Menilik Kehidupan Warga Kampung Bali Sukadana

Menilik Kehidupan Warga Kampung Bali Sukadana

  Selasa, 10 November 2015 08:31
TRADISI BALI : Anak-anak Desa Sedahan Kampung Bali, Kab. Kayong Utara sedang menari khas Bali. Warga Sedahan masih mempertahankan tradisi Bali. MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

Masyarakat Hindu di Kampung Bali, Desa Sedahan Jaya, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara (KKU) kukuh menjaga adat dan tradisi asli mereka. Mereka rutin menggelar berbagai upacara adat. Persis sepeti yang dilakukan masyarakat Bali pada umumnya. IDIL AQSA AKBARY, Sukadana

Senja hampir berakhir, Wayan Budi terlihat masih membakar babi guling di perapian belakang rumahnya. Menu spesial ini disiapkan khusus. Kebetulan kemenakannya baru saja melahirkan anak kedua. Babi guling akan disajikan dalam rangka syukuran kelahiran tersebut.“Sudah kami niatkan, seandainya anak lahir dengan selamat kami akan mengadakan acara makan-makan, potong babi, ini hanya syukuran biasa tidak ada makna apa-apa,” jelasnya.Pria 43 tahun ini mengatakan upacara khusus baru akan diadakan saat umur bayi mencapai tiga bulan. Sudah menjadi adat dan tradisi masyarakat Hindu di sana, sama halnya dengan daerah asal mereka di Pulau Bali. Untuk acara tiga bulanan wajib dilakukan. Di mana selain sembahyang dan potong rambut juga potong babi untuk acara makan-makan.

Salah satu babi peliharaan mereka disiapkan untuk dijadikan babi guling. Babi yang dipotong disesuaikan dengan jenis kelamin sang bayi. Jika anak laki-laki, babi yang dipotong harus jantan, begitu juga sebaliknya. “Maknanya secara mendalam saya juga kurang mengerti, yang jelas ini sudah tradisi kami dari Bali, mengadakan upacara tiga bulanan atau dikenal juga dengan upacara potong rambut bayi,” terangnya.Ketua adat di sana atau yang dikenal dengan istilah Klian Banjar Adat Kampung Buli Ketut Sekawan menambahkan memang untuk mempertahankan adat, tradisi serta seni dan budaya Hindu mereka rutin menggelar berbagai upacara adat. Persis yang dilakukan masyarakat Bali pada umumnya. Seperti perayaan Nyepi, hari ulang tahun Pura, hingga tradisi sehari-hari, berdoa sebelum memulai aktivitas bercocok tanam. “Mayoritas warga kami memang bertani,” ucapnya.

Untuk melestarikan kesenian misalnya, warga sampai mendatangkan pelatih khusus dari Bali dan rutin menggelar latihan. Menurutnya keharmonisan yang terjalin bersama antara warga setempat yang saling menjaga kerukunan beragama membuat masyarakat Bali betah.Berkaitan dengan hal tersebut Pemda KKU merasa telah mendukung penuh. Seperti yang disampaikan Bupati Hildi Hamid bahwa tidak hanya masyarakat Bali tetapi juga masyarakat trans lainnya juga diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan seni budaya masing-masing. Ini membuktikan bahwa kekayaaan dari keberagaman yang ada di KKU akan terus terjaga.

Untuk program-program pemerintah pun dikatakan sudah menjangkau semua kalangan. Semua fasilitas pemerintah bisa dinikmati seperti pendidikan dan kesehatan gratis. “Saya harap dari suku atau agama apapun bisa bersama-sama membangun dan berkarya untuk kemajuan daerah ini,” katanya.Sejauh ini Kampung Bali memang menjadi salah satu desa wisata di KKU. “Jika masyarakat Kalbar belum pernah ke Bali, tidak salahnya mencoba mengunjungi Balinya Kalbar terlebih dulu di sini,” pungkasnya.Untuk mengunjungi Kampung Bali diperkirakan memakan waktu sekitar 30 menit dari Ibukota Kabupaten di Sukadana. Sampai sekarang ada sekitar 125 Kepala Keluarga (KK) masyarakat Hindu di KKU. Baik yang tinggal di Kampung Bali maupun menyebar di wilayah sekitarnya. “Saat ini kami sudah masuk generasi kedua, sementara untuk pimpinan sudah yang ketiga, saya baru menjabat 3,5 tahun,” ujar Ketut Sekawan. (*)