Menikmati Daya Tarik Ganda Rumah Buku Cimot

Menikmati Daya Tarik Ganda Rumah Buku Cimot

  Minggu, 15 November 2015 09:13
RISTA/JAWA POS

Berita Terkait

Tanpa Penamaan Ruang, Setiap Sudut Adalah Buku

 

Rumah Baca Cimot dibangun dari material sisa. Yang ke sana tak hanya bermaksud mencari buku. Ada yang bertanya tentang desain arsitektur, ada yang menjadikannya bakal skripsi, tetapi ada pula yang sekadar ingin berfoto.

 

RISTA R. CAHAYANINGRUM, Jogjakarta

 

MEMASUKI Rumah Baca Cimot, semua konsep lama tentang rumah sebaiknya ditanggalkan dulu. Sebab, rumah panggung dua lantai itu tidak mengenal penamaan ruang berdasar fungsi tertentu. 

Jadi, tak ada ruang tamu, ruang makan, atau ruang keluarga di lantai 1 kediaman pasangan Yoshi Fajar Kresno Murti dan Maria Adriani tersebut. Loteng atau lantai 2 rumah di Jalan Tomat, Dusun Dukuh, Sinduharjo, Sleman, Jogjakarta, itu pun multifungsi.

Dijadikan tempat tidur saat malam meski tanpa sekat kamar. Siangnya bisa untuk ruang bersantai atau membaca buku. ”Rumah tradisional ya seperti ini. Tidak ada batasan ruang,” kata Yoshi ketika ditemui Selasa lalu (10/11).

Menurut pria gondrong tersebut, penamaan hanya akan memarginalkan suatu ruang tertentu. Misalnya, tangga ditempatkan di pojok ruangan. Atau, kamar mandi diposisikan paling belakang.

Jadi, di kediamannya, semua aktivitas bisa dilakukan di mana saja. Misalnya, Yoshi dan Rere –sapaan Maria– bebas meletakkan kursi tamu di sembarang tempat. Ada yang di beranda, di antara rak buku, di bawah tangga, hingga dekat pintu toilet.

”Senyamannya mereka (tamu, Red) mau duduk di mana saja. Di kursi bisa, di beranda silakan, atau mau langsung ke dapur bikin kopi sendiri juga boleh,” ujar Yoshi.

Yang mendominasi rumah milik suami-istri yang sama-sama arsitek itu adalah buku. Jumlah rak pustaka di rumah yang ditempati sejak April lalu tersebut justru lebih banyak ketimbang perabot rumah tangga.

Di lantai dasar, lima rak buku setinggi 2 meter berjajar mulai pintu masuk hingga ruang tengah. Bahkan, di ruangan yang mungkin bisa disebut sebagai dapur pun diletakkan beberapa buku. ”Untuk teman ngopi,” ucap Yoshi.

Total sekitar 4 ribu buku dengan beragam tema tersebar di berbagai sudut rumah tersebut. Seluruhnya bisa diakses siapa saja. Namun, harus dibaca di tempat, tidak boleh dipinjam.

Dengan daya tarik ganda berupa keunikan rumah dan ketersediaan bacaan itu, jadilah Rumah Baca Cimot tidak pernah sepi pengunjung. Tamu datang silih berganti.

Ada yang berkunjung untuk bertanya-tanya tentang desain arsitektur. Ada yang ingin menjadikan Rumah Baca Cimot bakal skripsi. Ada pula yang mencari referensi buku, bahkan sekadar ingin berfoto.

”Biasanya yang ke sini pasti minta difotokan. Kami juga tidak keberatan jadi juru foto dadakan hehehe,” terang Yoshi.

Rumah Baca Cimot sejatinya masih termasuk rumah baru. Yoshi dan Rere menempati rumah tersebut pada April. Sejak menikah pada 2010, mereka memang belum memiliki rumah sendiri. Yoshi dan Rere hanya mengontrak rumah kecil di daerah Bantul.

