Mengunjungi Yeremias Aougust Pah, Maestro dan Perajin Sasando

Mengunjungi Yeremias Aougust Pah, Maestro dan Perajin Sasando

  Kamis, 12 November 2015 10:44
MAESTRO: Yeremias Aougust Pah menunjukkan sasando karyanya yang dibuat di rumahnya (29/10). Secara turun-temurun, keluarga Pah melestarikan alat musik petik khas Pulau Rote itu. Hilmi Setiawan/Jawa Pos

Membuat dan memainkan sasando bagi keluarga Yeremias Aougust Pah bukan sekadar urusan seni-budaya. Tapi, lebih dari itu, mempertahankan jati diri keluarga mereka yang sudah turun-temurun.M. HILMI SETIAWAN, Kupang

Petikan lagu Bolelebo menyambut kedatangan rombongan delegasi Festival Melanesia di kediaman Yeremias. Rumah dengan teras luas itu berada di Jalan Timor Raya km 22, Desa Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang.Kanan dan kiri rumah berbahan kayu itu cukup tandus. Hanya daun kelapa dan pohon lontar yang menjadi pewarna halaman rumah Yeremias.Setelah suguhan lagu Bolelebo, acara dilanjutkan dengan tarian foti dan tai benuk. Dua tarian itu memiliki semangat yang sama. Yaitu, menunjukkan rasa sukacita atas anugerah dari Tuhan Yang Mahakuasa. Dua tarian itu diikuti pukulan alat musik sejenis kenong yang terus bertalu-talu.

Setelah tarian sambutan selesai, Yeremias dengan ramah mengajak delegasi Festival Melanesia berkeliling rumahnya. Delegasi festival itu berasal dari Timor Leste, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Fiji, dan Kaledonia Baru. Sayang, delegasi dari negara Vanuatu absen dari festival budaya pengikat negara-negara Melanesia itu.
Teras rumah menjadi titik pertama Yeremias untuk mengenalkan sasando. Di sebuah rak bersusun empat, tertata rapi alat musik petik yang khas dengan bentuk melengkungnya itu. Di bagian atas, ada sasando sungguhan yang bisa digunakan untuk bermain musik. Sasando tersebut juga dijual dengan banderol Rp 1,5 juta sampai Rp 2,5 juta. Harga menyesuaikan ukuran.

Kemudian, di susunan rak bagian bawah, ada replika sasando untuk cenderamata. Harga sasando mainan itu bervariasi, mulai Rp 50 ribu hingga Rp 600 ribu. Sasando replika tersebut dibuat dari daun lontar dan ada kawat di bagian tengahnya. ”Tapi, yang replika ini tidak bisa digunakan untuk main musik,” terang Yeremias.Ketika ramai pengunjung, keluarga besar itu bisa mengantongi penghasilan hingga Rp 30 juta per bulan. Selain di rumah, sasando juga bisa dijual lintas daerah melalui pemesanan online atau via telepon. Mereka menjamin pengiriman aman, tidak sampai merusak fisik sasando.

Selain membuat sasando, pria kelahiran Rote, 20 Oktober 1939, itu membikin topi ti'i langga. Topi khas Kupang tersebut terbuat dari daun lontar, sama dengan sasando. Topi itu melengkung di kedua sisi. Lalu, di bagian atas, persis di atas kening, ada jambul. Yeremias menjelaskan, jambul di topi tersebut melambangkan bahwa manusia selalu ingat kepada Tuhan.
Bapak sepuluh anak itu lantas mengajak rombongan untuk melihat ”dapur” usahanya membuat sasando. Lokasi pembuatan sasando menempel persis di sisi kiri rumah. Bengkel tersebut cukup sederhana. Dindingnya terbuat dari bambu dan lantainya masih berupa tanah. Ukurannya 3x5 meter. Aneka perkakas seperti gunting, obeng, dan tang tertata rapi di sebuah meja kayu yang berukuran 1x2 meter.Atas dedikasinya sebagai seniman dan perajin sasando, Yeremias dianugerahi gelar maestro (seniman senior) oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (kini Kementerian Pariwisata) pada 2007. Setahun sebelumnya, suami Dorce Pah itu mendapat penghargaan sebagai pelestari dan pengembang warisan budaya oleh Kemenbudpar. ”Saya bisa ketemu dan bermain sasando langsung di depan Pak SBY,” katanya dengan bangga.

