Menilik Cara Orang Sungkup Berladang , Ikuti Aturan atau Bercocok Tanam Tanpa Hasil

Menilik Cara Orang Sungkup Berladang , Ikuti Aturan atau Bercocok Tanam Tanpa Hasil

  Selasa, 8 December 2015 09:28
BERLADANG: Warga masyarakat Dusun Sungkup saat melintasi sawah mereka. Soal cocok tanam, Orang Sungkup selalu mengandalkan tanda-tanda alam sebagai patokan.ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Keunikan budaya masyarakat Dayak Limbai di Dusun Sungkup, Desa Belaban Ella, Kecamatan Menukung, Melawi tidak hanya terlihat dari ritual menjaga tanaman padinya dari serangan hama. Tetapi juga bagaimana orang Sungkup membuka lahan untuk ladang mereka. ARIEF NUGROHO, Sungkup

Ritual selamatan daun padi berlangsung dengan meriah bersama tabuhan gendang, gong, petikan kecapi, hingga tiupan seruling. Campuran alat musik ini menghasilkan nada yang unik. Para warga menari, atau dalam bahasa setempat disebut nyasai, mengelilingi tumpukan tumbuhan dan ember-ember. Gayanya bebas, yang penting tangan dan kaki bergerak, disertai tawa dan senyum.

Kemudian, air dari dalam ember dan bekas potongan ayam akan dituang diletakkan di keranjang dan tabung kecil di tipoh, sisanya akan disiramkan ke ladang maupun sawah. Untuk daun-daun padi kering dan daun-daun tumbuhan lain diikat dan digantung di depan pintu rumah. Sementara tipoh akan ditancapkan di ladang dan sawah pada sisi dan tengah.

Petani Sungkup sendiri tidak pernah menggunakan pestisida ataupun obat-obatan lain dalam berladang atau menanam padi. "Inilah pupuk sekaligus obat bagi tanaman padi kami," lanjut Bahen.

Soal cocok tanam atau berladang, orang Sungkup tidak bisa sembarangan. Setiap orang yang ingin membuka ladang harus mengetahui ilmu dan pantangan yang berlaku di kampungnya, baik itu melalui tanda-tanda alam maupun fatwa temenggung dan kesepakatan warga masyarakatnya.

Sebelum membuka lahan, kata Bahen, warga setempat, mereka harus mengenal tempat atau lahan akan dibuka dengan cara survei selama tiga hari. Jika dalam tiga hari tidak ada hambatan atau rintangan, maka pembukaan lahan boleh dilanjutkan. Namun sebaliknya, jika ada hambatan sebaiknya lahan tersebut harus ditinggalkan dan berpindah ke tempat yang lain.

“Misalnya, pada saat melakukan survei, ternyata ada keluarga kita meninggal, berarti peladang tidak boleh berladang di situ. Saya harus pindah tempat. Atau pada saat akan membuka lahan kita menemui habitat satwa, seperti rusa, burung dan tanda-tanda alam seperti akar pohon yang terikat,” timpal Bahen. 

Mereka juga meyakini, jika setiap ada halangan dalam proses pembukaan lahan, maka kedepannya juga berpengaruh pada hasil penen dan pekerjaan lainnya. “Ini sudah menjadi aturan dan turun temurun dari orang-orang terdahulu kita. Benar tidak benar, mata tidak mau harus kita ikuti,  karena ini sudah turun temurun,” lanjutnya.

Setelah melakukan survei, selanjutnya warga Sungkup melakukan ritual pinjam lahan dengan cara menanam keladi atau kunyit, menabur beras tanda sebagai kontrak antara peladang dengan penghuni lahan dalam jangka waktu satu tahun.

“Jika diizinkan oleh penghuni lahan, maka akan diberi tanda. Demikian juga jika tidak diizinkan. Tandanya, jika boleh, dengan cara menancapkan parang ke tanah. Jika ada tanah yang melekat ke parang berarti tanah tersebut diperbolehkan untuk ditanami padi. Jika ternyata parang yang kita tancapkan bersih, tidak ada tanah yang melekat, maka kalau pun dipaksakan ditanami padi, kita tanpa hasil,” bebernya.

Langkah selanjutnya, kata Behen, setiap kali membuka lahan dengan cara membakar, maka harus menjaga apa yang ada di lahan tersebut. Misalnya tanam tumbuh pohon durian atau kuburan. Jika terkena kuburan, maka akan dihukum adat. Nominalnya tidak tanggung-tanggung, mencapai Rp30 juta. Di samping itu juga diwajibkan memotong babi hingga sapi.

Cara berladang orang Sungkup dengan berpindah (hilir balik). Dalam jangka waktu tertentu, mereka kembali ke lahan yang pernah mereka buka sebelumnya. Dan jika lahan sudah tidak subur untuk ditanami padi, maka, diwajibkan untuk ditanami pohon.  Meskipun demikian, orang Sungkup memiliki aturan tersendiri dalam membuka lahan pertanian. Ada tempat-tempat khusus yang tidak diperbolehkan untuk membuka lahan, seperti hutan adat.

“Jika tidak mematuhi, maka akan diberi sanksi adat, karena telah melanggar keputusan temenggung dan keputusan kampung,” katanya.

Untuk membuka ladang, warga adat Sungkup menggunakan teknik membakar. Namun, jangan berpikir mereka membakar ladang dengan seenak hati seperti yang banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan.

Menurut Uday (29), warga lain, pihak yang ingin membakar hutan untuk ladang harus memberitahukannya kepada penduduk dan pemuka-pemuka adat. “Kalau mau membakar, seberapa pun luasnya, bahkan beberapa jengkal sekali pun, penduduk harus tahu,” tutur Uday.

Sebelum membakar, mereka juga mesti membuat sekat di sekeliling daerah. Caranya, semua tanaman yang membatasi dengan wilayah lain harus ditebas.

Masyarakat adat Sungkup sangat serius mengenai hal ini. Jika kedapatan melanggar, misalnya kebakaran sampai menjalar, mereka akan terkena sanksi adat (ulun), dengan bentuk yang bervariasi bergantung pada pelanggarannya.

Bahkan, seperti dikatakan Manan, Temenggung Desa Belaban Ella, pelanggar juga bisa dikenai hukum negara. “Jika ada masalah, akan diselesaikan melalui dewan adat. Kalau belum menemui titik terang, akan dibicarakan di tingkat temenggung. Hukum negara dilibatkan bila semua proses buntu dan itu harus diketahui oleh kepala desa,” kata Manan.

Sayang, luas hutan adat di Desa Belaban Ella, termasuk Dusun Sungkup, diduga makin mengecil karena masih berkonflik dengan sebuah taman nasional di daerah tersebut.

Berdasarkan catatan Kantor Desa, luas wilayah adat Desa Belaban Ella adalah 13.183,29 hektare. Sekitar 9 ribu hektare di antaranya adalah hutan adat.

Namun, lembaga swadaya masyarakat yang fokus pada hukum adat di Kalimantan Barat, Lembaga Bela Banua Talino (LBBT) menyatakan 5 ribu hektare dari hutan adat tersebut masuk wilayah abu-abu karena konflik. “Sekitar 5.000 hektare masuk wilayah sengketa, yang akan terus diupayakan agar menjadi hak masyarakat adat. Walau memang ada beberapa kendala seperti belum adanya tata ruang desa,” kata Direktur LBBT Agustinus.Keunikan-keunikan tata cara berladang ini menjadi kearifan lokal orang sungkup yang harus terus dijaga, agar tidak hilang di kemudian hari. (**)

Berita Terkait