Menjaga Jalan Kembali ke Eropa

Menjaga Jalan Kembali ke Eropa

  Rabu, 11 May 2016 09:30

Berita Terkait

LIVERPOOL – Delapan hari ke depan bagai hari-hari yang penuh ilusi untuk Liverpool. Di satu sisi, Liverpudlian – sebutan pendukung Liverpool – sudah berangan-angan klub pujaannya kembali ke Liga Champions seperti yang pernah dijalaninya di musim 2014-2015 lalu. Di sisi lain, angan-angan itu harus ditahan terlebih dulu hingga 19 Mei mendatang WIB. Sebab, tiket lolos otomatis ke fase grup Liga Champions 2016-2017 via jalur juara  Europa League belum tentu aman di genggaman. Siapa tahu angan-angan tersebut harus melayang ke tangan Sevilla yang jadi lawannya di St Jakob-Park, Basel, nanti. 

Nah, supaya harapan kembali ke kompetisi Eropa musim depan bukan hanya ilusi, tidak perlu buru-buru berpikir Sevilla yang notebene juara bertahan Europa League bisa mereka taklukkan. Amankan dahulu posisi klasemennya dalam dua laga terakhir Premier League.Misi itu akan diawali di Anfield, Liverpool, dini hari nanti dengan menjamu juara bertahan Chelsea. Dengan membekuk Chelsea, maka mencari poin sempurnanya di The Hawthorns – kandang West Bromwich Albion – pada laga pemungkas Premier League, 15 Mei nanti tidak akan sulit. 

Dilansir dari Daily Star, gelandang Liverpool Joe Allen menganggap mengakhiri Premier League di posisi enam besar fokus yang realistis. Ketimbang cuma mengharap menjuarai Europa League. ''Yang kami tahu dua laga di liga lebih penting artinya,'' ucap Allen.     ''Setidaknya, dengan mengakhiri kompetisi di enam besar maka kami bisa punya momentum dan kepercayaan diri menuju ke final Europa League,'' lanjutnya. Di papan klasemen sementara Premier League, satu tiket Europa League di atas kertas menunggu antara duo Manchester, Manchester City dan Manchester United. 

Satu dari dua klub Manchester itu akan gagal lolos playoff Liga Champions dan menggenggam tiket ke Europa League. Artinya, satu tiket Europa League lainnya yang tersisa memunculkan pacuan tiga kuda. Dan, Liverpool masuk dalam satu kuda pacuan itu bersama Southampton dan West Ham. 

The Reds – julukan Liverpool – menjadi klub terbawah dalam pacuan itu dengan 58 poin. West Ham satu strip di atas Liverpool dengan keunggulan satu angka (59 poin). Sedangkan Southampton dalam posisi terdepan hanya terpaut dua angka dari Liverpool dan satu angka dari West Ham. Poin Soton 60 di posisi keenam. 

Jika Chelsea dan West Brom sudah menyiapkan jebakan untuk Liverpool, maka Mark Noble dkk harus menghadapi tekanan dari United dini hari tadi WIB dan Stoke City pada laga pemungkasnya akhir pekan nanti. Dengan tambahan enam poin, maka Liverpool berpeluang mengakhiri Premier League di posisi keenam. Syaratnya, West Ham harus terpeleset satu dari dua laga tersisanya. Bagusnya rekor Liverpool saat menghadapi Chelsea di Anfield dalam Premier League sepuluh tahun terakhir ini bisa menjadi angin segar. Sembilan kali bentrok dengan Chelsea di Anfield, lima di antaranya Anfield Gang yang berpesta. 

Rekornya, lima kali menang, dua kali imbang, dan hanya dua kali tuah Anfield ditaklukkan klub London Barat tersebut. Kali terakhir, musim lalu Chelsea menodai Anfield dengan kemenangan 2-1. Namun, dilansir dari ESPN, pelatih Juergen Klopp enggan berpatokan dengan rekor manis itu. Bilic terjegal satu dari dua laga tersisanya. 

Dengan perkiraan poin Liverpool dan West Ham sama-sama 42 di akhir musim nanti, selisih gol yang bisa memupus asa Liverpool. West Ham punya surplus 14 gol, sedangkan Liverpool surplus 13 gol.Karenanya, bukan hanya menang, dalam dua laga tersisa pun Liverpool harus lebih garang dalam mencetak gol. 

''Tunggu saja dalam beberapa hari ke depan, siapa saja yang akan kami mainkan sebagai starter. Lawan Chelsea, lalu ke West Brom, kemudian kami berharap dengan skuad yang sama itu turun di final,'' lanjut mantan pelatih Borussia Dortmund musim lalu itu. 

Salah satunya Philippe Coutinho. Attacking midfielder Brasil ini selalu bermain dalam empat laga terakhir Liverpool. Coutinho, sebut Klopp, tetap dimainkan sebagai starter dalam tiga laga terakhir Liverpool musim ini. Dua di Premier League, dan satu laga final Europa League. 

''Kami tidak memikirkan resikonya. Yang ada dalam bayangan kami bagaimana di laga-laga terakhir ini kami bisa memainkan sepak bola terbaik kami. Kalau takut untuk mengambil resiko, lebih baik saya suruh semua pemain saya pulang dan saya gantikan dengan siapa yang saya pun tidak tahu orangnya. Bukan itu caranya,'' tuturnya. (ren)

 

Berita Terkait