Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak

Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak

  Rabu, 10 January 2018 10:00

Berita Terkait

Orang tua pasti ingin buah hatinya bahagia, penuh empati, percaya diri, memiliki harga diri yang tinggi, dan unggul dalam bidang yang digeluti. Diantara sifat-sifat diinginkan orang tua, rasa percaya diri anak jadi pondasi utama dalam pertumbuhannya. Namun, bagaimana jika anak justru tumbuh menjadi anak yang minder, takut, dan tidak percaya diri?

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Memiliki anak dengan rasa percaya diri tinggi dapat membuat orang tua bangga. Anak yang memiliki rasa percaya diri cenderung lebih berhasil dalam melakukan apa yang diinginkannya, tentunya dalam hal positif. Tak heran jika rasa percaya diri anak perlu dibangun sejak dini, karena membutuhkan proses yang bertahap.

Meski memegang peranan penting, rasa percaya diri juga berkaitan dengan rasa malu. Rasa malu yang dimiliki anak merupakan hal yang wajar dan normal. Namun, jika dibiarkan terlalu lama, rasa malu akan menimbulkan beragam dampak negatif bagi perkembangan anak. Untuk itulah, rasa malu atau kurang percaya diri patut jadi perhatian lebih orang tua.

Dampak negatif yang dapat ditimbulkan dari sifat malu atau kurang percaya diri beragam. Mulai dari sulit beradaptasi, berinteraksi, dan mengenal lingkungan. Baik lingkungan keluarga, sekitar rumah, serta sekolah. Jika dibiarkan, rasa malu atau kurang percaya diri akan terus tertanam hingga anak beranjak dewasa. Ia pun tidak bisa membentuk rasa percaya dirinya. 

Psikolog Endah Fitriani, M.Psi., mengatakan rasa malu atau kurang percaya diri tidak hanya terbentuk dari pribadi anak, melainkan juga peran pola asuh keluarga, khususnya orang tua, serta lingkungan sekitar. Orang tua kerap memiliki pemikiran untuk memberikan sifat mandiri pada anak, jika sudah menginjak usia remaja.

“Orang tua tidak bisa menerapkan apa yang diterimanya saat muda pada anaknya di zaman sekarang. Orang tua perlu memahami perkembangan zaman,” ujarnya. 

Menanamkan sifat mandiri sedari dini, yakni sejak anak sudah bisa berbicara, membuat anak dapat memunculkan keberanian dalam dirinya. Berani yang dimaksud lebih pada mengemukakan pendapat terhadap yang diinginkan dan dipilihnya. Contoh kecil ketika akan berjalan bersama orang tua, ia memilih mengenakan busana dengan model dan warna sesuai pilihannya. 

“Rasa percaya diri anak akan terbentuk dengan sendirinya. Tentunya, harus didukung dengan orang tua. Jangan sampai orang tua mematahkan keinginannya,” tutur Endah. 

Psikolog Pusat Pelayanan Konseling Keluarga Sejahtera Asa Khatulistiwa menuturkan peran orang tua dalam mengajarkan, menyampaikan, dan mengawasi kemandirian anak juga penting. Jika sifat mandiri menimbulkan rasa percaya diri yang dinilai terlalu berlebihan, orang tua bisa memberi masukan. Dampak positif dan negatif yang akan didapatkan sang anak. Pemberian masukan ini agar perilaku dan keinginan anak tetap terkontrol dengan baik, serta masih dalam pengawasan orang tua. 

Fatal rasanya jika orang tua terbiasa mengharuskan anak mengikuti pilihannya. Membuat anak hanya bisa diam, selalu menerima dan mengikuti keinginan orang tuanya. Tanpa bisa memberikan pendapat yang diinginkannya. Atau, sedari kecil anak tidak pernah diberikan kesempatan berinteraksi. Lingkungan anak hanya seputar rumah dan penggunaan gadget.

Tak heran, ketika memasuki sekolah, anak akan merasa asing berdaptasi dengan lingkungan sekolah yang ramai. Anak juga sulit mengenal berbagai sifat dan karakter teman sebayanya. Jika dibiarkan terlalu lama, anak akan menjadi pribadi tertutup (introvert). Anak akan lebih senang menyendiri dan selalu beranggapan pendapatnya tidak diinginkan. 

Endah menyarankan, orang tua harus jeli mengamati, apakah anak termasuk dalam kategori kurang percaya diri, atau tidak? Jika, iya, orang tua bisa membantu membangkitkan kepercayaan dirinya. Sedikit banyaknya, anak mampu meningkatkan rasa percaya. Orang tua juga perlu memilihkan sekolah yang tepat, serta bekerja sama dengan guru di sekolahnya.

Adanya tutorial sebaya yang diberikan, dari guru pada teman, dan teman pada anak. Membuat anak mampu mengembalikan semangat untuk meningkatkan kepercayaan diri. Ia pun jadi merasa bisa keluar dari zona nyamannya. Menikmati masa-masa berekpresi, membangun sosialisasi, serta menjalani serangkaian kegiatan positif. Terpenting, ia merasa kehadirannya diterima khalayak ramai.**

 

Berita Terkait