Menyerah setelah Tewaskan 5 Orang

Menyerah setelah Tewaskan 5 Orang

  Minggu, 8 January 2017 09:00
PANIK : Banyak orang keluar bandara menyusul insiden penembakan di Bandara Internasional Fort Lauderdale-Hollywood, Florida, AS Kemarin (6/01). REUTERS / Andrew Innerarity

Berita Terkait

Turun Pesawat, Tembaki Pengunjung Bandara

FLORIDA – Suasana mencekam menyelimuti Bandara Internasional Fort Lauderdale, Florida, Amerika Serikat (AS), Jumat siang (6/1). Seorang veteran perang Iraq, Esteban Santiago, tiba-tiba saja menembaki orang-orang yang tengah berderet mengantre untuk mengambil bagasi. Penembakan di terminal 2 tersebut merenggut 5 nyawa dan melukai 8 orang lainnya.

Pria 26 tahun itu menggunakan senjata semiotomatis 9 milimeter untuk menghabisi para korban. ’’Dia membawa senjata. Dia menembakkannya pada kerumunan orang. Semua orang saat itu tengah berdiri di sana menunggu bagasi,’’ ujar John Schlicher, salah seorang saksi mata. Schlicher begitu dekat dengan maut. Sebab, orang yang antre di belakangnya menjadi korban penembakan.

Santiago, tampaknya, sudah merencanakan aksinya dengan baik. Dia terbang dari rumahnya di Alaska menuju Florida dengan menggunakan pesawat milik maskapai Delta Air. Pesawat tersebut transit di Minnesota. Sejak awal penerbangan, Santiago menginformasikan kepada petugas bahwa dirinya membawa senjata.

Berdasar berita yang dirilis CBS, selama penerbangan Santiago sempat beradu argumen dengan salah seorang penumpang. Tidak diketahui apa yang dibicarakan. Begitu tiba di Florida, dia langsung mengambil bagasi miliknya. Setelah itu, dia menuju kamar mandi untuk merakit senjata serta memasukkan peluru di dalamnya. Dia kembali ke area pengambilan bagasi dan melakukan aksi kejinya sekitar pukul 13.00 waktu setempat.

Santiago menembaki orang-orang yang berusaha bersembunyi maupun melarikan diri. ’’Dia sepertinya beraksi sendirian,’’ ujar Sheriff Broward County Scott Israel. Tidak ada kata-kata yang terucap saat Santiago menembaki korbannya satu per satu. Dia menyerahkan diri setelah amunisinya habis. Santiago yang kala itu menggunakan kaus Star Wars langsung tengkurap sambil meregangkan tangan dan kakinya. Dia menunggu untuk diamankan. Saat kejadian, dia membawa serta identitas militernya.

Pria kelahiran New Jersey tersebut memiliki dua senjata yang dibeli secara legal. Yaitu, Glock 9 milimeter dan Glock kaliber 40. Belum diketahui apakah satu di antara senjata tersebut yang digunakan dalam pembantaian Jumat lalu itu. Saat ini pihak kepolisian masih menyelidiki motif dari tindakan brutal Santiago. Termasuk kemungkinan terorisme.

’’Kami berencana melakukan beberapa penyelidikan tidak hanya di Alaska, tapi juga di negara bagian lain yang pernah dia kunjungi ataupun yang memiliki koneksi dengannya,’’ ujar agen khusus FBI di Miami, George Piro. Pasca kejadian, sekitar 40 orang dirawat di rumah sakit dengan berbagai keluhan ringan. Mereka terjatuh ataupun menabrak sesuatu saat menyelamatkan diri dari tembakan membabi buta Santiago.

Di AS, kasus penembakan masal kerap terjadi. Begitu pula halnya dengan kelalaian meletakkan senjata yang berujung kematian. Mudahnya memperoleh senjata di Negara Paman Sam tersebut menjadi penyebabnya. Berdasar data yang dikumpulkan website massshootingtracker.org, sepanjang 2016 terdapat 604 orang tewas oleh tembakan senjata api. Sedangkan korban luka mencapai 1.779 orang.

Salah satu kasus yang paling menyedot perhatian publik tahun lalu adalah penembakan di kelab malam gay di Orlando, Florida. Saat itu 50 orang tewas dan 53 lainnya luka-luka.

Presiden AS Barack Obama menyatakan prihatin akan kasus penembakan di Bandara Internasional Fort Lauderdale itu. Selama masa kepemimpinannya, Obama telah mengajukan rancangan undang-undang (RUU) pembatasan kepemilikan senjata api. Namun, RUU tersebut selalu kandas di parlemen. ’’Tragedi seperti ini telah terjadi begitu sering selama tahun-tahun saya menjabat sebagai presiden,’’ jelas presiden yang masa jabatannya berakhir 20 Januari mendatang tersebut. (Reuters/AFP/CNN/BBC/sha/c19/any)

Berita Terkait