Pengujung 2014, mereka sepakat membangun rumah sendiri. Rumah tersebut dibangun di atas lahan kosong seluas 200 meter di Dusun Dukuh.

Menurut Yoshi, dirinya dan istri sepakat membeli lahan tersebut bukan karena lokasinya strategis atau harganya murah. Tapi, karena kucing mereka, si Cimot, menyukai pemandangan sawah. ”Cimot kalau sudah lihat sawah betah banget,” ujar dia.

Sayang, ketika rumah belum 100 persen berdiri, kucing yang sudah sepuluh tahun menjadi peliharaan Yoshi itu meninggal. ”Kami menamai Rumah Baca Cimot karena ingin mengenang kucing kami itu,” katanya.

Bukan hanya nama dan desain yang tak lazim, material yang digunakan untuk membangun rumah tersebut juga sarat cerita. Pria yang saat ini bekerja di Indonesian Visual Art Archive (IVAA) itu mengungkapkan, kediamannya dibangun dari material sisa. Ada yang hasil pemberian rekan, ada pula yang didapat dari tempat loak.

Yoshi mencontohkan beranda rumahnya. Balkon Rumah Baca Cimot tersusun dari kayu-kayu yang panjangnya tidak simetris. Menurut Yoshi, ketidaksimetrisan itu disebabkan kayu yang digunakan merupakan material bekas. Persisnya dari susunan kayu geladak perahu.

Pria 38 tahun itu menuturkan, awalnya, dirinya datang ke toko bangunan untuk membeli besi rangka. Di toko tersebut dia melihat perahu tidak terpakai yang sudah usang.

”Terus, saya tanya, dijual apa enggak. Kalau iya, harganya berapa. Ternyata suruh ambil karena cuma mau dijadikan kayu bakar,” ujarnya.

Selain untuk beranda, kayu bekas perahu tersebut digunakan untuk membangun tangga. Bagian perahu yang digunakan adalah lambung kapal.

Selain itu, semua pintu dan jendela Rumah Baca Cimot merupakan kayu-kayu kuno.

Ada yang diberi orang. Namun, ada juga yang hasil barter. Misalnya, Yoshi mendesainkan rumah seorang rekan. Sebagai bayaran, rekan tersebut memberi dia perkakas kuno.

Selain rumahnya sendiri, jejak karya arsitektur pria kelahiran 1 Maret 1977 itu bisa ditemukan di sejumlah tempat. Di Jogjakarta, ada beberapa rumah komunitas hasil tangan dinginnya. Di antaranya, Taman Tino Sidin dan Rumah Baca LKiS. Juga, home stay Panji Langkawi di Malaysia.

Nah, kendati tak mengenal penamaan ruang di rumah mereka, dalam kasus tertentu, Yoshi dan Rere tentu tak bisa menghindar dari ”penyebutan”. ”Misalnya, sedang mencari handphone, jika ada di dapur, ya langsung sebut dapur. Nggak perlu dengan deskripsi di ruang lantai 1, di sisi barat, di atas meja yang biasanya untuk memasak hehehe,” terang alumnus Jurusan Arsitektur, Universitas Atma Jaya, Jogjakarta, itu.

Begitu pula akses terhadap rumah dan buku-bukunya. Mereka tentu tidak bisa 100 persen ’’memberikan’’ rumahnya untuk umum sepanjang waktu. Mereka hanya menerima kunjungan sesuai janji.

”Kalau benar-benar untuk umum, kami tidur di mana nanti,” kata Rere.

Dengan kondisi saat ini pun, perempuan kelahiran 25 Desember 1982 tersebut mengaku sudah kehilangan privasi. ”Pas lagi tidur ternyata ada yang datang mau lihat-lihat kamar, ya akhirnya bangun,” imbuh Rere yang berprofesi dosen arsitektur di Universitas Islam Indonesia (UII) itu. (*/c10/ttg)

Berita Terkait