Menikmati Perjalanan Seperti di Rumah

Menikmati Perjalanan Seperti di Rumah

  Kamis, 7 April 2016 22:09

Berita Terkait

KAPAL  Bandong didesaign menyerupai rumah, dengan ukuran panjang 20-25 meter dan lebar 10-12 meter. Orang yang naik Kapal Bandong juga bisa menikmati makan, mandi dan aktifitas layaknya sebuah rumah.
 
Bahkan untuk Kapal Bandong yang modern, biasanya juga dilengkapi alat elektronik seperti televisi (TV), tape recorder dan perlengkapan elektronik lain yang dibutuhkan untuk membuang jenuh sepanjang perjalanan.
 
Dengan ukuran yang begitu besar itu, Kapal Bandong dimanfaatkan juga sebagai alat transportasi untuk mengangkut hasil bumi, baik karet maupun komoditi lainnya.
 
Selain itu, lanjut Natsir, Kapal Bandong juga digunakan untuk berdagang. Karena pada dasarnya, aktivitas masyarakat pedalaman lebih banyak di pinggiran sungai. "Kapal ini untuk berdagang dan rumah tinggal. Seperti ketika berada di pontianak, Kapal Bandong juga digunakan sebagai tempat tinggal. Karena belum maraknya tempat penginapan," bebernya.
 
Di era 1980 an, Kapal Bandong masih dominan. Terutama angkutan hasil alam. "Di era itu, banyak pengusaha-pengusaha yang memiliki Kapal Bandong, karena masih banyak digunakan masyarakat, terutama untuk mengangkut hasil bumi." lanjutnya.
 
Di tahun 1980 an ke atas mengalami pergeseran hingga tahun 1990. Di masa itu, kata Natsir, akses jalan mulai terbuka, khususnya ke pedalaman. Walau pun tak semulus sekarang. Orang-orang pedalaman Kalbar mulai beralih menggunakan jalur darat. Tapi untuk komoditi barang seperi hasil bumi atau komoditi lainnya, masih banyak menggunakan jasa Kapal Bandong sebagai sarana pengangkutnya. "Harga relatif murah. Barang yang dibawa pun banyak," katanya.
 
Di tahun 1990 ke atas, kata Natsir, masyarakat pedalaman beralih ke transportasi darat. Kapal Bandong mulai ditinggalkan dan mulai langka dari peredaran. Pada era itu, jalan penghubung menuju daerah pedalaman sudah mulai bagus. Waktu tempuh relatif seingkat, sehingga tak sedikit masyarakat yang memanfaatkan jasa transportasi darat untuk mengangkut barang.  "Begitu tahun 1990 ke atas, Kapal Bandong mengalami pergeseran yang signifikan. Kenapa? Bahan bakar menjadi penyebab utama. BBM, khususnya solar mulai langka. Jalan-jalan penghubung mulai bagus, sehingga jarak tempuh lebih cepat. Seperti ke Sintang misalnya, sekarang hanya ditempuh dengan waktu tujuh jam. Sedangkan kalau pakai Kapal Bandong bisa tiga hari," sambungnya.
 
Kenapa dinamai Kapal Bandong? menurut Natsir, ada dua versi yang berkembang di tengah masyarakat. Pertama, sebutan Bandong, berasal dari nama barang yang diangkut waktu itu.

Menurutnya, sebelum dimanfaatkan untuk mengangkut penumpang, kapal ini kerap digunakan untuk mengangkut hasil bumi seperti ubi-ubian. "Barang kali Bandong ini mewakili salah satu nama ubi di sana. Karena ubi ini kan banyak jenisnya, ada ubi jalar dan lain-lain," terangnya.
 
Dia juga berasumsi, nama Bandong berkaitan erat dengan alat permainan tradisional, Keriang Bandong. Menurutnya, selain sebagai alat transportasi, Kapal Bandong juga berfungsi sebagai penerang kala malam, terutama di pinggiran sungai. Hal itu sesuai dengan fungsi Keriang Bandong yang dimainakan saat 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. "Saya kira ada keterkaitan yang sangat erat, antara Kapal Bandong dengan Keriang Bandong," lanjutnya.

Selain Natsir, ada beberapa orang yang pernah merasakan era kejayaan Kapal Bandong. Salah satunya Hendra. Hendra adalah warga Jalan Tanjungpura, Kedamin Hulu (Putusibau Selatan), Kabupaten Kapuas Hulu.
 
Pada sekitar tahun 1990 an. Hendra kecil kerap sekali diajak orangtuanya menggunakan Kapal Banding dari kampung halamannya di Putusibau ke Pontianak.
 
Hendra kini berprofesi sebagai anggota Polisi di Polres Ketapang. Dicerikan Hendra, saat itu ia masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Kebetulan, Hendra memiliki saudara kandung yang tengah mengenyam pendidikan di Pontianak. Setiap bulan sekali, orangtuanya mengajak Hendra pergi ke Pontianak untuk menjenguk saudaranya. “Saya sering diajak orangtua ke Pontianak menggunakan Kapal Bandong. Maklum, waktu itu sungai menjadi satu-satunya jalur transportasi,” kenang Hendra.
 
Menurut Hendra, waktu itu belum ada jalur darat yang menghubungkan Kabupaten Sintang ke Kapuas Hulu. Baru pertengahan tahun 1996, jalan Sintang-Kapuas Hulu dibangun. “Tapi kadang-kadang kami dari Putusibau naik Kapal Bandong hingga Sintang. Kemudian dilanjutkan menggunakan jalur darat menuju Pontianak,” katanya.

Diceritakan Hendra, Kapal Bandong menjadi sarana transportasi utama saat itu. Selain mengangkut penumpang, juga mengangkut sembako dan barang keperluan lainnya. "Kadang-kadang setiap bulan sekali ke Pontianak. Maklum waktu itu belum ada mesin ATM. Jadi kalau abang saya minta uang, kami harus mengantarnya ke Pontianak. Selain bawa uang, juga bawa bahan makanan keperluan abang saya," lanjutnya.

Menurutnya, Kapal Bandong sama seperti kapal-kapal penumpang pada umumnya. Seperti halnya kapal veri yang digunakan masyarakat ke pulau jawa. Bedanya, kata Hendra, Kapal Bandong terbuat dari kayu yang bentuknya menyerupai rumah. "Fungsinya sama seperi kapal pada umumnya. Ada bilik atau kamar, ada kamar mandi. Makan dan minum juga ditanggung kapal," jelasnya.

Kapal Bandong memiliki sejarah yang panjang di Kalimantan Barat. Mulai dari asal usul atau riwayat, era kejayaannya, hingga pada akhirnya kapal yang pernah menjadi moda transportasi utama masyarakat pedalaman Kalbar ini terpinggirkan oleh roda jaman.

Untuk menelusuri kejayaan Kapal Bandong ini, Pontianak Post akan melakukan ekspedisi selama 15 hari dengan menggunakan Kapal Bandong. Mulai dari Pontianak hingga ke Kapuas Hulu.

Ekspedisi akan dimulai pada Kamis (7/4) dini hari dengan menggunakan Kapal Bandong Cahaya Borneo. Dengan eksepedi ini diharapkan, bisa membantu menambah referensi tentang keberadaan Kapal Bandong, yang kini mulai langka menghiasi sungai-sungai di Kalimantan Barat.**

 

Liputan Khusus: 

Berita Terkait