Yeremias menyatakan, untuk membuat satu alat musik sasando, diperlukan waktu sekitar lima hari. Dalam membuat sasando, dia dibantu enam anak laki-lakinya. Selain itu, ada warga sekitar yang ikut membantunya. Tetapi, setelah itu, banyak yang keluar dan membuat usaha rumahan serupa di tempat lain.
Dia tidak mempermasalahkan meski usaha sasandonya ditembak orang lain. Dia lebih mengambil nilai positifnya. Yaitu, tradisi membuat sasando bisa meluas.
Terkait dengan pelestarian kebudayaan atau tradisi, Yeremias memiliki pandangan hidup. Yaitu, biarlah pohon sudah tumbang, tapi serabut akar masih bisa tumbuh lagi. Maksudnya, tidak masalah suatu saat nanti dia tak bisa berkesenian sasando, tapi tradisi itu harus bisa diteruskan oleh orang lain.

Jika ditarik ke belakang, Yeremias sendiri menjadi ”akar serabut” yang meneruskan tradisi berkesenian sekaligus perajin sasando. Dia menceritakan awal mula kemunculan sasando pada 1700-an. Saat itu yang kali pertama memainkan sasando adalah Lunggi Lain dan Ballo Aman. Mereka berdua adalah warga Rote yang bekerja sebagai penggembala sapi.Permainan musik sasando sempat mati suri. Pada masa berikutnya, sekitar 1875, alat musik sasando kembali hidup. Sasando terus berkembang sampai memiliki 28 kawat senar.

Orang pertama yang memainkan sasando setelah mati suri itu adalah Tuan Pah. Tuan Pah saat itu menjabat sekretaris kerajaan di Rote. Dia merupakan buyut Yeremias. Dari Tuan Pah itu, lahir seorang anak yang bernama Aougust Pah. Lalu, Aougust Pah memiliki anak yang bernama Yeremias Aougust Pah.Sebagai generasi penerus seniman sasando, Yeremias tidak lupa untuk menurunkan keahliannya kepada anak-anaknya. Di antara anak Yeremias, Jeagril Pah (anak ketiga) begitu mahir memainkan sasando. Pria yang akrab disapa Jack itu tidak hanya mahir memainkan sasando untuk lagu-lagu tradisional NTT. Kemarin dia juga membawakan lagu All of Me milik John Legend dengan petikan sasando. Tepuk tangan meriah langsung menyambut atraksi Jack.
Jack mengaku sudah bermain sasando pada usia 12 tahun. Namun, dia baru merasa mahir sekali ketika menginjak umur 20 tahun. ”Saya saat SD sebenarnya sudah bisa main sasando,” kata pria 34 tahun itu.
Momen paling berkesan bagi Jack terjadi saat dirinya duduk di kelas VI SD. Saat itu dia diundang untuk bermain sasando di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dalam rangka Hari Anak Nasional. Kala itu ratusan anak diundang ke ibu kota. ”Saya bermain sasando di depan Pak Harto (Presiden Soeharto, Red),” tutur dia.Saat ini Jack dan bapaknya tidak hanya bermain sasando di dalam negeri. Dengan bakat alam bermain sasando yang dimiliki, Jack sering diundang untuk bermain sasando di luar negeri. Beberapa negara yang pernah dia singgahi untuk bermain sasando adalah Singapura, Malaysia, Jepang, dan Tiongkok. Untuk alat musik sasando sendiri, ada yang terjual hingga Spanyol.

Sasando yang sering dimainkan Jack saat ini semakin berkembang. Contohnya, sasando sudah memiliki 31–32 kawat. Perinciannya, 13–14 kawat menghasilkan melodi dan 16–17 kawat digunakan untuk bas. Jumlah kawat itu tidak paten, melainkan sesuai selera. Senar kawat untuk bas berada di bagian bawah. Sementara senar melodi berada di atas. Selain itu, alat musik sasando juga sudah bisa disambungkan langsung ke sound system.Di tengah upayanya melestarikan sasando, Yeremias mengatakan bahwa ada tantangan tersendiri. Di antaranya, event kebudayaan dari pemerintah tidak berkelanjutan. ”Orientasi pemerintah terhadap kebudayaan masih bersifat proyek-proyek,” kritik dia. Untung, dia masih sering menerima order bermain musik sasando saat ada keluarga yang menggelar hajatan pernikahan. (c11/end)