Menjadi Guru Super, Excellent, atau Good?

Menjadi Guru Super, Excellent, atau Good?

  Kamis, 31 March 2016 16:40   868

MENGAJAR memberikan tantangan dan kesempatan yang tiada habisnya untuk berkembang. Setiap hari mengajar akan menguji keterampilan berkomunikasi interpersonal kita, pengetahuan akademis kita, ataupun kemampuan kepemimpinan kita. Kita sebagai guru berkesempatan untuk membagi pengalaman dan semangat hidup untuk berbagi kepada generasi penerus bangsa tentang pentingnya pendidikan dalam  mengisi kemerdekaan ini . Mengisinya dengan jiwa-jiwa yang optimis, jiwa-jiwa yang patriotis, jiwa-jiwa yang humanis, jiwa-jiwa yang religius, jiwa-jiwa yang berani menyatakan bahwa jujur itu hebat. Itu semua tentu membutuhkan tenaga dan waktu yang lebih dari seorang guru. Sebagai guru, tentunya kita harus memberikan inspirasi, motivasi dan tantangan kepada anak didik kita untuk dapat mengembangkan bakat dan kekuatan individu mereka masing-masing sehingga mereka menjadi generasi bangsa yang membanggakan.

Namun disisi lain sebagai guru kita merasakan bahwa mengajar adalah pekerjaan yang sulit dan menantang, bagaimana tidak, anak-anak saat ini mengalami tekanan dari tantangan emosi, mental dan fisik yang mempengaruhi perilaku dan kemampuan belajar mereka. Diperparah lagi dengan banyaknya role model mereka yang mendorong anak didik untuk memperlakukan mereka sendiri dan orang lain dengan tidak pantas. Dalam era globalisasi dan tehnologi berbagai arus informasi berseliweran datang silih berganti  memenuhi ruang dan waktu anak didik kita. Media televisi dan ketertarikan pada gadget dengan berbagai aplikasi game di dalam membuat anak didik kita terlena adanya. Tentunya pengaruh besar itu harus kita hadapi dengan penuh kebijaksanaan dalam upaya mengarahkan agar kecanggihan tehnologi yang ada dapat menumbuhkembangkan minat dan bakat ke hal yang positif. Hanya kesabaran dan kebijaksanaan guru yang sepertinya harus ditambah dengan energi pengabdian dalam bingkai keikhlasan.

Ketika kita bicara tentang guru, mari kita menyimak apa yang tertera pada buku yang berjudul “Teaching Outside the Box” karya Lau Anne Johnson yang menyatakan bahwa sesungguhnya guru terbagi ke dalam tiga rasa dasar yakni Super, excellent, dan good. Rasa apa yang anda inginkan sebagai guru tergantung pada kekuatan personal anda. Hubungan pertemanan, tujuan profesional, dan prioritas individual anda.  Sebelum anda mengajar, pikirkanlah dengan serius berapa banyak waktu, dan energi emosional yang dapat anda berikan untuk bekerja di luar rumah.

Kemudian Lau Annne Johson sang penulis buku-buku best seller itu menambahkan mengajar dengan super membutuhkan energi fisik, emosi, dan mental yang sangat tinggi. Guru-guru super biasanya tiba di sekolah lebih awal dan pulang lebih akhir. Mereka juga adalah sukarelawan bagi setiap kegiatan murid, dan memberikan diri mereka bagi murid-murid yang membutuhkan bantuan ekstra di dalam maupun di luar kelas. Karena pada diri guru super telah ada rasa menikmati hubungan yang solid dengan para muridnya, mereka tidak harus fokus pada berapa banyak waktu atau energi untuk menerapkan disiplin di kelas-kelas mereka.

Berikutnya yang disebut dengan guru excellent adalah guru-guru yang menikmati pekerjaan mereka, tetapi mereka membatasi jumlah waktu dan energi yang mereka baktikan untuk mengajar. Mereka peduli dan melakukan yang terbaik bagi para muridnya, namun tidak mengorbankan kebutuhan keluarga mereka sendiri. Para guru excellent  juga bekerja lembur karena mengajar yang baik dibutuhkan sejumlah waktu lembur tambahan. Mengajar excellent membutuhkan pengeluaran energi yang lebih sedikit dibanding dengan mengajar super, tetapi mengajar dengan excellent tetap membuat anda lelah. Bahkan anda harus menperjelas kepada teman dan keluarga anda bahwa pekerjaan menjadi guru adalah prioritas utama dan anda harus menghabiskan malam-malam dan akhir pekan anda untuk mengembangkan pelajaran dan keterampilan anda.

Terakhir adalah yang disebut dengan guru good. Guru pada tipe ini adalah mereka yang mengerjakan pekerjaan mereka dengan baik, tetapi mereka memahami betul batasan mereka sendiri. Mereka membuat batasan yang sangat jelas antara profesionalitas dan waktu pribadi. Mereka memperlakukan murid mereka dengan rasa hormat dan mereka melakukan yang terbaik untuk memastikan bahwa semua murid mempelajari materi yang disyaratkan untuk tingkat pendidikan selanjutnya

Tiga rasa dasar guru diatas seperti yang diungkapkan Lau Anne Johson tentunya sebagai guru kita merasakan itu semua, namun dalam hal ini untuk memilih rasa apa itu tergantung pada diri kita masing-masing. Tanpa memandang apakah kita memilih untuk menjadi  seorang guru yang super, excellent atau good. Kita tetaplah seseorang yang memberikan konstribusi besar kepada masyarakat dan bangsa dalam menjalankan tugas mulia seorang guru untuk memberikan yang terbaik dalam upaya mencerdaskan kehidupan generasi anak bangsa. Tentu selain diri kita sendiri, murid kita tahu seberapa banyak energi kita yang kita abdikan bagi pekerjaan mulia ini. Menjadi guru tentu bukanlah untuk mencari penghargaan, atau sanjungan, namun lebih dari itu adalah pengabdiaan dalam diri bahwa pendidikan itu adalah hal yang paling penting. Perlu diingat bahwa dua puluh atau tiga puluh tahun dari sekarang kita mungkin tidak mengenal murid-murid kita, tetapi mereka masih mengenal kita. Mereka mungkin tak ingat dengan mata pelajaran apa yang kita ajarkan, dan mungkin saja mereka sudah lupa dengan raut wajah kita, namun mereka akan mengingat dengan jelas bagaimana cara kita membuat mereka merasakan atas diri mereka sendiri. Mereka akan mengingat kritik dan pujian yang kita berikan. Artinya adalah waktu tidak akan mampu menghapus ingatan murid kita tentang pengalaman dengan gurunya. Untuk itu bisa kita katakan sebagai guru, bahwa mengajar adalah profesi yang paling indah di dunia. Semoga.

*) Penulis adalah guru pada sekolah MIN Teladan Sanggau

Anwar Musadad

Mengabdi pada negeri lewat tulisan, tulisan adalah sejarah