Menjadi Pemimpin dalam Semangat Kemerdekaan

Menjadi Pemimpin dalam Semangat Kemerdekaan

Selasa, 23 Agustus 2016 09:03   655

OPINI ini terinspirasi dari isi khutbah Jum’at, 12 Agustus 2016 lalu di Masjid Raya Mujahidin Pontianak yang disampaikan oleh khatib Drs. H. Munir Hamid.

Semangat kemerdekaan telah ada jauh sebelum kemerdekaan didekrelasikan oleh proklamator, Ir. Soekarno dan Drs. Muhammad Hatta, 17 Agustus 1945. Dan semangat kemerdekaan tersebut harus tetap selalu hidup dan menjadi inspirator dan motivator dalam mengisi kemerdekaan bagi seluruh rakyat Indonesia dimanapun mereka berada, apapun profesi dan kegiatan yang dilakukan.

Pembukaan UUD 1945 yang terdiri dari beberapa alinea merupakan satu diantara sumber-sumber penyemangat dalam mencapai dan mengisi kemerdekaan itu, termasuk persoalan “Menjadi Pemimpin”.      

Alinea pertama menyatakan “bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.

Menjadi pemimpin adalah hak semua orang selama yang bersangkutan telah memenuhi persyaratan perundang-undangan dan peraturan yang berlaku. Ada pendapat yang menyatakan bahwa menjadi pemimpin bukanlah hak semua orang, melainkan hak segelintir orang, terutama bagi mereka berdarah biru, putra-putri pemimpin yang sedang berkuasa, dan saudara/i dan kroni mereka. Pendapat tersebut adalah sebuah mitos kepemimpinan atau keyakinan yang tidak akurat dan bahkan salah atau palsu tentang kepemimpinan, tetapi ia dipercaya memberikan pengaruh yang sangat kuat agar orang lain menjadi pengikutnya.

Kouzes & Posner (1999) dalam bukunya “The Leadership Challenge” menegaskan bahwa mitos kepemimpinan untuk sedikit orang tersebut adalah sebuah mitos yang paling merusah dari segala mitos kepemimpinan lainnya. Dan hal ini tidak boleh dibiarkan karena sangat merusak bagi ketatanegaraan dan masyarakat.

Selain hak setiap orang, menjadi pemimpin harus mempertimbangkan kepantasan dan aksesibilitas atau kepercayaan dan penerimaan dari pengikutnya. Mereka menaruh kepercayaan karena jujur, visioner, inspiratif dan cakap, demikian Kouzes & Posner (2001) dalam bukunya “Credibility”.

Alinea kedua menyatakan, “Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur”.

Seseorang menjadi pemimpin, selain karena memiliki hak dan kepercayaan, juga harus diperjuangkan dengan segala pengorbanan untuk memperoleh kemenangan. Meminjam pendapat Hugo Chavez, seorang pemimpin yang dijuluki Soekarno dari Venezuela dan dikenal seorang pemimpin pemberani, anti kapitalis, dan memperjuangkan kepentingan rakyat dengan jargonnya: “Bersatu, Berjuang, Menang”, artinya tidak ada kemenangan tanpa perjuangan dan tidak ada perjuangan tanpa persatuan. Bahkan perjuangan menjadi pemimpin itu telah disemai, dipupuk dan dipelihara dari sejak lama karena mereka mengetahui bahwa kepemimpinan itu adalah sebuah proses panjang, bukan pekerjaan satu tahun, satu bulan dan satu hari sebagaimana sering terjadi sekarang ini mereka ramai meributkan menjadi pemimpin menjelang pemilu dan pilkada; baliho, sumbangan disebar dimana-mana tanpa menaruh rasa malu.    

Aliena ketiga menyatakan, “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”.

Hak dan kepercayaan menjadi pemimpin sudah dimiliki. Usaha, perjuangan dan pengorbanan menjadi pemimpin juga sudah dilakukan, selanjutnya serahkan kepada Allah SWT untuk memberikan pilihan yang terbaik buat calon pemimpin. Ada kalanya sebagian orang kurang menyadari bahwa kekuasaan itu datangnya dari Allah SWT. Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, “Katakanlah (Muhammad). Wahai Tuhan pemilik kekuasaan. Engkau berikan kekuasaan kepada siapapun yang engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapapun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapapun yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan siapapun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. Al-Imran:26).

 Jika Allah SWT belum berkenan memilih seseorang menjadi pemimpin, maka itu adalah pilihan yang terbaik baginya. Ingatlah firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, “Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah SWT mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (Al-Baqarah:216).  

Alinea keempat menyatakan, “Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap rakyat Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam satu Undang-Undang Dasar negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.  

Dalam konteks menjadi pemimpin, alinea keempat ini mengingatkan kepada mereka yang telah terpilih atau dipercaya menjadi pemimpin, bahwa kepadanya kelak akan diminta pertangung jawabannya. Oleh karena itu, kepada semua pemimpin harus membentuk suatu pemerintahan yang baik dan bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) dan menghindari cara oligarkis agar dapat melindungi pengikutnya demi mencapai kesejahteraan, mencerdaskan kehidupan yang selama ini sering kali terabaikan, menciptakan rasa aman, nyaman dan tertib di masyarakat berdasarkan prinsip sebagaimana terdapat pada akhir alinea keempat pembukaan UUD 1945 ini (Penulis, Dosen FKIP UNTAN)

Aswandi

Penghobi membaca dan menulis ini lahir di Tebas Sungai pada 13 Mei 1958 dan memiliki motto hidup "Mencapai Muttaqiiin melalui Iman, ilmu dan amal". Pria yang menikahi Rusnawaty ini dikaruniai tiga anak.

Aswandi lahir dari pasangan Asy’ari (almarhum) dan Fatimah (almarhumah). Dosen FKIP Universitas Tanjungpura (PNS) itu tinggal di Jalan Danau Sentarum, Gang Pak Madjid 3/18 Pontianak.

Jenjang pendidikan dilalui Aswandi dengan menamatkan Madrasah Ibtidaiyah di Tebas Sungai (1971), MTs Gerpemi di Tebas (1974), SPG Negeri di Singkawang (1977), S1 FKIP Untan Pontianak (1984), S2 IKIP Malang (1993) dan S3 Universitas Negeri Malang (2001).

Karier pekerjaan Aswandi diawali dengan menjadi Guru SDN di Pontianak 1978-1986. Kemudian guru SMP-PGRI, Dosen FKIP UNTAN, Dosen Universitas Muhammadiyah Pontianak, Dosen STKIP PGRI Pontianak, Dekan FAI Universitas Muhammadiyah Pontianak, Pembantu Dekan I FKIP UNTAN, Dekan FKIP UNTAN kini Wakil Rektor Bidang Akademik Untan 2015-2019