Menyongsong Kurikulum 2013 Jilid Dua

Menyongsong Kurikulum 2013 Jilid Dua

  Jumat, 20 May 2016 11:59   4,606

TIDAK lama lagi kita akan memasuki tahun ajaran baru, belum banyak masyarakat yang tahu bahwa pada tahun ajaran baru nanti sekolah dipersiapkan untuk melaksanakan kurikulum 2013 hasil revisi tahun 2016. Adapula yang menyebut kurikulum nasional tetapi sebenarnya bukan kurikulum nasional namanya, tetap kurikulum 2013 hanya pelaksanaannya akan diberlakukan secara nasional. Revisi kurikulum 2013 yang baru ini sebenarnya merupakan langkah pemerintah dalam menghadapi dinamika perkembangan jaman.   Oleh karena itu pembelajaran di Indonesia harus berubah demi menyesuaikan perubahan jaman, itulah sebabnya pemerintah melalui kemendikbud terus melakukan evaluasi dan revisi terhadap kurikulum pembelajaran sebagai upaya untuk mencari bentuk kurikulum yang sesuai dengan tantangan global dan kekinian.

Kurikulum adalah desain pembelajaran yang disusun secara sistematis dengan mempertimbangkan berbagai hal mengenai proses pembelajaran serta memperhatikan perkembangan setiap individu (Hilda Taba). Kurikulum juga merupakan gerbang pendidikan untuk membawa ke arah tujuan pendidikan nasional dalam rangka mencetak manusia-manusia yang cerdas dan berkarakter. Isu penumbuhan karakter merupakan isu utama yang dibawa kurikulum 2013 revisi tahun 2016 mengingat karakter generasi-generasi muda sekarang ini cenderung pragmatis dan kurang berorientasi pada masa depan. Akibatnya peserta didik sekarang banyak terjrumus ke tindakan yang menyimpang. Hal ini disebabkan karena kemajuan teknologi tidak diimbangi dengan penumbuhan budi pekerti yang baik serta kurangnya nilai tauladan dari guru dan orang tua tidak terserap dengan baik oleh peserta didik.

Ciri khas yang menonjol dari kurikulum 2013 hasil revisi yaitu penerapan Gerakan Literasi Sekolah (GLS), yaitu kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan informasi secara cerdas dan bertanggung jawab melalui media cetak, media elektronik, maupun internet. Tujuan dari Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang  hayat. Yang paling nyata adalah membudayakan peserta didik selalu mendapatkan informasi yang cerdas dan mendidik yang berguna bagi dirinya. Gerakan literasi sekolah (GLS ) tidak sebatas membaca saja tetapi memiliki makna yang lebih luas yaitu bagaimana menjadikan peserta didik selalu tertarik dan haus akan informasi. Dan yang tak kalah penting informasi tersebut adalah informasi positif  yang sangat berguna untuk menunjang pembentukan karakter pribadinya sehingga menjadikan manusia Indonesia adalah manusia yang kaya akan informasi, sebab dalam tantangan dunia global negara yang maju adalah negara yang menguasai segala aspek informasi.

Pendekatan Saintifik tetap menjadi platform utama kurikulum 2013 revisi tahun 2016, yaitu di dalam proses pembelajaran harus mencakup 5M ( mengamati-menanya-mengumpulkan informai-mengasosiasi dan mengkomunikasikan ). Pendekatan saintifik merupakan model pembelajaran di mana siswa berperan aktif untuk mendapatkan informasi sedangkan guru hanya sebagai fasilitator. Sudah tidak relevan apabila guru mendominasi pembelajaran, tetapi sebaliknya peserta didiklah yang harus aktif dan mendominasi kegiatan pembelajaran. Walaupun pendekatan ini tampaknya masih sulit diterapkan namun guru harus berusaha untuk mencobanya. Kondisi ini akan terbentur dengan faktor kesiapan guru dan siswa serta ketersediaan sarana penunjang. Namun bukan mustahil bahwa pendekatan saintifik tetap bisa dilakukan walaupun dengan keterbatasan yang ada, sepanjang guru  ada usaha dan peserta didik terbiasa semua itu bisa dilakukan.

