Menjadi Guru Pembelajar

Menjadi Guru Pembelajar

  Sabtu, 6 Agustus 2016 10:49   1

Oleh: Uray Iskandar, S.Pd,M.Pd

Proses pembelajaran pada setiap satuan pendidikan harus interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Guru mendidik tidak hanya sebatas mentransfer ilmu saja, dan yang lebih utama adalah dapat mengubah atau membentuk karakter dan watak  peserta didik agar menjadi lebih baik, lebih sopan dalam tataran etika maupun estetika bahkan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Memahami karakter seseorang peserta didik memang sangat sulit, namun sangat penting. Apalagi sebagai guru selalu bersama dengan peserta didik yang sangat banyak dan masing-masing mempunyai karakter-karakter tersendiri. Keadaan atau proses belajar dan mengajar tidak dapat berjalan dengan baik, apabila kita tidak saling mengenal dengan peserta didik. Saling mengenal tidak harus dengan menghafal nama-nama dari peserta didik, tetapi pendidik harus mengenal kepribadian dari setiap peserta didik.

Menurut Danim (2010:145) manusia pembelajar adalah orang-orang yang menjadikan kegiatan belajar, sebagai bagian dari kehidupan dan kebutuhan hidupnya. Manusia pembelajar belajar dari banyak hal, misalnya dari pengalaman keberhasilan atau kegagalan orang lain, pengalaman diri sendiri yang bersifat sukses atau yang bersifat gagal. Masih menurut beliau ada enam pilar utama yang mutlak ada untuk menjadi manusia pembelajar adalah: Rasa ingin tahu, optimisme, keikhlasan, konsistensi, pandangan visioner dan tuntutan pekerjaan,

Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku peserta didik berubah ke arah yang lebih baik. Pembelajaran bertujuan membantu siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu tingkah laku siswa yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku menjadi bertambah, baik kuantitas maupun kualitasnya. Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, pembelajaran merupakan aktivitas yang paling utama. Hal ini berarti bahwa keberhasilan suatu pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung pada bagaimana proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. Pemahaman seorang guru terhadap pengertian pembelajaran akan sangat mempengaruhi cara guru itu dalam mengajar.

Keberhasilan peserta didik dalam belajar tidak terlepas dari upaya seorang guru yang sungguh-sungguh dalam melaksanakan proses pembelajaran yang berkualitas. Kemampuan guru dalam mendesain sebuah pembelajaran dan komunikasi setiap peserta didik akan mempengaruhi pula proses dan hasil belajar yang dikelolanya. Peserta didik akan menerima dengan cara dan kapasitas yang berbeda dari hasil pembelajaran tersebut.

Proses pembelajaran yang kurang dan tidak berkualitas menyebabkan peserta didik malas, tidak termotivasi, merasa terbebani, sikap apriori terhadap guru, bahkan lebih jauh kondisi ini akan membentuk suatu karakter yang selalu berprasangka buruk, mencari pembenaran, menimpakan kesalahan, sibuk dengan alasan dan lain-lain.

Pada dasarnya proses pembelajaran adalah bagaimana kemampuan guru membantu pengembangan seluruh potensi yang dimiliki oleh siswa. Dalam keseluruhan kegiatan pendidikan di sekolah, maka proses pembelajaran di kelas menjadi tolok ukur yang paling utama dalam menilai kualitas dan keberhasilan pendidikan di setiap sekolah. Untuk itu, menjadi suatu kewajiban bagi para guru agar selalu berupaya untuk meningkatkan mutu pembelajaran di kelasnya. Upaya tersebut dapat berhasil apabila setiap guru mau mempelajari dan melaksanakan berbagai metode atau strategi pembelajaran yang banyak dikemukakan oleh para ahli pendidikan.

Sebagai guru harus dapat mengendalikan ego dan menambah kesabaran saat berinteraksi dengan peserta didik untuk mengingatkan bahwa hal tersebut salah, benar, sopan dan lain-lain.  Misalnya, seorang peserta didik yang suka bergurau dan menganggap guru adalah teman, saat pendidik melakukan kesalahan dan peserta didik mengejek dengan kata kurang sopan. Apabila kita langsung memarahi dan tidak bisa menahan emosi kita, maka kita akan ditakuti oleh peserta didik dan bisa saja peserta didik tersebut dan yang lain langsung merasa tegang dan akhirnya pada saat pelajaran, bukan suasana yang menyenangkan  yang didapat melainkan suasana tegang dan menakutkan.

Sebagai guru pembelajar mau tidak mau guru harus secara terus-menerus belajar dalam rangka menyegarkan kompetensinya serta meningkatkan kualitas profesionalnya. Peran yang lama  harus berubah dan ditinggalkan untuk dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan pembelajaran yang mengikuti perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Apabila dulunya sebagai penyampai pengetahuan, sumber informasi, ahli materi dan sumber segala jawaban berubah menjadi fasilitator pembelajaran, pelatih, kolabolator, navigator pengetahuan dan mitra belajar. Kemudian yang dulunya mempunyai peran dalam mengendalikan dan mengarahkan semua aspek pembelajaran, berubah menjadi peran menjadi pemberi lebih banyak alternatif dan tanggung jawab kepada setiap siswa dalam proses pembelajaran.

Dengan demikian menjadi guru pembelajar seperti yang diharapkan oleh seorang guru, maka ia akan selalu berusaha untuk menjunjung tinggi harkat dan martabat dalam membangun dan mengembangkan dirinya sebagai pembimbing, pengajar, pendidik, pengarah dan pelatih secara optimal untuk mengaktualisasikan segenap potensi diri yang dimiliki. Dalam hal ini untuk menjadi guru pembelajar tentunya sulit apabila tidak adanya sebuah keikhlasan dalam menjalankan tugas profesional guru. Karena seorang guru pembelajar juga ia harus mempunyai sifat ingin tahu yang luar biasa untuk mengembangkan kemampuannya dalam menjalankan tugas sehari-hari. Disamping itu juga ia harus memliki sifat yang optimis, tidak mudah menyerah  memandang suatu permasalahan yang dihadapi ketika dalam menyampaikan materi pembelajaran.

Guru pembelajar tentunya memiliki karakteristik atau sifat-sifat khas yang diperlukan dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang pembelajar yaitu harus mampu memahami peserta didiknya, serta harus dapat memahami nilai-nilai kemanusian yang berkembang dalam lingkungannya. Guru pembelajar juga harus memiliki jiwa sosial yang tinggi, sehingga mampu menjalin kerja sama dengan siswa, guru ataupun masyarakat. Bahkan guru pembelajar harus memiliki kemampuan untuk mendidik, artinya harus memiliki ilmu pengetahuan yang cukup tentang latar belakang dan perkembangan peserta didiknya. Sebab pada dasarnya setiap peserta didik terlahir dengan kepribadian dan kemampuan belajar yang berbeda-beda.

*) Ketua Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia Kabupaten Sambas