MENYELAMI HAKIKAT IBADAH QURBAN

MENYELAMI HAKIKAT IBADAH QURBAN

  Selasa, 29 Agustus 2017 09:41   125

Oleh: Syamsul Kurniawan

KEMBALI, umat Islam merayakan Idul Qurban atau juga dikenal dengan hari raya Idul Adha. Disebut begitu, karena sudah mentradisi bahwa peringatan Idul Adha identik juga dengan ritual menyembelih hewan kurban. Tradisi berkurban oleh sebagian umat Islam yang mampu, secara umum diterjemahkan dengan menyembelih binatang dan membagikannya kepada saudara-saudara sesama umat Islam yang kurang mampu. Tulisan ini mendeksripsikan tentang hakikat ibadah qurban dalam Islam. 

Syariat ini dalam sejarah umat manusia telah dimulai sejak masa Nabi Adam AS. Seperti dikisahkan, pada masa Nabi Adam AS, putranya Qabil dan Habil melakukan Qurban. Sebagai petani, Qabil berkurban hasil pertaniannya dan sebagai peternak Habil berkurban hewan-hewan ternaknya. Singkat kisah, Allah menerima Qurbannya Habil, sementara Habil tidak. Karena Habil berkurban dengan ikhlas dan takwa. Tidak demikian halnya dengan Qabil. (Qs.05: 27)

Syariat Qurban juga dilakukan pada masa Nabi Ibrahim AS. Dikisahkan Nabi Ibrahim mendapatkan mimpi untuk menyembelih putra kesayangannya Ismail. Setelah dimusyawarahkan dengan Ismail, anaknya, bersepakatlah mereka bahwa mimpi tersebut merupakan perintah dari Allah SWT yang harus dilaksanakan. Ketika Nabi Ibrahim AS ingin melakukan ritual penyelembelihan, Allah menyelamatkan Ismail dan menggantinya dengan seekor domba besar karena ketaatannya. (Qs 37: 100-107) 

Pada masa Nabi Muhammad SAW, syariat Qurban juga dilaksanakan. Berdasarkan firman Allah SWT dalam Alquran: "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadanya nikmat yang banyak, maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus." (Qs 108: 1-3)

Hakikat kurban adalah memberikan sesuatu yang paling dicintai. Dalam konteks beragama, maka hakikat kurban adalah mengurbankan sesuatu yang paling dicintai. Karena, kalau Tuhan menghendaki pengorbanan tersebut berupa binatang ternak—sebagaimana layaknya dilakukan oleh umat Islam saat ini--, Tuhan tidak mungkin memerintahkan Ismail untuk dikurbankan dalam mimpi Ibrahim. Seekor domba yang besar hanya dijadikan sebagai pengganti, setelah keikhlasan Ibrahim terhadap Allah SWT teruji. Lantas, zaman sudah berubah, apakah hewan qurban tersebut bisa digantikan dengan sesuatu yang lain? (sebagaimana sering menjadi perbincangan dalam diskusi-diskusi fiqh). 

Bagi penulis, agaknya premis di atas belum cukup untuk dijadikan alasan untuk membenarkan penggantian tersebut, karena pada zaman Nabi Muhammad SAW pun kurban masih berbentuk hewan ternak. Bahkan dalam beberapa hadis, Nabi Muhammad SAW sangat menganjurkan itu. Dari Aisyah, bahwa Nabi SAW bersabda: “Tidak ada amalan yang dikerjakan anak Adam ketika hari (raya) kurban yang lebih dicintai oleh Allah ‘Azza Wa Jalla dari mengalirkan darah, sesungguhnya pada hari kiamat ia akan datang dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya dan bulu-bulunya. Dan sesungguhnya darah tersebut akan sampai kepada Allah ‘Azza Wa Jalla sebelum jatuh ke tanah, maka perbaguslah jiwa kalian dengannya.” (HR. Ibnu Majah, At-Tirmidzi, Al-Hakim berkata isnad hadits shahih)

Maknanya, tidak ada peribadatan yang disyariatkan dalam Islam, yang tidak mengandung implikasi sosialnya. Begitupula ibadah Qurban. Tidak sama seperti praktik-praktik persembahan dalam animisme, dalam praktiknya, daging kurban tersebut dibagikan kepada fakir miskin, dan bukan menjadi daging sesajen. Dalam Islam, berkurban tidak hanya mengandung makna spiritual tetapi juga mengandung makna sosial karena sarat dengan pesan kemanusiaan.

Ibadah kurban dilaksanakan tidak dalam rangka menunjukkan kelebihan seseorang atas yang lainnya. Dalam Islam, hakikat kurban adalah memberikan, menyerahkan sesuatu dengan sukarela, tanpa mengingat kepentingan diri sendiri. Karena itu harus dikerjakan dengan ikhlas dalam rangka iman dan takwa dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. (QS Al-Hajj, 22: 37) Pengorbanan bagi orang mampu yang diberikan kepada orang miskin yang membutuhkan sesungguhnya bisa dimaklumni karena pada sebagian harta mereka kaya ada hak kaum yang membutuhkan. (Qs 51: 19;  Qs 70: 24-25) 

Simpulannya: pertama, hakikat ibadah kurban bukan pada penyembelihan hewan, melainkan pada sikap taat dan patuh kepada Allah SWT. Hal ini berarti perlunya totalitas dan loyalitas penuh terhadap Allah SWT. Sikap taat dan patuh kepada Allah swt harus dibudayakan melalui ibadah Kurban itu sehingga berpengaruh pada kehidupan nyata. Kedua, hakikat ibadah kurban adalah mendidik seorang muslim agar memiliki kepekaan dan kepedulian sosial yang tinggi terhadap kehidupan di sekitarnya. Pendistribusian daging hewan qurban kepada masyarakat terutama fakir miskin, mengandung makna dan nilai dalam upaya pengentasan mereka ke dalam taraf hidup yang lebih baik, dan merupakan wujud kongkrit kepedulian ajaran agama Islam kepada para fakir miskin sebagai solidaritas sosial. 

Di saat kebutuhan ekonomi masyarakat semakin materialistis sebagaimana sekarang ini, Allah SWT kembali menguji kita untuk berkurban. Tentu akan terasa berat bagi yang mementingkan urusan dunia. Namun akan menjadi ringan saat kita taat kepada-Nya. Motivasi lainnya dengan kurban kita akan berbagi dengan masyarakat yang secara ekonomi kurang mampu. 

Tersirat pula bagi pribadi yang berkurban, bahwa yang diharapkan dari mereka adalah menyembelih sikap materialistis, gila jabatan, serakah, sombong, ingin menang sendiri, tidak mengenal belas kasihan serta tidak saling menghargai dan menghormati sesama manusia, KKN, dan menumpuk kekayaan. Dengan kata lain, esensi kurban bagi pribadi yang berkurban adalah adalah menundukkan egoisitas, individualitas, dan meterialitas personal demi merespons cinta Ilahi dengan mengurbankan yang paling dicintainya agar memperoleh kedekatan dengan-Nya sekaligus kedekatan dengan sesamanya. Inilah beberapa hakikat dari ibadah qurban. Wallahu a'lam bi al-shawab.***

*) Penulis, Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam, IAIN Pontianak.