Mengunjungi Danau Lindung Pangelang di Kapuas Hulu. Dijaga Dua Rumpun Suku hingga Polisi Danau

Mengunjungi Danau Lindung Pangelang di Kapuas Hulu. Dijaga Dua Rumpun Suku hingga Polisi Danau

  Kamis, 25 February 2016 07:59
TRADISIONAL: Warga Teluk Aur mengangkat pengilar, sebuah alat tangkap tradisional yang turun temurun digunakan para nelayan di Desa Teluk Aur, Kapuas Hulu.AGUS PUJIANTO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Bermula dari keprihatinan berkurangnya tangkapan ikan, warga Teluk Aur, Kabupaten Kapuas Hulu berinisiatif melindungi sebuah danau. Hasilnya mencengangkan. Sekali panen bisa menghasilkan berton-ton ikan. AGUS PUJIANTO, Kapuas Hulu

“Pokoknya kami jaga dari pagi sampai malam. Dari malam sampai siang,” ujar Petrus Jamal saat berbicara dalam dialek Iban yang kental. Saya sempat bingung mencermati detail pembicaraan Petrus. Beruntung, ada yang bisa berbahasa Iban, sehingga sangat membantu dalam menyampaikan pertanyaan dan memahami jawaban.

Petrus Jamal, merupakan Ketua Danau Lindung II dari belah Komunitas Iban, tepatnya ada di Dusun Jaung I, Desa Teluk Aur, Kecamatan Bunut Hilir, Kapuas Hulu. Di Desa ini, terbagi menjadi tiga dusun, yakni Puring merupakan dusun yang terletak di pinggiran Kapuas, dihuni oleh komunitas Melayu, dengan jumlah penduduknya 879 jiwa.

Sedangkan dusun Jaung I dan Jaung II representasinya pemukiman Dayak Iban.

Komunitas Iban di Jaung 1 adalah penduduk baru yang bermukim di pinggir danau pangelang. Mereka berpindah dari rumah panjang ke pinggiran danau. Sejak dua generasi, sekitar tahun 1950-an. Cukup mudah untuk menjangkau tempat ini, dengan mengarungi danau, bisa langsung sampai di pemukiman penduduk. Sementara untuk menuju Dusun Jaung II, cukup sulit. Sebab jika musim kemarau, jalur sungai tidak bisa dilewati. Hanya bisa berjalan kaki.

Jam baru menunjukkan pukul 08.15. Speedboat berkekuatan 40 PK yang kami tumpangi membelah Kapuas dengan kecepatan tinggi. Melewati anak sungai hingga akhirnya menembus Danau Pangelang. Desir terpaan angin kencang, ditambah riak air akibat terbelah badan speed menambah suasana sejuk.

Sekitar 15 menit membelah aliran sungai dan danau, kami tiba di perairan dangkal dan sempit. Lebarnya hanya cukup untuk satu badan speedboat, tidak lebih. Dari tekstur tanahnya, sepertinya aliran sungai kecil ini buatan tangan manusia.

Bakar, warga Dusun Puring menahkodai kendaraan air kami itu mulai pelan memelintir setang gas. Celah sempit itu harus sangat berhati-hati. Salah sedikit saja, badan speed bisa menabrak tebing tanah, atau bahkan akar pohon. Baru 50 meter masuk, kami berpapasan dengan perahu motor. “Kita angkat, tepikan tarik ke samping,” pinta Ismail.

Kami lalu bergegas turun. Lalu menarik badan speedboat ke samping. Setelah diangkat, perahu motor yang berpapasan dengan kami, bisa lewat. Kami pun melanjutkan perjalanan.Semakin masuk, celahnya semakin besar, bahkan tembus ke sebuah aliran sungai berwarnah keclokatan.

Puas mengarungi aliran sungai, akhirnya kami tiba di dermaga Dusun Jaung II. Suasanya sepi. Hanya ada dua perahu dan satu speedboad yang tertambat di dermaga. Pola permukiman, sama persis dengan di Dusun Puring. Hampir semua rumah, terhubung dengan satu jembatan kayu. Segera saja saya berlari melewati jembatan gantung yang menyebrangi sungai, sebelum sampai di rumah betang.

Rumah Betang, biasa juga disebut Sahank dalam artian panjang itu, merupakan rumah khas suku Dayak di Kalimantan. Rumah panjang artinya: Ruangan memanjang, dengan bilik (kamar) yang saling berhubungan, mirip seperti apartemen berlantai satu yang di bangun di atas tiang pancang dengan ketinggian yang bervariasi, antara 4-8 meter. Banyaknya bilik (kamar) bisa sampai 15-30, sesuai dengan jumlah kepala keluarga yang tinggal.

Sementara Ketua I, dijabat oleh Ibrahim, dari komunitas melayu di Dusun Puring. Puring, mayoritas dihuni sub suku Melayu. Ini dapat dilihat dari pola pemukimannya: Ruang tamu dibuat memanjang.Sementara ruang keluarga cenderung sederhana.antara keduanya, hanya dibatasi oleh pintu. Hal ini, merujuk pada sistem kekerabatan yang masih kental. Di mana, rumah bagi mereka hanya kamar, sedangkan selebihnya, milik semua orang.

“Kami di sini memang kerjasama antara Islam dan Kristen, Dayak dan Melayu di bidang apapun,” kata Petrus Jamal, yang juga menjabat Kepala Dusun Jaung I.

Danau Lindung Pangelang, begitu warga menamainya. Bermula dari kelangkaan ikan, warga sepakat untuk melindungi danau tersebut.  Danau sepanjang empat kilometer itu, tidak semuanya dilindungi. Akan tetapi dibagi menjadi tiga zona: ekonomi, pemanfaatan terbatas dan zona lindung.

Zona ekonomi, untuk keperluan sehari-hari. Zona pemanfaatan terbatas untuk keperluan masyarakat. Sedangkan zona lindung, wilayah ini dipanen setahun sekali.

“Panjangnya danau lindung ini, 800 meter, dan lebarnya 200,” kata Abu, satu di antara anggota ‘Polda’. Maksudnya ‘polisi danau’.  Yakni warga yang secara sukarela bertugas menjaga kawasan danau. Tidak ada tanda khusus yang membedakan zona ini. Hanya berupa tiang pancang dari kayu.

Ibrahim, Ketua Danau Lindung I mengungkapkan, sebelum dilindungi, kawasan itu merupakan zona bebas. Dalam arti bebas dipukat, dan dijala. Akibatnya, mengalami kelangkaan ikan, akibat eksploitasi besar-besaran. Sadar tangkapan ikan semakin berkurang, sejumlah tokoh masyarakat dan warga dari ketiga dusun memutuskan untuk melindunginya.

“Hasil dari musyawarah ketiga dusun, kami sepakat melindungi danau. Kemudian kami ajukan ke Dinas Perikanan Kapuas Hulu,” kata Ibrahim.

Usulan melindungi danau itu disambut baik. Kemudian terbentuklah Danau Lindung berdasarkan Surat Keputusan Bupati tahun 2007. Bukan saja sepakat melindungi, warga tiga dusun itu juga membuat aturan adat, untuk penguatan lindung dan menjaga ikan. Bukan itu saja, dibuat juga kelompok pengawas masyarakat (Pokwasmas) dan polisi danau. Kelompok inilah, yang setiap harinya menjaga dan melindungi adat. (*)

 

Berita Terkait