Menikahi Saudara Mendiang Pasangan

Menikahi Saudara Mendiang Pasangan

  Sabtu, 17 September 2016 10:28

Berita Terkait

Ketika pasangan hidupnya meninggal dunia, tak sedikit yang memilih menikah lagi. Bagaimana jika yang akan dinikahi itu saudara dari mendiang pasangan? Tentunya beragam tanggapan bermunculan atas keputusan ini. Tetapi, jika itu sudah menjadi keputusan, semua pendapat yang muncul harus disikapi dengan bijaksana.

 
 

Oleh :Marsita Riandini

 

Rasa sedih tentu menyelimut hati seseorang yang ditinggal pasangannya kehadapan Tuhan. Ada yang memerlukan waktu yang lama untuk bisa menikah lagi. Tetapi ada pula yang bertemu jodoh dalam waktu relatif singkat.

Saat memilih pasangan hidup baru, banyak hal yang menjadi pertimbangan. Lantas bagaimana jika pasangan yang dipilih itu adalah saudara mendiang istri atau suami?

Yuni Djuachiriaty S. Psi, M. Si mengatakan bahwa menikah dengan siapapun itu adalah jalan hidup seseorang, termasuk ketika ternyata ia menikah dengan saudara iparnya. Hal ini bergantung siatuasi dan kondisi yang dihadapi seseorang.

“Istilah dalam masyarakat dikenal dengan sebutan turun ranjang. Hal ini tidak masalah asalkan satu sama lain sudah mempertimbangkannya baik-baik dan memahami tujuan dalam menikah,” ujar psikolog di Rumah Sakit Jiwa Daerah Sungai Bangkong, Kalbar ini.

Keputusan untuk menikahi pasangan yang baru bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika sang calon adalah saudara dari mendiang istri atau suami. Ada berbagai faktor yang kadang membuat orang ragu. Salah satunya tanggapan dari orang lain, baik itu keluarga maupun tetangga.

“Pandangan positif dan negatif itu pasti ada. Tinggal bagaimana pasangan tersebut menyikapi pemikiran negatif orang lain terhadap keputusan mereka,” jelasnya.

Selain itu, mudah tidaknya seseorang menikah lagi setelah pasangannya meninggal tergantung situasi dan kondisi yang dihadapi. Ada yang sulit untuk membuka hati kepada orang lain karena rasa cinta dan sayangnya terhadap pasangannya itu, sehingga dia tetap memilih menyendiri. Dia tidak mau posisi mendiang pasangannya tergantikan oleh yang lain. Ada pula yang rasa cinta besar terhadap mendiang istri atau suaminya, namun dengan berbagai pertimbangan memutuskan menikah lagi. Diantaranya pertimbangan anak, urusan rumah tangga, tak ada teman berbagi, maupun hal lainnya.

Yuni menyarankan agar tetap fokus membangun kehidupan rumah tangga bersama pasangan baru, jika sudah menikah lagi. Tak perlu sibuk memikirkan omongan orang lain. Sebab Anda sudah memilih untuk menjalani hidup dengan saudara mendiang istri. 

“Ada kalanya harus menutup telinga atas komentar-komentar orang lain. Apalagi jika itu membuat motivasi menurun, dan berpengaruh pada kehidupan rumah tangga. Sebab yang menjalani rumah tangga adalah pasangan tersebut, bukan orang lain. Nyaman atau tidaknya tentu mereka yang menjalani,” ujarnya.

Tak hanya pandangan keluarga dan tetangga, anak-anak pun membutuhkan waktu untuk bisa menerima kehadiran ibu atau ayah barunya, sekalipun orang tersebut adalah om atau tantenya.

“Ini juga menjadi tantangan bagi om atau tantenya untuk menganggap anak tersebut menjadi seperti anaknya sendiri. Memang tidak mudah, terutama penyesuaian dari yang tadi memanggil om atau tante, harus berubah menjadi mama atau papa. Apalagi jika anak masih merasa sedih dengan kepergian salah satu orang tua mereka,” terang Yuni.

Jangan paksakan anak ketika mereka belum siap untuk mengubah panggilan om atau tante menjadi ayah atau ibu. Tak ada salahnya meminta anak-anak memanggil dengan sebutan yang berbeda agar dia merasa mendiang ibu atau ayahnya tidak tergantikan. “Misalnya jika dia manggil mama untuk ibu kandungnya, maka untuk tante yang menjadi ibunya bisa dengan panggilan bunda atau mami,” paparnya.

Jangan pula menyamakan pasangan yang baru dengan mendiang istri atau suami. Sekalipun mereka adalah saudara, tetap saja tidak bisa disamakan.

“Kembar saja yang lahir dari rahim yang sama dengan ibu dan ayah yang sama, tetap berbeda. Memang ada kesamaan yang terjadi karena mereka adalah saudara, tetapi tetap ada perbedaan. Jadi terimalah perbedaan-perbedaan itu, sebab keduanya memang bukan orang yang sama,” urainya.

Yuni menyarankan sebaiknya alasan menikahi pasangan, terutama jika dia adalah saudara mendiang istri atau suami bukan karena fisiknya sama, ataupun sifatnya yang sama. Menikahlah karena memang saling mencintai.

“Menikahlah karena memang bisa menerima kekurangan dan kelebihannya sehingga bisa menerima pasangan apa adanya. Tidak membanding-bandingkan,” pungkasnya. **

 

 

 

Berita Terkait