Menyibak Kejayaan Mendu di Kalbar

Menyibak Kejayaan Mendu di Kalbar

  Minggu, 18 September 2016 10:42

Berita Terkait

Mendu merupakan kesenian daerah yang menyuguhkan cerita rakyat dan pernah mengalami masa kejayaan pada tahun 1980-an. Tak hanya sarat pesan moral, kesenian ini juga menampilkan perpaduan musik, tari, lagu, dialog, maupun banyolan. Kini, tak banyak lagi yang mengenal mendu. Jika tak dilestarikan, kesenian ini terancam hilang ditelan zaman. 

Oleh : Marsita Riandini 

Mendu bermula dari tiga putra asal Mempawah. Tepatnya dari kampung Malekian, Desa Semudun. Ketiganya adalah Ahmad Antu, Ahmad, dan Kapot, yang mengabdikan diri untuk memajukan masyarakat di lingkungannya dengan masing-masing keahlian atau keterampilan yang mereka kuasai. 

Ahmad Antu mengajar pencak silat. Ahmad memberantas buta huruf mengajarkan tulis baca abjad dan Kapot mengajar mengaji. Ketika waktu luang usai mengabdi bersama murid-muridnya, mereka sering berlatih kesenian teater ini. Sampailah pada suatu cerita tentang Dewa Mendu dan akhirnya mereka sepakat menamai kesenian tersebut dengan nama mendu. 

Selanjutnya kesenian Mendu terus berkembang serta hidup subur di kalangan masyarakat setempat hingga terdengar oleh pihak kerajaan Mempawah. Raja pun ingin menyaksikan Kesenian Mendu. Ternyata raja sangat tertarik dan menyukai sekaligus menyatakan bahwa kesenaian mendu merupakan kesenian milik rakyat di kawasan Mempawah. Demikian dilansir dari mabmonline.org.

Herman, merupakan satu diantara pelakon mendu yang masih aktif dalam dunia teater hingga saat ini. Sejak usia belasan tahun, ia sudah bergabung dalam pementasan mendu. 

“Menurut sejarahnya mendu sudah populer di tahun 1871. Mendu merupakan kesenian yang berasal dari Mempawah,” jelas Herman. 

Kemudian mendiang Satarudin Ramli bersama teman-temannya melakukan riset kembali. Mendu pun kembali mengalami masa kejayaan pada 1980-an. 

“Tahun 1980-an itu almarhum Bapak Satarudin Ramli mengangkat kembali kesenian ini lewat pementasan. Saya sendiri diajak langsung olehnya, meskipun masa itu belum pernah bermain teater,” papar Herman.

Pementasan pertama dilaksanakan di Gedung Arena Remaja yang kini sudah berubah menjadi Pontianak Convention Center Pontianak. Masa itu, sambutan dari penonton sangat luar biasa. Bahkan, para penonton membludak hingga ke luar gedung. 

“Kali pertama itu skenario ditulis oleh Pak Satarudin Ramli. Beliau sekaligus sebagai sutradaranya. Kami pun semangat melihat penonton yang datang cukup ramai,” kenang Herman.

Dulu mendu itu ditampilkan di mana saja. Bisa di dalam maupun luar ruangan. Bisa dengan dekorasi yang bagus atau sekadar menggunakan layar saja. Tetapi antusias penonton luar biasa. 

“Para pemain jumlahnya bervariasi. Minimal bisa 7 orang dengan satu orang double peran, bisa dia pemain juga memainkan musik, atau bermain dua peran dalam satu cerita. Ramai tidaknya itu bergantung situasi dan kondisi pentasnya,” jelasnya. 

Pernah suatu ketika, pemain yang digunakan sebanyak puluhan orang. Sebab mendu tak hanya bicara soal akting, melainkan i juga seni musik dan tarian. 

“Menurut saya, mendu ini kesenian yang lengkap. Ini pula yang membedakan dengan teater lainnya. Kesenian ini ada alat musiknya, juga ada tariannya, dan pencak silatnya. Jadi kalau pemainya beda, penarinya beda, maka jumlahnya pasti ramai,” ujar Herman.

Masa itu memang hiburan tak sebanyak sekarang. Penonton yang datang mulai dari usia muda hingga usia senja. 

“Sampai ada istilahnya itu, tukang sapu tidak sanggup membersihkan sisa-sisa nyirih para penonton. Sebab yang datang itu banyak juga usia nenek-nenek. Mereka ini khan suka nyirih. Mereka biasanya adalah orang-orang yang pernah menonton teater ini sebelumnya,” katanya. 

Sukses dengan pementasan pertama, mereka pun melakukan pementasan keliling daerah. “Istilah zaman itu kami melakukan sosio drama. Kami keliling daerah dengan beragam cerita dan tokoh yang diperankan. Bahkan ada istilah kami itu tidak mengenal piring, sebab hampir tiap hari makannya nasi bungkus,” ulasnya. 

Pertunjukan mendu ini dilakukan di berbagai daerah. Dari daerah yang satu ke daerah lainnya, pemain mendu ini pun sukses mengambil hati penonton. Meski demikian mereka juga harus menaklukkan tantangan, yakni apa yang ditampilkan tak sekadar menghibur tetapi juga mampu menyampaikan pesan-pesan moral. 

“Pada dasarnya mendu ini kan cerita rakyat yang mengandung pesan moral. Nah, bagaimana apa yang kami sampaikan itu bisa diterima oleh penonton,” ungkapnya. 

Para pemain pun mendapatkan tawaran untuk berlakon di TVRI, yang saat itu menjadi stasiun televisi satu-satunya di Indonesia. 

“Karena saat itu baru ada TVRI jadi muka para pemain mudah sekali dikenal. Bahkan ada yang memanggil dengan sebutan artis,” katanya yang tampil di acara Cakrawala Budaya Nusantara.

Kesempatan menyuguhkan teater mendu pun semakin luas. Mereka diminta untuk bermain di Taman Ismail Marzuki sekitar tahun 1982. 

“Tak hanya kami saja, tetapi datang pula kontingen dari berbagai daerah. Begitu melihat kami tampil, mereka langsung bilang ini kan yang tampil di TV,”

Kini, Herman berharap mendu tak tergerus zaman. Ia juga berharap pementasan mendu dapat terus berlanjut. Tentu saja digantikan dengan generasi penerus yang mau memperkenalkan kesenian budaya daerah ini. 

“Harapannya kesenian ini tetap dilestarikan. Apalagi kami pernah melakukan pementasan tahun 2013 dan sukses dengan ramainya penonton yang hadir. Itu membuktikan kalau kesenian ini mampu menarik minat penonton,” pungkasnya.**

Berita Terkait