Merasakan Keindahan Indonesia dari Udara

Merasakan Keindahan Indonesia dari Udara

  Selasa, 30 Agustus 2016 09:31

Berita Terkait

Siska Maulidya; Pilot Perempuan Asal Pontianak

Awalnya Siska Maulidya ingin menjadi dokter. Namun ia gagal dalam ujian masuk ke Fakultas Kedokteran. Kegagalan ini pun menjadi babak baru dalam kehidupannya. Ia berhasil menjadi pilot pada usianya yang belum genap 20 tahun. 

Oleh: Chairunnisya

Ketertarikan Siska menjadi pilot berawal dari kedatangan sang paman ke Pontianak. “Awalnya ingin menjadi dokter. Ikut tes masuk (Fakultas Kedokteran), tetapi tak lulus. Kebetulan oom saya yang pilot datang. Ia mengajak jadi pilot,” ujar Siska.

Perempuan kelahiran 21 September 1997 ini pun mulai banyak bertanya kepada pamannya mengenai profesi pilot. Akhirnya pada Oktober 2015, ia mencoba masuk ke Bali International Flight Academy (BIFA). Persaingan untuk masuk ke sana sangat ketat. Kuota pendaftar untuk satu angkatan yang bisa mengikuti seleksi hanya 250 hingga 300 orang. 

“Tes awal adalah psikotes oleh AURI. Susahnya minta ampun. Saya ikut tes dari pukul 08.00 hingga 16.00,” kata lulusan SMAN 1 Pontianak ini.

Setelah melalui berbagai tahapan seleksi, Siska dinyatakan lulus. Ia satu-satunya perempuan dari 19 orang pendaftar yang lolos seleksi masuk BIFA. “Saya tergabung dalam angkatan 29. Rasanya senang sekali. Sebab susah sekali bisa masuk ke BIFA. Itu katanya sekolah penerbang swasta yang tersusah masuknya,” ungkap Siska.

Ketika lulus, Siska tak langsung menjalani pendidikan di BIFA. Ia selama 10 hari berada di Rindam Jaya. “Dari 10 hari itu, 7 hari di Rindam dan tiga hari di hutan di Pati. Setelah itu baru masuk BIFA,” jelas Siska.

Awal pendidikan, Siska tak langsung terbang. Ia mengikuti ground school dulu selama 1,5 bulan. Kemudian latihan terbang di darat menggunakan simulator selama tiga jam.

“Setelah itu langsung terbang. First Flight itu akhir Juni tahun lalu,” tutur Siska.

Putri pasangan Iriansyah dan Roswati ini sangat senang dan antusias menjalani terbang perdananya. Perasaannya pun campur aduk. “Rasanya grogi banget. Ada takutnya. Tetapi kan ada instruktur,” ujar Siska yang mengantongi 145 jam terbang ini.

Pertama kali terbang, Siska memutari daerah Banyuwangi selama 1 jam dengan ketinggian 3.000 kaki. Ia merasa begitu senang karena bisa merasakan keindahan Indonesia dari atas.

“Sekali terbang bisa 1,5 hingga 3 jam. Tetapi saya juga pernah cross country selama enam jam bersama teman,” kata Siska.

Kini, Siska telah mendapatkan Private Pilot License (PPL), yakni lisensi untuk penerbang (pilot). Dengan lisensi ini, ia dapat terbang membawa penumpang dengan keterbatasan tidak boleh menerima bayaran. Saat ini ia juga sedang mengikuti pelatihan untuk mendapatkan CPL (Commercial Pilot License). Lisensi ini diperoleh setelah PPL, untuk menjadi penerbang profesional yang menerima bayaran atas pekerjaannya. 

“Dua minggu lagi akan diuji apakah (saya) sesuai standar atau belum. Kalau sesuai, bisa mendapatkan CPL,” jelas Siska yang bercita-cita menjadi pilot pesawat komersial ini. **

---------

Q&A

*Apa yang dipikirkan saat di udara?
Saya ingin landing cepat  dan selamat. 

*Hal terindah yang pernah dialami selama menjadi pilot?
Ketika bisa melihat Gunung Agung di Bali dari dekat. Selama ini banyak keindahan alam yang dilihat dari udara, misalnya pantai yang berbeda-beda warna dan gunung. Tetapi ketika bisa melihat Gunung Agung dari dekat, rasanya senang sekali. Benar-benar indah.

*Apakah hanya terbang saat pagi dan siang hari saja?
Tak hanya pagi atau siang, terkadang saya terbang malam juga. Memang berbeda rasanya terbang pagi sama terbang malam.

*Apa bedanya?
Kalau terbang pagi, point-point sudah jelas dan nampak karena terang. Kalau malam, harus lebih hati-hati karena kondisinya gelap. Jadi harus benar-benar tepat koordinat saat terbang. 

*Apa yang dilakukan saat senggang?
Saat ini jarang punya waktu senggang. Memang ada waktu istirahat, tetapi rata-rata sering terbang. Jadi kalau ada waktu senggang untuk istirahat, saya lebih milih tidur daripada jalan-jalan.

*Selama menjadi pilot, jarang pulang ya ke Pontianak? Pernah rindu dengan kampung halaman?
Pastinya rindu ya sama Pontianak. Terutama makanannya. Saya sering ingat mie sagu, pisang goreng srikaya, dan bubur pedas. 

*Hobi apa yang sering dilakukan?
Membaca, terutama novel. Tetapi tak hanya novel, banyak juga buku-buku lainnya. (uni)

Berita Terkait