Merasakan Sensasinya Perahu Berbahan Bakar Elpiji

Merasakan Sensasinya Perahu Berbahan Bakar Elpiji

  Minggu, 15 May 2016 10:00
KONVERTER KIT : Deputi II Kemenko Maritim dan Sumber Daya Agung Kuswandono melihat langsung konverter kit BBM ke gas yang digunakan sebagian nelayan di Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya beberapa waktu lalu. MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST TIMBANG : Aktifitas jual beli hasil laut salah satunya ikan di Sungai Kakap, terlihat beberapa pekerja sedang memindahkan box yang berisi ikan untuk ditimbang serta dijual. MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Perahu bermesin dengan bahan bakar bensin atau solar mungkin sudah biasa. Tapi tidak dengan nelayan di Kabupaten Kubu Raya. Sebagian dari mereka menggunakan elpiji sebagai bahan bakar mesin perahunya. Bagaimana Sensasinya?

ARIEF NUGROHO, Pontianak

Siang itu, Kamis (12/5) di Sungai Itik, Jeruju Besar Kabupaten Kubu Raya berjajar belasan perahu menunggu rombongan Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya yang dijadwalkan datang dan meninjau langsung pemanfaatan konventer kit oleh nelayan di Kabupaten Kubu Raya. 

Setiba di Sungai Itik, satu persatu rombongan dari Kemeterian itu dipersilahkan untuk menaiki perahu. Ada berbeda memang. Setiap perahu yang berjajar di sana, masing-masing terdapat satu tabung gas ukuran 3 Kg. Wah, semakin penasaran saja, bagaimana ya rasanya menaiki perahu berbahan bakar elpiji itu? 

Setelah semua orang mengambil posisi masing-masing, mesin perahu pun dinyalakan. Suaranya memecah suasana. Menderu bersama teriknya matahari siang itu. Satu persatu perahu mulai meninggalkan dermaga Sungai Itik menyusuri sungai menuju Muara Kakap dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam. Pontianak Post ikut serta dalam rombongan itu.  

Kebetulan, juru mudi kami bernama Mus (40), Nelayan asal Tanjung Intan Kecamatan Sungai Kakap. Perahu yang dikemudikan Mus mulai melaju. Suara mesin perahunya menderu kencang memekakkan telinga. Terlebih saat melintasi terowongan jembatan. 

Setelah kurang lebih satu jam menyusuri sungai, kami dan rombongan pun tiba di dermaga Sungai Kakap, sebagai pusat perekonomian di kecamatan itu. 

Mus memang belum cukup lama menggunakan elpiji sebagai bahan bakar mesin perahunya. Namun, dia mengaku selama menggunakan bahan bakar elpiji, cukup menghemat biaya operasionalnya. "Saya baru empat bulan ini menggunakan elpiji. Ya alhamdulillah, lebih hemat. Kalau biasanya sekali turun melaut menghabiskan 10 liter bensin, dengan konverter kit elpiji ini, cukup dengan satu tabung gas elpiji," tuturnya.

Sehingga dengan seperti itu, dirinya bisa menghemat biaya operasional dan meningkatkan pendapatan keluarga. 

Selain hemat, lanjut Mus, bahan bakar elpiji juga lebih ramah lingkungan. Bahkan kecepatan mesin perahu miliknya semakin laju dibanding menggunakan bahan bakar bensin. "Lajunya lebih kencang daripada bensin," lanjutnya. 

Konveter kit Amin Ben Gas ini merupakan generasi ke sembilan. Dimana sudah melalui berbagai tahapan proses penyempurnaan. Bahkan pada tahun 2015 lalu, konverter kit ini mendapat sertifikasi SNI (Standar Nasional Indonesia) dan siap dipasarkan skala nasional.

Di sela-sela kunjungannya, Deputi II Bidang Koordinasi SDA dan Jasa, Kemenko Maritim dan Sumberdaya, Agung Kuswandono akan mengawal pemanfaatan konverter kit ini untuk diterapkan skala nasional, agar semakin banyak nelayan mendapatkan keuntungan dari alat tersebut.

“Hari ini kita melihat langsung bagaimana penerapan alat ini pada sampan bermotor, yang juga ternyata bisa digunakan untuk mesin genset dan penggilingan. Bahkan dari pengakuan nelayan yang menggunakan alat ini, mereka bisa menghemat bahan bakar sampai 80 persen, sehingga ini akan kita dorong agar bisa digunakan pada skala nasional,” kata Agung.

Agung yang ikut menggunakan sampan bermotor dengan menggunakan konverter kit tersebut mengaku bangga karena ada anak negeri yang bisa menciptakan alat praktis dan efisien tersebut “Saat menggunakan sampan motor tadi, akselerasi mesin sama sekali tidak berubah,” katanya.

Sementara dari pengakuan masyarakat nelayan sendiri, lanjutnya, mereka bisa menggunakan satu tabung gas elpiji 3 kilogram untuk tiga hari melaut. Padahal, jika para nelayan menggunakan bensin, mereka memerlukan delapan liter per harinya, sehingga penggunaan alat ini benar-benar efisien dan bisa meningkatkan kesejahteraan nelayan. “Makanya, ini akan terus kita dorong dan sepulang dari sini, kita akan melakukan pertemuan dengan kementerian terkait agar ini bisa digunakan secara nasional. Terlebih kita dapat informasi alat ini juga sudah dipesan oleh beberapa negara Asean, sehingga ini harus cepat diaplikasikan,” katanya.

Saat ditanya mengenai adanya ketentuan pemerintah yang melarang penggunaan tabung gas elpiji untuk kepentingan lainnya selain untuk memasak skala rumah tangga, dirinya mengatakan akan mengkoordinasikan hal tersebut kepada kementerian terkait.“Setelah ini akan kita adakan pertemuan, agar ketentuan tersebut bisa disesuaikan, toh ini juga digunakan untuk kesejahteraan masyarakat kecil,” katanya.

Sementara itu, Kepala Kantor perwakilan BI Kalbar, Dwi Suslamanto mengatakan, pihaknya siap memberikan program CSR kepada nelayan untuk pengadaan alat Konverter kit ciptaan Amin Ben Gas tersebut. “Selama ini kita juga sudah menggelontorkan dana CSR pengadaan konversi minyak ke gas ini, namun menggunakan produk dari luar,” katanya.

Setelah melihat sendiri penggunaan alat Konverter kit ciptaan Amin Ben Gas tersebut, ia menambahkan, ke depan akan menggunakan alat buatan putra daerah Kalbar tersebut.

Dwi menjelaskan, BI merasa memiliki andil dalam mensejahterakan nelayan, karena harga ikan juga menjadi salah satu penyebab inflasi di Kalbar. (**)
 

Berita Terkait