sepi,” ujar Ochai Toshihide, koordinator JICE (Japan International Cooperation Center) selaku penyelenggara program Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youths (JENESYS).

Sebetulnya bukan hanya Senmaida yang sepi. Kota Kamogawa juga tergolong minim populasi. Dengan luas wilayah 183 kilometer persegi, Kamogawa hanya dihuni sekitar 35 ribu penduduk. Bandingkan dengan Tokyo, yang saat ini populasinya mencapai 13 juta jiwa. ”Di Oyama Senmaida, mayoritas penduduknya petani. Di sanalah nanti Anda tinggal,” ucap dia.

Homestay atau menginap di rumah warga Jepang di pedesaan merupakan salah satu agenda yang harus dijalani wartawan yang mengikuti program JENESYS. Termasuk Jawa Pos. Program itu dijalani sejak Jumat (12/2) hingga Minggu lalu (14/2).

Jawa Pos kebagian jadi ”anak angkat” pasangan Yoshio Takanashi dan istrinya, Yoko Watanabe. ”Ingat, di lingkungan dan tuan rumah yang Anda tinggali nanti, nuansa tradisionalnya masih kental,” ucap Ochai sebelum sampai di kediaman pasangan tersebut.

Sebagaimana mayoritas penduduk Senmaida, Takanashi yang kini sudah berusia 74 tahun juga menggeluti profesi petani. Profesi itu, menurut Takanashi yang hanya bisa berbahasa Jepang, digelutinya sejak usia belasan tahun. ”Juu roku (16 tahun, Red), juu roku,” ujar Takanashi.

Nuansa tradisional pun langsung terlihat begitu memasuki halaman rumah Takanashi. Bangunan rumah sepenuhnya terbuat dari kayu dengan arsitektur tradisional Jepang. Bukan hanya rumah Takanashi. Hampir seluruh rumah di kawasan Senmaida masih mempertahankan gaya bangunan khas Negeri Sakura masa lampau.

Saat memasuki halaman rumah Takanashi itu pula, Jawa Pos teringat ”pelajaran” dari JICE soal tata cara memasuki rumah orang Jepang. Sandal atau sepatu harus dilepas dan diletakkan di luar washitsu. Washitsu adalah ruangan yang beralas tatami atau tikar lipat dari jerami. Setelah dilepas, sandal atau sepatu harus diletakkan di tempat yang disebut genkan.

Hampir seluruh ruangan rumah Takanashi beralas tatami. Tatami itu pula yang menggantikan peran kursi di rumah. Menurut Namiko Watanabe selaku direktur program JICE, mayoritas masyarakat Jepang di pedesaan memang masih memegang teguh ajaran Shinto.

Agama tradisional Jepang itu memang mengajarkan konsep manusia yang harus selalu menyatu dengan alam. ”Konsep itulah yang mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari di rumah. Jadi, jangan heran kalau tak ada kursi di rumah mereka,” papar Watanabe.

Konsep menyatu dengan alam itu juga diterapkan lewat tata cara tidur. Orang Jepang, terutama yang masih menjunjung nilai-nilai tradisional, lebih memilih tidur di lantai ketimbang kasur. Nah, Takanashi juga masih sempat mengajari Jawa Pos agar melakukan hal yang sama.

Ada enam lapis alas yang harus disiapkan. Kenapa enam lapis? ”Itu (enam lapis, Red) karena mereka meniru kebiasaan kaisar-kaisar di Jepang pada zaman dahulu,” ujar Watanabe.

Tidur dengan konsep menyatu dengan alam itu jelas siksaan buat mereka yang tak terbiasa berbaring di atas ranjang.  Apalagi, saat ini di Jepang sedang musim dingin. Suhu saat malam bisa 2–5 derajat Celsius.

Kalau suasana tradisional di Senmaida masih sangat terjaga, itu tak lepas dari kondisi demografis setempat. Hampir sepertiga penduduk di kawasan itu lansia. Sedangkan kebanyakan anak mudanya memilih bekerja di kota-kota besar seperti Tokyo. Mereka ogah meneruskan profesi petani yang digeluti orang tuanya. 

Itu problem Jepang secara umum, sebenarnya.

Juga, untuk tulisan kali ini, saya ingin menyoroti terlebih dahulu berita tentang kecemasan para warga senior Jepang menghadapi masa tua. Yang disebut senior di sini adalah mereka yang berusia 65 tahun ke atas, yang jumlahnya mencapai seperlima dari total 127 juta penduduk Negeri Sakura. Pada 21 Desember 2008, Jawa Pos pernah menurunkan laporan tentang kecemasan warga senior Jepang menghadapi masa tua.

Negeri Sakura itu negara dengan jumlah warga senior terbanyak di dunia. Mereka adalah generasi yang kesepian di tengah keriuhan dan merasa tak berguna di tengah derap kemajuan Jepang.  

Mereka tersebar di desa maupun kota. Tapi, kendati tinggal di pedesaan seperti Takanashi, sentuhan kemajuan Jepang masih sangat terasa. Takanashi sempat ”memamerkan” isi gudang rumahnya yang berupa peralatan pertanian modern. Selain memiliki traktor, dia mempunyai mesin pengolah padi menjadi beras.

Jawa Pos juga sempat diajak melihat sawah dan kebunnya, yang luasnya mencapai tiga hektare. Bentang lahan yang menghadap hutan dipasangi jaring dari kawat setinggi 2 meter. Saat Jawa Pos hendak menyentuh jaring tersebut, Takanashi spontan melarang.

”Lie (jangan, Red)! Lie!,” teriaknya. 

Kenapa dilarang? Dengan bahasa Inggris semampunya, dia menjelaskan bahwa jaring itu sudah dialiri listrik dengan sumber daya solar cell. Nah, jaring beraliran listrik itu digunakan untuk menangkal serangan babi hutan dan monyet yang sering merusak lahan pertanian. 

Ya, kawasan Senmaida memang dikelilingi bukit dan hutan pinus yang lebat. Karena itu, masih ada saja serangan dari binatang ke lahan petani. Tentu saja sangat merepotkan. Karena itu, dia sebetulnya merasa sudah terlalu tua untuk menggeluti profesi petani. 

Tapi, profesi itu tetap harus dia geluti. Sebab, banyak anak muda yang meninggalkan desa dan memilih kota sebagai tempat mengadu nasib. ”Selain itu, bertani bagi Takanashi dianggap sebagai hiburan,” Erik Syamsyumar, salah seorang staf JICE, saat berkunjung ke rumah Takanashi.

Untuk mengusir sepi, Takanashi biasanya kerap dolan ke rumah tetangga. Sebab, sebagaimana kultur pedesaan di Indonesia, masyarakat desa di Senmaida juga masih menjaga keakraban dan rasa persaudaraan. Juga, dia termasuk beruntung.

Sebab, tak sedikit warga senior di perkotaan, seperti dilaporkan Jawa Pos pada 2008, yang sampai rela melakukan apa saja agar bisa punya teman ngobrol. Misalnya, sengaja melakukan kejahatan kecil-kecil agar dipenjara. Setidaknya di dalam hotel prodeo, mereka bisa bertemu banyak orang.      

Nah, Jumat sore lalu itu, diajaklah Jawa Pos oleh Takanashi ke tempat salah seorang tetangga dekat. Dengan berjalan kaki.

”Sanpo shimasu (ayo jalan-jalan, Red),” katanya. 

Tentu saja menyenangkan. Tapi, sekaligus melelahkan. Sebab, tetangga terdekat Takanashi berjarak hampir 1 kilometer... (*/c11/ttg)

 

Berita Terkait