Menikmati Kopi Tubruk hingga Memotret Diri Sendiri

Menikmati Kopi Tubruk hingga Memotret Diri Sendiri

  Selasa, 24 November 2015 08:54
MALAM: Kota Tua di malam hari menyajikan pemandangan menarik .MIRZA AHMAD MUIN/PONTIANAKPOST

Hiruk pikuk aktivitas malam Kota Tua Jakarta jadi pemandangan menarik. Seakan tak pernah bosan melihat bangunan tua berarsitektur Belanda yang mengelilingi, bukti sejarah cikal bakal Jakarta di masa lalu. Suasana tempo dulu semakin terasa tatkala menyeruput kopi tubruk khas Jakarta dan secuil kue kering Batavia Cafe. MIRZA AHMAD MUIN, Jakarta

ANGIN malam terasa menyentuh sampai ke kulit. Sepertinya malam itu akan turun hujan dikarenakan cuaca juga sedikit mendung. Angin sepoi menyambut di Kota Tua, kawasan Museum Sejarah Jakarta, dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi, di Jalan Taman Fatahillah.

Mendung tidak memengaruhi niat melihat Kota Tua di malam hari. Ada rasa waswas karena stigma Kota Tua yang rawan aksi kriminal. Beberapa teman ragu untuk berkunjung, khawatir menjadi korban aksi pelaku kejahatan. Tapi toh, malam itu kami berangkat juga. Tiba di Kota Tua jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas.

Ada yang berbeda ketika tiba di Kota Tua. Cerita orang tentang stigma tidak aman berubah. Bahkan, makin larut, aktivitas warga di Kota Tua kian ramai. Mendung tak menyurutkan langkah peminat wisata menikmati magisnya Kota Tua dengan segala cerita heroiknya. Para pedagang masih menggelar dagangan. Mereka menjual aneka cemilan, hingga minuman penghangat tubuh. Pengunjung kian betah ditambah pernak pernik Kota Tua yang ditawarkan khas Jakarta.

Kawasan emperan dan tepian jalan bangunan tua dipilih pedagang untuk menghampar dagangan. Sebagian penjaja makanan justru memilih membentangkan tikar plastik di tengah lokasi gedung tua. Sehingga menambah nyaman memandangi arsitektur bangunannya bergaya abad ke-17 bergaya neoklasik dengan cat kuning tanah, kusen pintu dan jendela dari kayu jati berwarna hijau tua.

Tak ayal, ramainya masyarakat yang wara wiri di lokasi tersebut menjadikan suasana Kota Tua di waktu malam selalu dipenuhi pengunjung. Entah mereka hanya sekadar jalan-jalan, ber-selfie ria, atau ingin menikmati jajanan khas Jakarta di malam hari bersama orang tercinta.

Rupanya demam selfie juga dimanfaatkan secuil orang kreatif untuk meraup rupiah. Di lokasi tersebut sekira ada tujuh sampai delapan orang yang berdandan layaknya mirip hantu kuntilanak, sundel bolong, tuyul, ondel-ondel, none belanda, sampai seperti presiden pertama Indonesia Soekarno. Untuk bisa ber-selfie, mereka tak mematok tarif mahal. Cukup sukarela sudah bisa berfoto berlatar gedung tua. Hasilnya, banyak masyarakat tertarik untuk mengabadikan momen bersama para palsu itu.

Setengah jam mengelilingi Kota Tua, langkah lalu tertuju ke gedung tua yang masih beroperasi di malam hari. Namanya Batavia Cafe. Terangan cahaya lampu disekitaran cafe ditambah beberapa pelayan yang berdiri di luar cafe mengajak minat pengunjung masuk ke dalam café dengan bangunan arsitektur tempo dulu.

“Tempat ini jadi pilihan bagi pengunjung ketika menikmati suasana malam di kota tua. Makanya aku ajak kamu ke sini. Konsepnya tempo dulu. Akan lebih terasa jadul apabila menikmati Kopi tubruknya dengan suasana yang tak jauh beda dengan bangunan yang sebenarnya di masa lalu, dijamin juara,” ucap Wulan yang menemani kami berkeliling di Kota Tua itu.

Bangunan café ini terdiri dari dua lantai. Kami memilih lantai dasar yaitu di bar sebagai tempat santai sambil melihat band penghibur melantunkan tembang-tembang hits tempo dulu. Diketahui rupanya di bar Café Batavia pernah mendapat penghargaan bar terbaik tahun 1996. Memang tak bisa dipungkiri café ini cocok bagi pelancong untuk menikmati suasana tempo dulu di Jakarta.

Terkenalnya kopi khas Pontianak terasa sekali ketika dinikmati. Rupanya, di Batavia Café juga menawarkan kopi khas. Namanya kopi tubruk. Secangkir kopi itu justru beda cara penyajian. Jika di Pontianak secangkir kopi disuguhkan dengan gelas kecil. Namun berbeda disini, kopi disajikan menggunakan secangkir gelas besar untuk satu orang. Bisa dikatakan satu gelas dapat di minum berdua.

Aroma kopi hitam itu terasa berbeda ketika dinikmati pertama kali. Berbeda dengan rasa kopi Pontianak, kopi tubruk ini juga cocok diminum saat cuaca dingin. Terlebih ditemani satu kue kering khas zaman Belanda, sekanan membawa kembali ke puluhan tahun silam.

Dituturkan Wulan, sebelum menjadi Batavia Café, konon tempat ini dibangun selama 45 tahun, pada tahun 1850 digunakan sebagai kantor administrasi zaman VOC. “Bangunan ini juga menjadi bangunan tertua ke dua di Taman Fatahillah setelah Museum Sejarah Jakarta. Tak heran banyak pelancong datang ke sini,” jelasnya.

Wulan mengungkapkan, memang bagi wisatawan lokal harga menu di café Batavia cukup mahal, namun kunjungan ke sana, bukan semata untuk makan dan minum saja. Melainkan daya jual dari sisi histori kawasan tua itu sendiri. Saksi sejarah yang tidak dapat dinilai dengan uang. Makanya ketika ke Jakarta ini menjadi salah satu tujuan pelancong.(*)