Menyusuri Kapuas Bersama Orang-Orang Bandong

Menyusuri Kapuas Bersama Orang-Orang Bandong

  Jumat, 8 April 2016 09:24
SARAPAN: Wartawan Pontianak Post menikmati sarapan pagi dalam Ekspedisi Kapal Bandong.

Berita Terkait

SUARA mesin menderu memecah suasana hening diiringi kepulan asap pekat keluar dari cerobongnya. Tali penambat mulai dilepas.  Kapal pun mulai meninggalkan dermaga pada Jumat (8/4) dinihari. Ekspedisi menyusuri sungai Kapuas bersama Kapal Bandong dimulai.

Kesunyian di dermaga Kapuas Indah mendadak pecah dihantam deru suara mesin kapal. Pagi itu tepat pukul 03.30 mesin kapal mulai dihidupkan. Pertanda kehidupan manusia Bandong dimulai. Satu persatu anak buah kapal bergegas keluar dari bilik mereka setelah semalaman melepas lelah.  "Cepat-cepat" perintah Anai kepada empat anak buahnya untuk segera melepas tali penambat di dermaga.

"Seharusnya kita berangkat pukul 02.00," kata Anai kepada saya yang sudah menunggu sejak pukul 00.00 di dermaga.

Sementara di kursi kemudi, seorang laki-laki parobaya duduk sembari memegang kendali. ‎Laki-laki berpawakan kurus dengan peci di kepala itu tak lain adalah nakhoda sekaligus kapten kapal Bandong KM Cahaya Borneo yang akan menghatarkan saya melakukan ekspedisi penyusuran sungai kapuas hari ini.

‎Setelah hampir setengah jam memanasi mesin kapal. Akhirnya kapal pun berlahan mulai bergerak. Apa yang sudah saya tunggu-tunggu akhirnya tiba  juga. Maklum, ini pengalaman pertama saya menaiki kapal Bandong.

Tepat pukul 04.00, Kapal pun berlahan meninggalkan dermaga. ‎Suara Adzan subuh mengiringi perjalanan saya dan kapal legendaris ini menuju hulu sungai Kapuas di Kapuas Hulu.‎

Rasa kantuk pun tiba-tiba menyerang. Saya pun memutuskan untuk beristirahat sejanak di palka kapal bersama tumpukan barang-barang titipan. Ya, sejak kapal Bandong ini tak lagi dioperasikan untuk mengangkut penumpang, tidak ada lagi bilik atau kamar khusus penumpang seperti dulu lagi.

Setelah beberapa jam beristirahat, saya pun terbangun. Rupanya jarum jam sudah menunjukan pukul 07.45. Hangat matahari pagi mulai terasa. Cahayanya masuk dari sela-sela cendela dan dinding yang terbuat dari kayu. Saya pun kemudian menuju ke haluan kapal.

"Sekarang baru sampai di Batasan," ujar ‎nakhoda kapal bernama Juanda (66).

‎"Dulu ini pabrik kayu. Tapi sekarang sudah menjadi kampung," sambungnya.

Batasan merupakan nama sebuah perusahaan playwood yang berada di Desa Tembang Kacang, Kabupaten Kubu Raya. PT. Batasan kini sudah tidak lagi beroperasi. Bahkan sudah tidak ada lagi sisa-sisa kejayaannya.

Lokasi yang dulunya berdiri megah pabrik pengolahan kayu itu tak lagi ada. Hanya hamparan tanah kosong yang disekelilingnya berdiri pemukiman penduduk.

Selain PT. Batasan, ada beberapa perusahaan lain yang dulunya pernah berjaya maupun masih berjaya sampai sekarang, seperti PT Alas Kusuma,  PT. WBA, PT Bumi Raya, ‎dan perusahaan pengelolaan sagu.

‎Kapal Bandong yang saya tumpangi terus melaju ke arah timur. Juanda sang juru mudi dengan sigap mengendalikan arah kapal. Ke kiri dan ke kanan, menghindari batang kayu mengapung di sungai yang bisa mengakibatkan celaka.

 

Dilihat dari kelihaiannya mengendalikan kemudi kapal, Juanda bukan orang‎ kemarin sore. Sejak tahun 1973, laki-laki asal Kecamatan Jongkong ini menjadi nakhoda. Di Bandong KM Cahaya Borneo ini, Juanda merangkap sebagai kapten kapal.

Di dalam Bandong, selain Juanda, setidaknya ada tujuh orang lainnya, Anai sang juragan, bersama istri dan anaknya, Daris (5), dan empat anak buah kapal, Peni, Yoga, Faisal, dan Kurnia yang secara bergantian mengendalikan kemudi kapal.

Anai sang ‎juragan menceritakan, setiap perjalanan selalu ada saja cerita yang menarik ataupun hal-hal membuatnya ngeri. Salah satunya adalah faktor cuaca.

Jika cuaca mendung, kata Anai, Bandong akan ditambatkan sementara untuk mengurangi resiko. Demikian juga saat musim kemarau. "Jika tidak pandai mengendalikan kapal saat kemarau, bisa-bisa menabrak batu," katanya.

Hal yang mengerikan lainnya adalah perampokan atau penjarahan. Pernyataan Anai ini membuat saya tertarik. "Jangan dikira di Kapal Bandong tidak ada perampokan atau penjarahan‎. Meskipun hanya skala kecil, ekspedisi ini tergolong rawan," katanya.

Menurut Anai, pelaku biasanya membuntuti kapal Bandong menggunakan perahu motor dan menjarah apa yang ada di dalam Bandong. "Mereka biasanya membuntuti terus merapat ke buritan kapal. Bongkar barang bawaan di atas. Kita yang ada di depan sering ngga' tahu. Tahu-tahu ada barang yang hilang," terangnya.

"Meskipun jarang. Tapi kejadian itu pernah terjadi," sambungnya.

‎Tak terasa jarum jam sudah menunjuk angka 10.00. Perut sudah mulai keroncongan. Waktunya sarapan.

Saya bersama ABK pun menyantap hidangan yang disajikan di Kapal Bandong. Meskipun tidak semewah makanan di restoran atau Rumah Makan Padang, hidangan di sini cukup lezat. Ikan tongkol, kerupuk, acar mentimun dan sedikit cabai. Lumayan untuk hidangan pagi ini mengawali ekspedisi bersama Orang-Orang Bandong.**

Liputan Khusus: 

Berita Terkait