Model pembelajaran yang diangkat dalam pendekatan saintifik adalah model pembelajaran seperti : (1) Model pembelajaran Problem Based Learning, yaitu model pembelajaran yang menggunakan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari untuk diselesaikan oleh peserta didik sehingga peserta didik mampu mengembangkan ketrampilan berfikir untuk menyelesaikan masalah dikemudian hari. (2) Model pembelajaran Project Based Learning, yaitu model pembelajaran yang menggunakan projek untuk mengembangkan kompetensi sikap, pengetahuan, dan ketrampilan serta menghasilkan produk baik karya tulis, karya seni, maupun karya teknologi. (3) Model pembelajaran Incuiry Learning, yaitu model pembelajaran yang didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berfikir secara sistematis. (4) Model pembelajaran Discovery Learning, yaitu model pembelajaran untuk menemukan konsep, makna, dan hubungan klausal baru.

Sumber belajar untuk kurikulum 2013 revisi tahun 2016 tidak membatasi pada buku tertentu dan waktu tertentu. Artinya buku apa saja dan terbitan kapan saja yang berhubungan dengan pelajaran bisa digunakan bahkan buku pelajaran Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) yang lama, buku pelajaran kurikulum 2013 sebelumnya, dan buku-buku lainnya tetap boleh digunakan. Semakin banyak sumber belajar maka peserta didik semakin kaya akan konsep dan teori yang didapat. Sangat fleksibel sekali sumber belajar kurikulum 2013 revisi tahun 2016 sehingga guru dan peserta didik tidak harus terbebani dengan biaya untuk keperluan sumber belajar.

Pelaksanaan kurikulum 2013 revisi tahun 2016 akan diterapkan di beberapa sekolah di Indonesia memasuki tahun ajaran baru 2016/2017 terutama sekolah yang menyandang status akreditasi "A" wajib melaksanakan kurikulum 2013. Perbedaan mendasar kurikulum 2013 hasil revisi dengan kurikulum 2013 sebelumnya antara lain tampak pada: (a) Keselarasan antara kompetensi Inti, kompetensi Dasar, silabus, dan buku belajar. (b) Penataan kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial. (c) Penataan kompetensi yang tidak dibatasi oleh pemenggalan taksonomi proses berfikir. (d) Pemberian ruang kreatif pada guru untuk mengembangkan kurikulum.

Angin segar bagi guru-guru di Indonesia bahwa kurikulum 2013 revisi tahun 2016 nanti dalam sistem penilaian tidak memberatkan seperti pada kurikulum 2013 yang lama. Untuk jenjang SMP dan SMA dilihat dari topik materi tidak lagi tematik tetapi terbagi ke dalam bab. Untuk penilaian sikap tidak lagi harus per pertemuan tetapi cukup diamati dalam setiap proses pembelajaran dan dicatat dalam jurnal penilaian sikap lalu dirangkum pada akhir semester. Sebutan predikat yang membingungkan orang tua peserta didik tidak lagi muncul karena nilai menggunakan skala ratusan dengan rentang nilai 0 - 100 sangat mudah sekali untuk dipahami. Nilai sikap menggunakan deskripsi secara umum dari rangkuman setiap mata pelajaran, sedangkan nilai pengetahuan dan ketrampilan menggunakan nilai angka 0-100 dengan kategori Sangat Baik (A): 86-100, Baik (B): 71-85, Cukup Baik (C): 56-70, dan Kurang Baik (D): ≤ 55.

Itulah beberapa revisi kurikulum 2013 tahun 2016, yang jelas pemerintah melalui kemendikbud sudah mengakomodir keluhan guru-guru di Indonesia tentang sistem penilaian dari kurikulum 2013 yang lama. Dari segi konten jelas kurikulum 2013 memberi ruang yang luas pada guru dan siswa untuk berkreasi lebih jauh dalam menggali konsep, teori, dan pemecahan masalah. Kreatifitas tidak hanya dibangun dari sisi siswa namun guru juga harus mengupayakan bagaimana caranya membangkitkan kreatifitas yang ada pada siswa. Media pembelajaran tidak harus yang modern dan maju, tetapi bisa menggunakan media sederhana yang tersedia di sekitar lingkungan siswa. Oleh karena itu guru nantinya harus kretif  bagaimana menciptakan situasi dan proses belajar seperti yang diamanahkan dalam kurikulum 2013 yaitu menggunakan model pembelajaran dengan pendekatan saintifik.

