Menyontek

Menyontek

Minggu, 17 April 2016 10:23   1

ADA sepusuk surat elektronik yang diterima dari pembaca berisi rasa keprihatinannya akan perilaku curang selama ujian, terutama perilaku nyontek dalam berbagai bentuknya. Termasuk, kasus yang menyangkut jual-beli kunci jawaban Ujian Nasional. Ia menjadi risau akan apa yang akan terjadi, kelak, ketika mereka sudah bekerja  mungkin akan menjadi ‘koruptor kelas tinggi’, tulisnya. Sebagai  kalimat penutup surat itu, “Saya harap dibahas dalam kolom Edukasi”.

Terima kasih disampaikan kepada pembaca setia kolom ini. Kirimannya sungguh membuat kolom ini tetap ‘up to date’ terhadap isu-isu terkini di masyarakat.

Abel G.Waithaka, dari Universitas Liberty, dan Priscilla Gitimu, dari universitas Negeri Youngstown, AS, 2010, menyatakan bahwa tindakan ‘cheating’-nyontek di perguruan tinggi semakin meningkat. Kemajuan pesat teknologi komunikasi menjadi salah satu penyebab utama perbuatan nyontek di kalangan mahasiswa. 

Dalam program ABC News, 29 April 2011, ditayangkan potongan dari program Primetime-nya  Charles Gibson tentang temuan profesor Angelo Angelis dari Hunter College, New York. Profesor Angelis menemukan enam tugas makalah mahasiswanya menggunakan kalimat yang sama (tetapi salah) yang di-‘copy’ langsung dari sebuah tulisan seorang siswa kelas lima SD yang diunggah di suatu laman Web. 

Dalam tayangan itu juga diungkapkan survai rahasia, 2002, pada 12.000 SMA di AS ditemukan 74% di antaranya mengaku menyotek, paling tidak satu kali dalam satu tahun sebelum survai dilakukan. 

Ebrahim Khodaie (asisten profesor Statistika Universitas Teheran, Iran) beserta dua orang mahasiswa S3-nya (Ali Moghadamzadeh dan Keyvan Salehi), 2006, menemukan sejumlah faktor yang menyebabkan perbuatan menyontek itu. Berdasarkan data dari 336 mahasiswa, mereka menemukan 95% dari mahasiswa nyontek. Tingkat pendidikan, usia, bahan ajar yang terlalu kuantitatif, pendidikan orang tua (ayah) merupakan faktor yang memotivasi mahasiswa untuk bertindak nyontek. Ditemukan juga, mereka yang terbiasa nyontek di sekolah cenderung berbuat curang di kemudian hari.

Mikaela Bjorklund and Claes-Goran Wenestam, dari Swedia, 1999, mempelajari cara nyontek 166 mahasiswa dari berbagai program studi Universitas Finnish. Mereka menemukan bahwa menyontek merupakan sebuah tindakan yang ‘biasa’. Penyebabnya terkait dengan masalah etika. Karena itu, staf Perguran Tinggi, legislator dan masyarakat pada umumnya mesti tergerak untuk bersinergi untuk menanganinya. Sebagai contoh, Norges Handelshøyskole (NHH),  Norwegia, 2008, menerbitkan SOP yang terkait dengan tindakan menyontek dan penanganannya. 

Phillip C. H. Shon, dari Universitas Michigan – AS, 2006, mewancarai 119 mahasiswa yang mengambil mata kuliah Pengantar Kriminologi, tentang tindakan menyontek saat ujian. Ditemukan, para pelaku nyontek memanipulasi aspek psikologis dan perilaku para dosennya sebagai alat untuk menyontek itu. Misalnya, seorang mahasiswa mempelajari kelemahan penglihatan salah seorang dosennya. Maka, ketika ia memutuskan akan menyotek dibuatlah contekan dengan pensil tipis pada selembar kertas yang akan tampak ‘kosong’ jika dilihat dalam posisi dosen itu berdiri di sampingnya. 

Kevin Yee and Patricia MacKown, Universitas Central Florida (UCF), mencatat ada 37 cara yang dilakukan mahasiswa untuk berbuat tidak jujur pada saat ujian. Di antaranya: bisik-bisik, kerlingan mata, gerak jari tangan, batuk, bersin, membuat ‘gangguan’ agar temannya dapat menyontek, catatan di meja, catatan di tubuh, joki dan pura-pura sakit agar dapat mengikuti ujian susulan. 

Manar Hosny dan  Shameem Fatima, dari Universitas King Saud, Riyadh, Saudi Arabia, 2014, meneliti sikap 149 mahasiswi College of Computer and Information Sciences (CCIS) terhadap nyontek sewaktu ujian.  Perbuatan curang dalam ujian di antaranya berbentuk: meng-copy pekerjaan kawan (10.81%); kawan membantu/memberi kunci jawaban (18,92%); menggunakan isyarat tubuh (0.68%); mengekstrak arahan dosen (22,97%);  menyewa joki (7.43%), serta mengganti jawaban (4.73%). Ada banyak  alasan mengapa menyontek, di antaranya adalah: soal sukar (31.52%); kurang siap (30,43%); membantu kawan (14.13%); iseng –‘having fun’ (7.31%), serta dosennya ‘longgar’ (9.11%).

Randy D. Danielsen, Albert F. Simon, dan Raymond Pavlick, 2006, membuat tulisan dengan judul ‘The Culture of Cheating: From the Classroom to the Exam Room’. Mereka menyarankan agar digunakan pendekatan budaya. Misalnya, kebijakan dibuat dengan seksama dan didukung oleh prosedur administrasi yang cepat dan efektif akan mengurangi tindak menyontek di kalangan mahasiswa. Bahkan, kebijakan seperti itu  dapat meningkatkan integritas lembaga  dan tentu juga mahasiswanya.

Perbuatan curang dalam ujian merupakan tindakan yang sudah umum dilakukan di banyak negara. Para pengajar dan tentu juga masyarakat luas merasa prihatin akan perbuatan ini. Selain itu, mereka yang terbiasa menyontek selama pendidikan cenderung akan berlaku curang pada saat telah bekerja. Penangannya tidak mudah. Ada saran, pendekatan budaya mungkin akan efektif untuk menurunkan tindak menyontek ini.  Secara spesifik, sebaiknya masing-masing di antara kita merevolusi mental sendiri, untuk menjadi orang baik. Semoga!

Leo Sutrisno