Menjinakkan Kebakaran Hutan Dengan TMC

Menjinakkan Kebakaran Hutan Dengan TMC

  Rabu, 24 Agustus 2016 09:06   742

Oleh: Anistia Malinda Hidayat

MASIH  jelas diingatan kita bagaimana kabut asap tahun lalu menjadi perbincangan utama diberbagai media bahkan dunia. Nampaknya bencana yang sama masih mengancam negeri ini, datangnya musim kemarau tahun ini dibarengi dengan kemunculan kabut asap di beberapa penjuru Pulau Kalimantan, utamanya Provinsi Kalimantan Barat. Penduduk mulai dibuat resah dengan kemunculan kabut asap yang mengakibatkan iritasi mata dan berbagai gangguan pernapasan lainnya. Tak hanya itu, keberadaan asap ini juga mengakibatkan merosotnya jarak pandang yang mengancam keselamatan transportasi baik melalui darat, laut, hingga udara. Lebih jauh, bencana kabut asap yang diakibatkan oleh kebakaran hutan dan lahan ini menghasilkan emisi karbon yang tidak sedikit jumlahnya.

Berdasarkan pemutakhiran terakhir citra satelit Terra dan Aqua pada Selasa, 23 Agustus 2016, jumlah titik panas atau yang lazim dikenal dengan hotspot terpantau naik jika dibandingkan minggu sebelumnya. Sebaran titik panas terlihat memadati wilayah Kalimantan Barat. Berdasarkan data yang diperoleh dari Lembaga Antariksa dan Penerbangan (LAPAN) pada tanggal 23 Agustus 2016, titik panas di wilayah ini naik hingga menjadi 455 titik dari yang mulanya berjumlah 272 titik pada minggu sebelumnya (10 Agustus hingga 16 Agustus 2016).

Seakan tidak mau kecolongan, tahun ini pemerintah melalui lembaga-lembaga terkait bahu membahu mencegah serta menanggulangi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Salah satu upaya yang sedang digalakkan pemerintah saat ini adalah Teknologi Modifikasi Cuaca atau yang lebih sering disingkat TMC. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerjasama dengan Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca-Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan operasi TMC dengan mengoptimalkan potensi awan hujan untuk mencegah atau memadamkan api akibat karhutla.

Mengenal TMC

TMC merupakan upaya manusia untuk meningkatkan dan mempercepat terjadinya hujan di suatu daerah, yakni dilakukan dengan cara penyemaian awan (cloud seedling). Dalam prosesnya, bahan yang digunakan merupakan bahan yang bersifat higroskopik (menyerap air). Sehingga proses pembentukan butir-butir hujan di dalam awan terjadi lebih cepat. Lebih jauh, proses TMC dilakukan dengan mengubah proses fisika yang terjadi di dalam awan. Proses tersebut terbagi menjadi dua proses utama, yaitu proses pembentukan es (ice nucleation) serta proses tumbukan dan penggabungan (collision and coalition).

Pada proses pembentukan es, tekanan uap air kelewat dingin (supercool droplets) lebih besar dibanding tekanan uap di atas es. Sesuai dengan kaidah keilmuan fisika, jika fluida akan mengalir dari tekanan yang tinggi ke tekanan yang rendah. Sehingga tetes air kelewat dingin tersebut akan menuju dan bercampur dengan kristal es. Pada proses tersebut, air kelewat dingin berubah menjadi kristal-kristal es, sehingga jumlah kristal es akan semakin banyak. Pada proses kolisi dan koalisensi, tetes air membentur dan menangkap butiran awan sehingga tetes awan tersebut tumbuh menjadi tetes hujan.

Awan sendiri dapat terbentuk jika sekurang-kurangnya memenuhi syarat sebagai berikut: (i) Udara mengandung cukup uap air di atmosfer melalui proses kondensasi dan deposisi atau sebaliknya dimana air berubah menjadi uap melalui evaporasi dan es berubah menjadi uap air melalui sublimasi, (ii) Adanya aerosol yang bertindak sebagai inti kondensasi (iii) Adanya arus udara ke atas (updraft) akibat adanya konveksi, orografi, konvergensi (pengangkatan masa udara), atau front (Tjasyono,2012).

Untuk mendapatkan presipitasi, awan yang digunakan sebagai sasaran TMC adalah awan konvektif tipe kumulus. Awan kumulus biasanya berbentuk seperti bunga kol dan menjulang tinggi. Ada dua cara yang digunakan untuk memodifikasi awan kumulus, yang pertama adalah dengan menyemprotkan bahan bersifat higroskopik dimana bahan utamanya adalah serbuk garam (NaCl). Proses tersebut bertujuan untuk meningkatkan laju koalisensi. Sementara untuk mempercepat pembentukan kristal es pada awan cumulus yang menjulang tinggi diatas 10 km, dilakukan dengan cara menabur es kering atau karbon monoksida (CO) padat maupun AgI ke bagian puncak awan.

Dana yang dikeluarkan pemerintah untuk melaksanaan metode TMC guna mendapat tetes hujan tersebut jelas tidaklah mudah, apalagi murah. Oleh karena itu, masyarakat dihimbau untuk dapat meningkatkan rasa cinta dan peduli terhadap lingkungan dengan tidak membakar hutan dan lahan. Jika dikalkulasikan lebih lanjut, kerugian baik secara materil maupun immateril yang didapat akibat adanya upaya pembakaran hutan jauh lebih besar dibandingkan dengan keuntungan yang didapat.(*)

*) Pemeriksa Cuaca Stasiun  Meteorologi Ahmad Yani