Sebagai masyarakat tentu kita berharap bahwa implementasi kurikulum 2013 revisi tahun 2016 bisa diterima oleh guru, siswa, maupun masyarakat sehingga dalam perjalannya nanti tidak terdapat kendala terutama bagi guru sebagai ujung tombak pelaksana pembelajaran. Apalagi guru jaman sekarang di mana pemerintah sudah cukup memberi perhatian yang besar kepada guru-guru yang sudah sertifikasi diberikan tunjangan profesi sehingga tidak ada lagi guru yang belum siap atau tidak siap menghadapi implementasi kurikulum 2013 revisi tahun 2016. Yang jelas kurikulum 2013 nanti yang akan dilaksanakan pada tahun ajaran 2016/2017 lebih dipermudah dan tidak membebani guru, siswa, maupun orang tua. Semoga dengan semangat kurikulum 2013 revisi tahun 2016 nanti wajah pendidikan Indonesia ke depan akan lebih baik sehingga menghasilkan generasi-generasi yang cerdas dan berbudi pekerti yang baik serta bisa membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Bagi sekolah dan guru-guru yang berada jauh di pedalaman tidak perlu berkecil hati, tetap bisa melaksanakan kurikulum 2013 walaupun dengan segala keterbatasan sarana prasarana maupun media pembelajaran, dengan pendekatan saintifik tetap bisa dilaksanakan. Karena laboratorium dan media pembelajaran terlengkap sebenarnya tersedia di alam sekitar kita, tinggal bagaimana guru memanfaatkan dan mengelola apa yang ada di sekitar kita untuk bisa dimanfaatkan menjadi media pembelajaran. Dan yang lebih penting bagaimana guru tetap semangat mengajar untuk melukis wajah-wajah anak negeri ini agar kelak menjadi insan yang berguna dikemudian hari. Satu hal lagi yang perlu ditanamkan bahwa keterbatasan bukan halangan untuk tidak melaksanakan kurikulum 2013, justru sebaliknya kurikulum 2013 memberi keleluasaan kepada guru dan peserta didik untuk berkreasi dan mengembangkan pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan menyenangkan.

Kuncinya kembali lagi pada guru sebagai eksekutor proses pembelajaran di lapangan, keberhasilan implementasi kurikulum 2013 sangat bergantung dari guru, meskipun kurikulum sudah dikemas dengan apik dan sempurna jika guru-guru di lapangan tidak ada usaha untuk merubah mainset pembelajaran akan sulit kurikulum 2013 dapat terlaksana dengan baik. Jaman sudah berubah oleh karena itu model-model pembelajaran konvensional yang lebih berpusat pada guru perlahan-lahan harus ditinggalkan menuju model pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan lebih berpusat pada siswa. Tentu saja ini memerlukan sebuah proses yang panjang karena guru selama ini masih lekat dengan model pembelajaran konvensional yang lebih berpusat pada guru dianggap lebih praktis cukup dengan ceramah saja sudah bisa menyampaikan materi pada peserta didik tanpa harus bersusah payah mengembangkan teknik dan model pembelajaran serta menyediakan media pembelajaran yang memerlukan waktu, tenaga, dan biaya.

Namun sekali lagi dunia telah berubah, teknologi berkembang pesat, pola-pola pengajaran yang berpusat pada siswa lebih signifikan menghasilkan siswa-siswa yang kritis, kreatif  dan inovatif  yang sesuai dengan tantangan kehidupan masa yang akan datang. Tantangan dunia di masa yang akan datang semakin berat hanya manusia-manusia yang kritis, kreatif, dan inovatif yang akan berhasil mengimbangi perubahan jaman. Oleh karena itu generasi sekarang perlahan-lahan harus kita bekali dengan jiwa mandiri, kritis, kreatif dan inovatif  seperti yang tertuang dalam  model pembelajaran saintifik pada kurikulum 2013 sehingga nantinya generasi-generasi Indonesia tetap bisa bersaing dan sejajar dengan negara-negara maju lainnya di dunia.**

Sutrisno, S. Pd

Saya seorang guru di salah satu sekolah negeri di Pontianak. Sehari-hari saya habiskan waktu untuk mengajar. Dan Melalui Media ini saya mencoba berbagi dan menimba ilmu terutama pendidikan untuk kemaslahatan generasi yang akan datang.